Image Slider

Refleksi Harlah ke-92 GP Ansor: Menjaga Nyala Idealisme

Oleh : Zainul Hasan )*

Hari ini, 24 April 2026, udara terasa lebih bergetar oleh semangat hijau yang membuncah. Di seluruh pelosok negeri, dari hiruk-pikuk kota hingga keheningan desa seantero Nusantara, kalimat “Selamat Hari Lahir ke-92” bergema untuk Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Organisasi yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama ini menapaki usianya yang ke-92, sebuah tonggak sejarah yang bukan sekadar angka, melainkan bukti ketangguhan dalam mengawal agama, bangsa dan negara.

Momen Harlah GP Ansor selalu menjadi ruang jeda yang puitis sekaligus politis. Puitis karena kita merayakan cinta kepada tanah air; politis karena kita meneguhkan kembali posisi pemuda dalam struktur perjuangan bangsa. Namun, di atas segalanya, Harlah adalah momentum untuk pulang ke rumah “idealisme”.

Ada sebuah adagium klasik yang tak pernah usang: “Pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok”. Namun, GP Ansor harus melampaui itu. Pemuda bukan hanya “cadangan” masa depan, melainkan “aktor utama” hari ini yang menentukan arah masa depan tersebut. Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari meja-meja perundingan yang dingin saja, melainkan dari api idealisme pemuda yang membakar ketidakadilan.

GP Ansor, sebagai organisasi kepemudaan Islam terbesar di Indonesia, memiliki beban sejarah yang mulia. Di pundak para kadernya, terpikul harapan jutaan rakyat. Mengapa harapan itu diletakkan pada pundak pemuda? Karena pemuda adalah pemilik kemurnian berpikir. Di saat dunia seringkali terjebak dalam pragmatisme yang sempit, pemuda adalah kelompok yang masih berani bermimpi dan bertindak berdasarkan prinsip, bukan sekadar kepentingan.

Tantangan terbesar GP Ansor di usianya yang ke-92 adalah menjaga integritas idealisme. Kita hidup di era di mana batas antara kebenaran dan kebohongan seringkali kabur (era post-truth). Kita hidup di masa di mana godaan materi dan kekuasaan bisa datang lebih cepat daripada kematangan jiwa. Di sinilah idealisme Ansor diuji.

Idealisme bagi seorang kader Ansor bukan berarti keras kepala tanpa arah. Idealisme Ansor adalah ketaatan pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Ia adalah moderasi (tawasuth), keseimbangan (tawazun), keadilan (i’tidal) dan toleransi (tasamuh). Menjunjung tinggi idealisme berarti berani berkata “tidak” pada intoleransi, berani berdiri paling depan melawan radikalisme, berani bersikap kritis kepada penguasa dan tetap konsisten menjaga kedaulatan NKRI meski badai fitnah menerjang.

Organisasi ini tidak boleh menjadi sekadar “gerbong kosong” yang ditarik oleh lokomotif kepentingan politik sesaat. GP Ansor harus menjadi lokomotif itu sendiri –lokomotif perubahan yang membawa gerbong-gerbong kemajuan bagi umat. Idealisme adalah bahan bakarnya. Tanpa idealisme, organisasi sebesar apa pun hanya akan menjadi kerumunan tanpa makna.

Para muassis NU dan GP Ansor telah meletakkan fondasi yang kokoh. Mereka berjuang dengan tetesan keringat dan darah untuk memastikan bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang ramah, bukan marah; Islam yang merangkul, bukan memukul.

Harapan kita pada Harlah kali ini adalah agar GP Ansor terus menjadi penjaga gawang dari nilai-nilai tersebut. Perjuangan belum usai. Jika dulu musuh kita adalah penjajah berbaju militer, kini musuh kita lebih kompleks: kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan sosial dan polarisasi digital.

GP Ansor harus hadir sebagai solusi. Kader Banser tidak hanya tanggap dalam pengamanan fisik, tetapi juga harus tanggap dalam pengamanan ideologi dan kesejahteraan. Kader Ansor harus menjadi intelektual yang mengisi ruang-ruang diskusi, menjadi aktifis yang menggerakkan ekonomi umat, dan menjadi pemimpin yang memegang teguh etika.

Dalam perayaan Harlah ke-92 ini, setidakna ada empat harapan besar yang dititipkan. 

Pertama, kemandirian organisasi. Semoga GP Ansor semakin mandiri secara ekonomi dan pemikiran. Organisasi yang mandiri adalah organisasi yang tidak mudah didikte oleh pihak mana pun, sehingga idealismenya tetap terjaga murni.

Kedua, adaptasi teknologi. Sebagai pemuda harapan esok, kader Ansor harus menguasai teknologi tanpa kehilangan jati diri Santri. Dunia digital harus diisi dengan narasi damai dan ilmu yang bermanfaat untuk membendung hoaks.

Ketiga, pengabdian tanpa batas. Teruslah menjadi pelayan umat. Kehadiran Ansor harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, melampaui sekat-sekat organisasi.

Keempat, soliditas barisan. Kekuatan utama Ansor adalah komando yang satu. Tetaplah patuh pada kiai dan pimpinan, namun tetap kritis dalam koridor akhlakul karimah.

Selamat Harlah ke-92 GP Ansor. Usiamu adalah usia perjuangan. Teruslah berkibar di bawah naungan bendera Merah Putih dan panji Nahdlatul Ulama. Kader Ansor adalah pewaris sah semangat para pahlawan.

Jangan pernah biarkan api idealisme itu redup. Jika pemuda sudah kehilangan idealismenya, maka tamatlah riwayat sebuah bangsa. Jadilah pemuda yang tidak hanya pandai merangkai kata, tapi cekatan dalam bekerja. Jadilah pemuda yang tidak hanya menuntut hak, tapi paham akan kewajiban. Karena di tangan GP Ansor, masa depan agama dan bangsa ini diletakkan.

)* Instrukur PD-PKPNU, Sekretaris PCNU Sumenep Masa Khidmat 2020-2025, Ketua Yayasan LPI Nurul Jadid Somber Nonggunong Sapudi Sumenep.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga