Image Slider

Teguhkan Akidah dan Rawat Toleransi, Fatayat NU Lenteng Kupas Tafsir Surat Al-Kafirun

Lenteng, NU Online Sumenep

Dalam upaya meneguhkan akidah sekaligus merawat sikap toleransi, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Lenteng menghadirkan kajian Tafsir Surat Al-Kafirun melalui program podcast Karomah, Jumat (27/02/2026) di kantor setempat. Kajian ini mengulas makna teologis dan sosial Surat Al-Kafirun dalam perspektif kitab The Qur’anything karya KH. Isma’il Al-Ascholi.

Kajian tersebut disampaikan oleh Nyai Wahidatul Widad dengan gaya penuturan reflektif dan argumentatif.

Mengawali kajian, Nyai Widad menegaskan bahwa Surat Al-Kafirun merupakan surat yang meskipun pendek, namun menyimpan kedalaman makna dan multi-tafsir.

“Secara kasat mata surat ini sederhana. Tapi justru karena kesederhanaannya itu, ia menyimpan keluasan makna yang luar biasa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebagian ulama menganggap surat ini sebagai surat yang tegas bahkan terkesan keras, sebab memuat pernyataan pemisahan yang jelas terhadap kaum kafir.

Namun di sisi lain, ada pula yang melihatnya sebagai representasi toleransi dalam Islam. “Ketika Allah berfirman, lakum diinukum waliyadiin, itu bukan sekadar penolakan, tapi juga penegasan batas. Islam tidak mencampuradukkan akidah, namun tetap memberi ruang eksistensi,” terang Nyai Widad.

“Qul” sebagai Penegasan Wahyu
Salah satu poin penting yang disoroti adalah keberadaan lafaz qul di awal ayat: Qul yaa ayyuhal kafiruun. Menurutnya, ini menunjukkan bahwa seluruh redaksi surat tersebut adalah firman Allah yang disampaikan secara utuh oleh Nabi Muhammad SAW.

“Siapa yang mengatakan ‘wahai orang-orang kafir’? Itu bukan inisiatif pribadi Nabi. Itu perintah Allah. Karena itu kata qul tetap dibaca. Nabi hanya menyampaikan,” tegasnya.

Ia menambahkan, panggilan “yaa ayyuhal kafiruun” pada konteks awal turunnya ayat secara spesifik tertuju kepada tokoh-tokoh musyrik Quraisy seperti Walid bin Mughirah, ‘Ash bin Wa’il, Aswad bin Abd Muthallib, dan Umayyah bin Khalaf.

“Mereka ini sudah mentok dalam kekufuran. Maka bahasa yang digunakan pun sangat tegas,” jelasnya.

Kekuatan Pilihan Kata
Dalam podcast tersebut, Nyai Widad juga mengupas aspek kebahasaan sebagaimana disinggung oleh para mufassir, termasuk pendekatan yang digunakan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya ketika meninjau pilihan diksi Al-Qur’an.

Ia menjelaskan perbedaan antara bentuk jamak dalam bahasa Arab seperti kafirun dan bentuk jamak lainnya seperti kuffar.

“Pemilihan kata dalam Al-Qur’an itu pasti disengaja. ‘Kafirun’ memberi kesan orang yang sedang dalam kondisi kafir-kafirnya, seakan kekufuran itu sudah mengakar kuat,” paparnya.

Selain itu, penggunaan fi’il mudhari’ dalam ayat laa a’budu maa ta’buduun menunjukkan komitmen berkelanjutan.

“Maknanya bukan hanya sekarang saya tidak menyembah apa yang kalian sembah, tapi juga tidak akan pernah. Ini deklarasi komitmen akidah,” imbuhnya.

Benteng Akidah dan Penjaga Keimanan
Nyai Widad juga mengingatkan bahwa dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW kerap membaca Surat Al-Kafirun berpasangan dengan Surat Al-Ikhlas, baik dalam shalat maupun sebelum tidur.

“Dua surat ini disebut sebagai benteng akidah. Ia bukan lagi menjadi serangan kepada orang lain, tapi perlindungan bagi diri sendiri dari syirik dan pencampuradukan agama,” tuturnya.

Ia turut menyinggung riwayat tentang anjuran membaca lima surat ketika bepergian, termasuk Al-Kafirun, sebagai bentuk ikhtiar spiritual memohon kecukupan bekal.

“Islam itu unik. Kadang rahasianya tidak selalu bisa kita logikakan. Tapi di situlah letak kepasrahan dan iman kita,” katanya.

Penegasan, Bukan Kebencian
Menutup podcast, Nyai Widad menekankan bahwa Surat Al-Kafirun bukanlah legitimasi untuk membenci, melainkan penegasan identitas dan konsistensi akidah.

“Surat ini mengajarkan keberanian dalam beriman. Walau sendirian, walau semua orang berbeda, komitmen itu harus tetap dijaga,” pungkasnya.

Melalui podcast ini, Fatayat NU Lenteng berharap generasi muda, khususnya kader perempuan Nahdlatul Ulama, mampu membaca Al-Qur’an tidak hanya secara tekstual, tetapi juga kontekstual dan reflektif, sehingga lahir keimanan yang kokoh sekaligus sikap sosial yang bijak.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga