Oleh: Ahmad Hosaini *)
Ibnu ‘Ajibah mengutip pendapat Imam ar-Razi yang menyebutkan bahwa jiwa manusia (nafs insaniyah) adalah substansi ruhani yang bercahaya, jika ia terhubung dengan tubuh, cahayanya terpancar ke seluruh anggota tubuh, dan itulah kehidupan.
Kemudian, pada saat tidur, keterhubungan jiwa terputus dari bagian dhahirnya tubuh (fisik luar), namun tidak dengan bagian dalamnya (hati/nyawa).
Sedangkan pada saat mati, keterhubungannya terputus baik dari bagian fisik luar (dhahirnya badan) maupun dalam tubuh. Maka, mati dan tidur berasal dari jenis yang sama dalam hal ini (terputusnya hubungan jiwa), namun mati adalah terputusnya hubungan secara total (penuh), sedangkan tidur adalah terputusnya hubungan secara parsial (kurang/sebagian).
Disebutkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Dalam diri anak Adam terdapat jiwa (nafs) dan roh (ruh), di antara keduanya seperti pancaran sinar matahari. Jiwa adalah tempatnya akal dan pembeda/pemahaman (tamyiz), sedangkan roh adalah tempat pergerakan dan napas. Jika seorang hamba tidur, Allah menahan jiwanya (diambil sementara) dan tidak menahan rohnya (tetap bernapas).”
Sementara dalam hadits sahih dijelaskan:
إن الله قبض أرواحنا حيث شاء، وردها حيث شاء
Artinya: “Sesungguhnya Allah menahan roh-roh kita sesuka-Nya, dan mengembalikannya sesuka-Nya.”
Maka (hadits tersebut) mengaitkan penahanan (kematian/tidur) pada roh. Dan yang benar bahwa jiwa dan roh dalam konteks ini adalah satu, berdasarkan firman-Nya:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِها وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنامِها فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرى إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذلِكَ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: “Allah memegang jiwa (النفس) pada saat kematiannya dan (memegang) yang belum mati ketika dia dalam keadaan tidur. Dia menahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar: 42). (Ibnu Ajibah, Tafsir al-Bahr al-Madid jilid 5, jaami’u al-Kutub al-Islamiyah. ketabonline.com. hal.83).
Jiwa dalam hal ini ada dua. Ada yang disebut jiwa tamyiz wal ‘aql, ada yang disebut jiwa al-Harakah wal-hayah. Jiwa tamyiz wal ‘aql biasanya diartikan adalah jiwa yang mempunyai kemampuan untuk berpikir rasional dan logis, memahami dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya.
Sementara jiwa hayah wal harakah adalah jiwa yang menyebabkan adanya kehidupan dan pergerakan pada manusia. Jika jiwa tersebut digenggam oleh Allah, maka manusia akan mati.
Ketika yang digenggam hanya nafs ‘aql dan tamyiz , maka orang akan tidur saja. Ketika dilepas lagi terbangun dari tidurnya. Namun, jika yang digenggam adalah jiwa al-Hayah wal-harakah , maka ia akan mati karena yang digenggam adalah dua jiwa sekaligus yaitu nafs al-Hayah wal-harakah dan juga nafs tamyiz wal ‘aql- nya.
Dalam hal ini ada pembelajaran yang berarti bagi yang beriman dan mampu menggunakan akalnya. Jika Allah dapat mengembalikan nafs tamyiz wal ‘aql- yang ada di genggaman-Nya saat manusia tidur, sehingga dapat bangun atau sadar kembali, maka begitu juga pasti mudah bagi Allah membangkitkan manusia nanti di hari kiamat.
Dalam isyarah Ibnu ‘Ajibah bahwa Allah yang menggenggam jiwa-jiwa yang suci itu ke khadrah-Nya yang Maha Suci (حضرة قدسه), pada saat nafsu itu telah mati dari hawa nafsunya.
Dan menggenggam jiwa-jiwa yang belum saatnya mati dari keinginan-keinginan dunianya (masih terikat) di penjara alam semesta dan struktur dirinya saat ia tidur lalai dalam (beribadah) mengingat Allah.
Maka Dia menahan (jiwa) yang telah ditetapkan kematiannya di hadrah-Nya Yang Maha Suci, sehingga tidak mengembalikannya ke persaksian hadrah bayang-bayang (alam fisik/dunia), dan melepaskan jiwa yang lain untuk berkelana di hadrah bayang-bayang dan lembah dunia, hingga waktu yang ditentukan, baik mati hakiki/fisik maupun mati maknawi/nafsu. Jika sebelumnya telah ada “perhatian” (عناية – inayah/bimbingan Allah) terdahulu. (Ibnu Ajibah, Tafsir al-Bahr al-Madid. hal. 84).
Jiwa yang disucikan adalah jiwa yang lepas dari ikatan hawa nafsunya. Ia berada dalam pengawasan Allah. Sementara jiwa yang masih terikat dengan keinginan duniawi, maka ia bagaikan terpenjara di bayang-bayang alam semesta.
Jadi, orang yang totalitas penghambaannya pada Allah seperti orang mati karena nafsnya dipasrahkan kepada Allah dan inilah orang-orang pilihan. Akan tetapi, orang yang belum selesai dengan nafsunya, nafsnya masih ada di penjara semesta ini, masih ada dalam tubuh yang kadang-kadang masih berulah dan berlebih-lebihan dalam segala hal, maka jiwanya ibarat tidur karena lalai dalam mengingat Allah.
Perlu menjadi perhatian bahwa jangan sampai hanya fisik kita yang hidup, tapi jiwanya mati. Bisa saja orangnya hidup berjalan, tapi jiwanya mati tidak memiliki respon secara akal sama sekali.
Sama halnya juga dengan orang yang lalai dalam dzikir dan wirid atau lupa dalam mengingat kebesaran dan kekuasaan Allah, maka ia ibarat jiwanya tertidur lelap. Ia bagaikan berada dalam angan-angan penjara dunia yang fatamorgana.
Sementara kalau jiwa kita berada dalam kasih Allah, maka hidupnya terasa nyaman dan aman karena semua urusan adalah milik-Nya.
Semua masalah yang terjadi merupakan takdir-Nya. Kita hanya berusaha menjadi baik sebelum masalah itu terjadi dan ingat bahwa tidak ada masalah yang abadi. Selama kita tidak lari dari masalah dan menghadapinya dengan lapang dada, maka yang terjadi kehidupannya bagaikan surga.
Menggema dalam hatinya hanyalah dzikir, lisannya basah dengan mengingat Allah. Pikirannya dipenuhi dengan tafakur dan perilaku dan tindakannya berorientasi pada amal shaleh.
Hidupkan jiwa kita dengan iman, hiasi perjalanan kita dengan ilmu pengetahuan dan tekadkan segala urusan menjadi amal (tindakan positif). Inilah tanda kehidupan jiwa manusia. Jiwa aql wal tamyiz nya berjalan dengan baik dan jiwa hayah wal haraqah nya menjadi optimal. Wallahu A’lam.
*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Santri Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

