Oleh: Ahmad Hosaini *)
Kajian tentang Basmalah tidak ada habisnya. Ia cukup menarik dan maknanya sangat dalam. Sampai-sampai Sayyidina Ali mengatakan:
لو طويت لي وسادة لقلت في الباء من بسم الله الرحمن الرحيم وقر سبعين بعيرا
Artinya: “Seandainya bantal (tempat bersandar) disiapkan untukku (seandainya diberi kesempatan), niscaya aku akan menjelaskan makna huruf Ba’ pada ‘بسم الله الرحمن الرحيم’ sebanyak 70 beban unta.” (Sayyid Abi Bakr bin I’anathut Thalibin, Beirut, Daarul Kutub Al-Ilmiyah, hal. 7).
Ungkapan metaforis ini menunjukkan betapa luasnya ilmu yang bisa dihasilkan dari penjelasan huruf Ba’ (ب) tersebut. Nah, kali ini akan dibahas tentang Basmalah melalui pendekatan ontologi dalam filsafat.
Ontologi biasanya dikenal dengan ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada. Ontologi dari bahasa Yunani yaitu ontos (yang ada/wujud) dan logos (ilmu).
Ada yang menyebutkan sebagai the theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Fauz Noer menyebutkan permasalahan ontologi terangkum dalam lima masalah: Yang Ada (Being), Yang Nyata (Realitas), Esensi dan Eksistensi, Kemajemukan (Pluralitas), dan Perubahan. (Fauz Noer, Tapak Sabda. hal. 75).
Diriwayatkan bahwa seluruh kitab yang diturunkan dari langit (kutubus al-samawaat) ke bumi itu berjumlah 104 kitab, diturunkan kepada Nabi Syiit 60 Kitab, kepada Nabi Ibrahim 30 kitab, kepada Nabi Musa sebelum kitab Taurot sebanyak 10 kitab, dan Injil, Zabur, dan Al-Qur’an.
Dan seluruh makna kitab tersebut dikumpulkan di dalam Al-Qur’an, kemudian seluruh makna Al-Qur’an dikumpulkan dalam surat Al-Fatihah sehingga surat ini disebut dengan Ummul Al-Kitab.
Kemudian seluruh makna surat Al-Fatihah dikumpulkan dalam lafadz Bismillah. Dan seluruh ma’na Bismillah dikumpulkan di dalam ba’-nya lafadz Bismillah dan maknanya adalah:
بي كان ماكان بي يكون مايكون
Artinya: “Dengan sebab Aku (kekuasaan Allah) apa yang telah ada menjadi ada, dan dengan sebab Aku apa yang akan ada, pas akan ada.”
Kemudian sebagian ulama menjelaskan bahwa makna Basmalah terkandung dalam huruf Ba’ (ب), dengan alasan bahwa tujuan dari semua ilmu adalah sampainya hamba kepada Tuhan.
Huruf Ba’ ini mengandung makna ilshaq (الإلصاق/penempelan), yaitu:
تلصق العبد بجانب الرب
Artinya: “Menempelnya seorang hamba di sisi/hadirat Tuhan.”
Sebagian ulama menambahkan: Dan makna huruf Ba’ itu ada pada titiknya (نقطة), maknanya adalah:
انا نقطة الوجود المستمد مني كل موجود
Artinya: “Aku adalah titik eksistensi (pusat yang ada), yang dari-Ku bersumber segala yang ada.” (Khasyiyah I’anathuttalibin, Beirut, Daarul Kutub Al-Ilmiyah, hal.7-8).
Menempelnya seorang hamba di sisi Allah tidak bermakna وحدة الوجود (panteisme) karena menempel itu bukan menyatu.
Ini bermakna butuhnya seorang hamba pada Tuhan karena seluruh hidupnya bergantung pada-Nya atau berserah diri penuh pada Allah atas usaha yang dilakukannya.
