Oleh: Ahmad Hosaini *)
Manusia terdiri dari dua entitas yang tak terpisahkan. Saling terikat antara yang satu dengan yang lainnya.
Salah satunya tidak ada, maka itu adalah kematian. Dua entitas tersebut adalah ruh/jiwa dan jasad. Di dalam jiwa manusia ada beberapa tingkatan atau kita bisa menyebutnya dengan tingkatan jiwa insaniyah.
Jiwa-jiwa tersebut pada hakikatnya adalah satu. Namun, berbeda tingkatan dalam kecenderungan pada suatu keadaan atau perbuatan.
Hal ini sebagaimana yang disebutkan Ibnu Ajibah bahwa jiwa itu ada empat: Ammarah, Lawwamah, Mulhimah, dan Mutmainnah.
Padahal hakikatnya adalah satu jiwa yang berevolusi dan berubah dari satu keadaan ke keadaan lain, berdasarkan “takhliyah” (pembersihan dari akhlak tercela, dosa, perilaku negatif, dan penyakit hati lainnya) dan “tahliyah” (pengisian dengan akhlak terpuji dan perilaku yang positif), serta “tarqiyah” (kenaikan derajat berkat penyucian jiwa) dan “tardiyah” (penurunan ego dan keakuan diri agar siap menerima cahaya dan ridho Allah).
Asalnya adalah ruh, ketika ia terzalimi disebut Nafsul Ammarah, kemudian Lawwamah, kemudian Mulhimah, lalu Mutmainnah. (Ibnu Ajibah, Tafsir Al-Bahr Al-Madid jilid 7, Jami’u al-Kutub al-Islamiyah. ketabonline.com) hal.187.
Mengelola jiwa insaniyah dalam diri manusia itu sangat penting agar kita hidup sukses baik di dunia maupun akhirat.
Hanya jiwa amarah yang perlu kita rawat (maintenance) agar berfungsi dengan baik karena cenderungnya selalu mengajak pada hal-hal yang tidak baik atau berbau perilaku negatif seperti melakukan kejahatan, berpikir sempit, suka dengan maksiat dan perilaku tercela lainnya. Dalam Al-Qur’an disebutkan
وَما أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ ما رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yusuf : 53).
Nafsu amarah ini dalam tafsir Ibnu Ajibah disebutkan bahwa sesungguhnya nafsu itu benar-benar memerintahkan kepada keburukan (maksiat) sedemikian rupa sehingga ia cenderung secara alami kepada syahwat (hawa nafsu), berniat melakukan keburukan tersebut, dan menggunakan seluruh kekuatan serta anggota tubuh untuk mencapainya setiap waktu.(Ibnu Ajibah, tafsir Bahrul Madid jilid 2, hal.606).
Jika ada upaya yang terus menerus untuk melakukan kejahatan, berorientasi pada perilaku negatif, maka sebisa mungkin kita mencegahnya agar itu tidak terjadi. Pencegahan bisa dilakukan dengan mujahadah (bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu) dan riyadhah (latihan spiritual/rohani melalui ibadah dan amalan yang baik).
Yahya bin Mu’adh al-Razi berpendapat bahwa perangilah hawa nafsumu dengan pedang latihan jiwa (riyadhah), dan riyadhah itu ada empat aspek: mencukupkan diri dengan makanan (sedikit makan), sedikit tidur, sedikit bicara (hanya seperlunya), dan menahan sabar atas gangguan semua manusia.
Sedikit makan, akan menyebabkan matinya syahwat/hawa nafsu. Sedikit tidur dapat menjernihkan tekad/niat. Sedikit bicara dapat menyelamatkan dari berbagai bencana/dosa lidah. Sedangkan sabar menahan gangguan (manusia), akan memudahkan tercapainya tujuan (keridaan Allah). (Imam Al-Ghazali, kitab Ihya Ulumuddin, Daar ibn hazm, Beirut 2005 hal. 948).
Riyadhah itu berkonotasi positif tidak negatif, bentuknya aktif bukan pasif, sehingga riyadhah akan melahirkan sifat optimis bukan pesimis.
Di dalamnya ada kesungguhan tekad dalam menyelesaikan sesuatu. Ada upaya untuk bergerak maju dan berperilaku positif. Ada yang menarik yang disampaikan Winston Churchill:
A pessimist sees the difficulty in every opportunity; an optimist sees the opportunity in every difficulty.
Artinya: “Orang yang pesimis melihat kesulitan dalam setiap peluang, sedangkan orang optimis melihat peluang dalam setiap kesulitan.”
Orang yang optimis cenderung melihat penyebab kegagalan atau pengalaman negatif sebagai sesuatu yang sementara bukan permanen, spesifik tidak global, dan eksternal bukan internal.
Perspektif seperti itu memungkinkan orang yang optimis untuk lebih mudah melihat kemungkinan adanya perubahan. (https://www.psychologytoday.com).
Optimis akan melahirkan ketenangan dan menghilangkan stres. Ia akan memancarkan sikap yang positif dan membuang jauh-jauh perilaku negatif atau akhlak yang buruk.
Akhlak yang buruk karena dihantui perasaan yang negatif pada orang lain sehingga menyebabkan keretakan hubungan antara sesama manusia itu hal yang berdosa. Nabi Muhammad SAW bersabda:
سُوءُ الْخُلُقِ ذَنْبٌ لا يُغْفَرُ وَسُوءُ الظَّنِّ خَطِيئَةٌ تَفُوحُ
Artinya: “Akhlak yang buruk adalah dosa yang (sulit) diampuni, dan prasangka buruk adalah kesalahan yang menebarkan bau busuk”. (Ihya Ulumuddin hal. 933).
Bahkan sayyidina Umar bin Khattab menganjurkan kita bergaul dengan sesama menggunakan perilaku yang positif. Sebagaimana bahasa beliau:
خالطوا الناس بالأخلاق وزايلوهم بالأعمال
Artinya: “Bergaullah dengan manusia menggunakan akhlak (yang baik), dan bedakanlah dirimu dari mereka dengan amal (perbuatan/ibadah).” (Ihya Ulumuddin, hal. 933).
Kemudian Ibnu Ajibah memberikan isyarah yang cukup baik dalam ayat di atas (sebelum dan sesudah surah Yusuf ayat 53) terdapat tiga faedah:
Pertama, sanjungan bagi yang bersikap tenang/pelan-pelan (taa’nni) dalam segala urusan, meskipun itu urusan penting, karena hal tersebut menunjukkan sempurnanya akal, ketenangan jiwa, dan ketenteraman hati.
Sebaliknya, mencela ketergesa-gesaan karena ia berasal dari ringannya akal (kurang akal), kecerobohan, serta kurangnya kesabaran dan daya tahan. Hal ini diambil dari sikap tenangnya Nabi Yusuf AS di dalam penjara setelah masa yang panjang. Dan dalam hadis disebutkan:
“Ketenangan itu datangnya dari Allah, sedangkan ketergesa-gesaan itu dari setan”. (Ibnu Ajibah, Tafsir Al-Bahr Al-Madid jilid 2) hal 606.
Kedua, jiwa yang saat melakukan salah atau perbuatan dosa lalu kita sadar bahwa itu salah dan menyesali perbuatan itu, maka itu disebut jiwa lawwamah. Disebutkan dalam Al-Qur’an:
وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
Artinya: “Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah: 2).
Isyarat dalam Ibnu Ajibah bahwa nafsu lawwamah memiliki kedudukan yang lebih agung di sisi Allah, karena ia mulanya bersifat lawwamah (mencela pemiliknya atas keburukan), kemudian menjadi mulhimah yaitu mengilhamkan kebaikan dan ilmu-ilmu ladunni, kemudian menjadi muthmainnah (tenang), ketika ia tenang dengan menyaksikan al-Haq (Allah) tanpa perantara.
Ia bahkan menjadikan Allah sebagai dalil (petunjuk) untuk melihat selain-Nya, sehingga ia tidak melihat apa pun selain-Nya.
Saat itulah ia kembali ke asalnya, dan mengembalikan segala sesuatu ke asalnya, yaitu ke-Qadim-an (keabadian awal) dan ke-Abadi-an, sehingga yang baru (hadis) akan lenyap dan yang Qadim (Allah) akan tetap Esa (tunggal), sebagaimana Dia dulunya Esa (tunggal). (Ibnu Ajibah, Tafsir al-Bahr al-Madid jilid 7, Jami’u al-Kutub al-Islamiyah. ketabonline.com) hal187.
Ketiga, jiwa yang paling tinggi kedudukannya adalah jiwa muthmainnah yaitu jiwa yang selalu tenang dalam setiap keadaan.
Jiwa yang tidak panik dalam menghadapi persoalan dan jiwa yang berorientasi masa depan. Jiwa yang orientasinya hanya Allah semata dan setan tidak akan mampu mengusiknya.
Jiwa yang selalu berada dalam keagungan dan keindahan-Nya serta di akhirat ia akan digiring menuju surga-Nya. Allah berfirman:
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ
Artinya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS. Al-Fajr: 27-30).
Inilah cita-cita orang yang berpengetahuan yaitu mengendalikan jiwa amarah dengan mujahadah dan riyadhah sampai nanti berharap berada pada tingkatan jiwa yang muthmainnah agar sukses dunia dan akhirat. Aamiin.
*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Santri Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