Namun, interpretasi ini semua dibantah oleh Hamka bahwa bagaimana akan disimpulkan bahwa huruf ba’ (ب) itu terkumpul pada titik yang ada di bawahnya, padahal baik di zaman Rasulullah SAW atau di waktu Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan mengumpulkan Al-Qur’an ke dalam satu mushaf, ataupun selanjutnya setelah Ustman bin Affan memerintahkan membuat Mushaf Al-Imam sebagai mushaf yang resmi sampai sekarang, pada ketiganya itu huruf ba’ belum bertitik.
Huruf-huruf Al-Qur’an termasuk huruf ba’ baru diberi titik pada zaman pemerintahan Abdul Malik bin Marwan Khalifah ke-5 Bani Umayyah atas buah fikiran daripada Wali Negeri Irak, Al-Hajjaj bin Yusuf.
Jadi, kata Hamka penafsiran seperti itu tidak mempunyai dasar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan menurut Al-Quran dan Hadits serta dirayah atau riwayat ahli-ahli tafsir yang mu’tamad. Itu hanyalah hayal semata. (Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al-Azhar Jilid 1, hal. 63-64).
Akan tetapi, yang dimaksud titik huruf ba’ (ب) dalam basmalah tersebut bukan tanda titik yang ada di bawah huruf ba’ (ب), tapi titik yang pertama kali ditulis oleh Pena (al-Qalam) atas perintah Allah di Lauhul Mahfudz.
Maka, awal titik ini disebut dengan starting poin (titik awal) penciptaan alam semesta. Ia juga disebut sebagai asal segala yang ada termasuk menjadi pusat ilmu-ilmu Allah. Segala yang ada berasal, berpusat dan bersumber pada-Nya.
Ini bisa dijadikan rasionalisasi untuk menjawab pertanyaan dalam ontologi, apa penyusun terkecil alam ini? Penyusun terkecil alam ini adalah titik huruf ba’ yang biasa disebut An-Nuqthah (النقطة) atau bagian terkecil dari materi yang biasa disebut dengan atom (a = tidak, tom = dibagi: atom artinya tidak bisa dibagi) ketika (titik ba’) pertama kali ditulis dalam Lauhul Mahfudz. Ini masih bersifat spekulatif karena kebenaran tertinggi dan mutlak ada pada Allah.
Dalam Basmalah, kita secara tidak langsung sudah mengenal Allah SWT untuk menjawab pertanyaan dalam ontologi siapa pencipta alam ini?. Allah sebagai Yang Ada Pertama yang ada-Nya tidak didahului dengan adanya yang lain. Yang tidak pernah tidak ada setelah ada. Ada selama-lamanya dan tidak diakhiri dengan adanya yang lain.
Adanya yang lain disebabkan karena adanya Allah. Tidak boleh dibalik karena Allah tidak membutuhkan bukti untuk menunjukkan ada-Nya, sedangkan adanya yang lain atau adanya alam semesta dan manusia ini butuh sebab atau dalil untuk menunjukkan adanya. Kata Ibnu Athaillah kapan Allah itu tidak ada sehingga membutuhkan bukti (dalil) untuk menunjukkan ada-Nya?.
Menurutnya sangat jauh berbeda orang yang berdalil adanya Allah menunjukkan adanya yang lain dengan orang yang mengatakan adanya alam semesta atau adanya manusia ini menunjukkan adanya Allah. Yang pertama menunjukkan orang yang sudah dekat atau wushul (sampai) pada Allah, sedangkan yang kedua mereka jauh dari Allah.
Padahal sejak di sekolah-sekolah kita sering mendengar pernyataan bahwa adanya alam ini menunjukkan adanya Allah. Ini cara pandang yang keliru secara filosofis karena adanya Allah adalah wajib (واجب الوجود) yang tidak tergantung dengan adanya yang lain, sedangkan adanya makhluk adalah mungkin adanya dan mungkin juga tidak adanya (ممكن الوجود) karena makhluk adanya tergantung dengan adanya Allah. Sekali lagi jangan dibalik karena itulah Ibnu Athaillah mengatakan:
شَتَّانَ بَينَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيِهِ .المُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الحَقَّ لأَهْلِهِ، فأَثْبَتَ الأَمْرَ مِنْ وُجودِ أَصْلِهِ. وَالاسْتِدْلالُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الوُصولِ إليَهِ. وَإلّا فَمَتى غابَ حَتّى يُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ؟! وَمَتى بَعُدَ حَتّى تَكونَ الآثارُ هِيَ الَّتي تُوْصِلُ إلَيْهِ؟!”.
Artinya: “Sangat jauh perbedaan antara orang yang berdalil dengan-Nya (menjadikan Allah sebagai bukti adanya makhluk) atau berdalil atas-Nya (menjadikan makhluk sebagai bukti adanya Allah). Orang yang berdalil dengan-Nya (menggunakan Allah sebagai bukti), dia mengetahui kebenaran bagi pemiliknya (Allah), maka ia menetapkan segala perkara dari wujud asalnya (Allah). Sedangkan berdalil atas-Nya (mencari bukti adanya Allah melalui makhluk) adalah karena tidak sampainya (ia) kepada-Nya. Kalau tidak demikian (bukan karena kurangnya iman), kapan Allah pernah tidak ada sehingga harus dibuktikan? Dan kapan Dia pernah jauh sehingga jejak-jejak (butuh perantara makhluk) yang harus mengantarkan untuk sampai kepada-Nya?” (Abdul Majid As-Syarnubi, Syarah Al-Hikam Al-Athaiiyah, Beirut, Daar Ibn Katsir hal. 40).
Hikmah di balik Allah SWT memulai Basmalah dengan huruf Ba’ (ب) bukan huruf lainnya, serta menggugurkan Alif (ا) dari kata ‘Ism’ (اسم) dan menggantinya dengan huruf Ba’, adalah karena Ba’ merupakan huruf syafawi (bibir) yang membuka bibir dengan cara yang tidak bisa dilakukan huruf lain. Oleh karena itu, awal pembukaan mulut jiwa manusia (dzarrah) pada saat perjanjian ‘Alastu bi Rabbikum’ (ألست بربكم) adalah dengan huruf Ba’ saat menjawab ‘Balaa‘ (بلى – Ya/Tentu), dan bahwasanya huruf Ba’ tersebut selalu dikasrah (dibaca ‘Bi’).
Maka ketika pada huruf tersebut (huruf Ba’ pada Bismillah) terdapat tanda kasrah (tanda baca bawah) serta kerendahan hati dalam dimensi bentuk dan maknanya, ia mendapatkan kemuliaan kedekatan dari Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya (dalam hadits qudsi):
أنا عندَ المُنكسرةِ قلوبُهمْ
Artinya: “Sungguh Aku bersama orang-orang yang pecah/remuk hatinya (rendah hati) karena Aku.”
Berbeda dengan huruf Alif, yang di dalamnya terdapat kesan angkuh, sombong, dan menjulang, oleh karena itu (Alif) digugurkan.” (Hasyiyah I’anathut Thalibin, hal.8-9).
Kita kadangkala bertanya, mengapa tulisan “بسم الله” menggunakan Ba’ (ب) dan membuang Alif (أ)nya? Padahal itu asalnya ada alif (اسم). Jawabannya bisa kita temukan bahwa tanda kasrah di bawah huruf ba’ (ب) melambangkan kerendahan hati yang disukai Allah, sedangkan Alif umumnya melambangkan keangkuhan.
Maka, sifat rendah hati tidak boleh bergandengan dengan kesombongan. Dari itulah kemudian salah satu alasannya kenapa alifnya dibuang.
Ini realitas yang tidak terbantahkan bahwa kita sebagai manusia butuh pada Allah dan tidak boleh berlaku sombong. Kesombongan hanya milik Allah.
Maka, untuk sampai pada Allah dan merasa dekat dengan-Nya harus membuang jauh-jauh ego keakuan yang ada dalam diri kita. Inilah salah satu interpretasi basmalah dalam ontologi Islam. Wallahu A’lam.
*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Santri Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

