Oleh: Dr. Ahmad Hosaini, M.Pd.*
Kita sudah mendiskusikan tentang filosofi tongkat yang akan semakin legitimate manakala tongkat dijadikan sebagai simbol penyerahan mandat kepada pengurus NU saat pelantikan.
Apalagi sampai diiringi dengan lantunan ayat Al-Qur’an yang dibaca Syaikhona Kholil Bangkalan saat menyerahkan tongkat tersebut yaitu surah Thaha ayat 17-21.
Tongkat tersebut juga tidak boleh dimaknai sebagai benda mati karena itu simbol tongkat Nabi Musa yang dapat digunakan untuk tidak tunduk pada kebatilan dan tidak menyerah pada kedzaliman.
Setelah tongkat dihantarkan pada KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1924, maka setelah itu di akhir tahun 1924 M beberapa bulan sebelum Kiai Kholil wafat, lalu tasbih diminta untuk dihantarkan pada KH. Hasyim Asy’ari.
Tasbih sebelum diberikan pada Kiai As’ad, dipatri dulu dg bacaan “Ya Jabbar dan Ya Qahhar”. Itu juga yg ditangkap Kiai As’ad untuk mengamalkannya selama perjalanan.
Namun tasbih yang mau diberikan Kiai Kholil padanya diminta untuk dikalungkan di lehernya. Hal tersebut dilakukan oleh Kiai As’ad agar tidak mengotori tasbih dengan tangannya karena bukan haknya. Ia juga beralasan untuk tidak berani (cangkolang: madura) pada gurunya.
Sejak melaksanakan mandat yang pertama sampai yang kedua, beliau selalu berpuasa dalam perjalanan, tidak makan dan tidak minum serta tidak merokok.
Itulah kehebatan ulama dulu dalam menjalankan amanah. Tanpa disuruh berpuasa, ia melakukannya dengan suka rela. Tanpa diminta untuk tidak bicara, ia melakukannya dengan suka hati. Inilah potret kehidupan santri pada masa lalu. Begitu teguhnya keyakinan yang ia miliki.
Sesampainya di Jombang dan bertemu Kiai Hasyim, beliau haturkan tasbih sebagai amanah dari gurunya.
Ketika Kiai Hasyim bertanya pesan dari Kiai Kholil, beliau menyampaikan sesuai apa yang dibaca gurunya “Ya Jabbar Ya Qahhar”. Seketika itu Kiai Hasyim bergetar hatinya dan menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya buat Kiai Kholil atas kepedulian yang amat besar akan didirikannya Jam’iyatul Ulama dan juga atas sayangnya sang guru padanya.
Kemudian beliau menyampaikan “Barang siapa yang berani sama Jam’iyatul Ulama (maksudnya NU) hancur”.
Pesan di atas cukup sederhana tapi mengandung makna yang cukup dalam. Kalimat tersebut tidak didasari oleh berkecamuknya emosi negatif dalam diri Kiai Hasyim, tapi lebih pada nilai historis berdirinya NU yang tidak hanya berdasarkan pertimbangan ‘aqliyah semata, juga mengandung unsur spiritualitas dan religious. NU tentunya tidak hadir sebagai pelengkap penderita di atas carut marutnya zaman tapi NU harus senantiasa hadir laksana pelita yang selalu setia menyinari bumi.
Apa filosofi tasbih yang diberikan Kiai Kholil?
Pertama, secara sepintas tasbih yang dikalungkan tentunya bukan tasbih digital tapi tasbih yang umumnya terbuat dari kayu entah itu kayu kaukah (kokka), cendana, dewandaru, kalimasada, gaharu dan lain-lain.
Tasbih yang dihantarkan pada Kiai Hasyim tidak disebutkan jenisnya. Namun, tasbih biasanya terdiri dari 99 butir yang melingkar dengan satu penyanggah terkuat dan terbesar. Bisa jadi melambangkan 99 Asmaul Husna (nama-nama Allah yang baik) yang menjadi sifat bagi bagi zat Allah yang Maha Perkasa.
Tasbih yang melingkar tersebut menggambarkan siklus perjalanan hidup manusia di alam ini. Allah adalah awal dan akhir tujuan hidup manusia di mana manusia harusnya sadar bahwa segala sesuatu berasal dan akan kembali pada-Nya (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un).
Butiran tasbih yang tersambung dan menyatu dalam sebuah lingkaran biasanya dibuat dengan ukuran sama dan rapi.
Hal tersebut dapat melambangkan persatuan dalam ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama anak bangsa), kerapian barisan dalam ukhuwah nahdiyah/ Islamiyyah (persaudaraan sesama NU/Islam), dan hubungan persaudaraan dalam ukhuwah basyariyah (kemanusiaan) yang tidak boleh terputus.
Ini yang disebut Trilogi Ukhuwah (persaudaraan) dalam Nahdlatul Ulama (NU) yang dipopulerkan oleh KH Ahmad Shiddiq untuk menjaga keharmonisan beragama, bernegara, dan bermasyarakat.
Tasbih juga dapat membantu menjaga konsentrasi dan fokus dalam berkhidmat, konsistensi dalam perjuangan, keseimbangan lahir batin dalam membangun harakah fikriyah dan amaliyah.
Kedua, iringan ijazah di dalam tasbih itu adalah “ya Jabbar dan ya Qahhar”. “Ya Jabbar” umum diartikan sebagai ya Allah Tuhan Yang Dapat Memaksakan Kehendak-Nya, sedangkan “Ya Qahhar” diartikan sebagai ya Allah Tuhan Yang Maha Perkasa.
Dua nama Allah ini saling berkaitan di mana Tuhan Yang Maha Perkasa-lah yang dapat memaksakan kehendak-Nya karena Dia Maha Perkasa atas segala kekuatan makhluk-Nya. Ini menandakan tidak sembarang dzikir yang dipatri pada tasbih tersebut.
Sebelum memberikan tasbih itu untuk dihantarkan pada KH. Hasyim Asy’ari, Kiai Kholil memegang pucuk tasbih dan dipurut ditarik dari ujung ke ujung dengan bacaan “Ya Jabbar” tiga kali dan ” Ya Qahhar” tiga kali. Ini seperti yang diceritakan Kiai As’ad.
KHR. Achmad Azaim Ibrahimy saat mengijazahkan wirid ini menyebutkan tata cara wirid tersebut dengan pertama kali membaca “Ya Jabbar” 99 kali seperti umumnya wiridan dengan tasbih kemudian baru purut tasbih tersebut tiga kali dengan bacaan “Ya Jabbar” begitu juga dengan “Ya Qahhar”.
Ini juga bagian dari ijazah yang perlu juga diamalkan. Dua dzikir tersebut diyakini sebagai perisai dari bahaya yang sedang mengintai ajaran Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, benteng yang kokoh dari pembenci dan kekuatan yang dahsyat untuk mengalahkan segala bentuk rintangan yang dihadapi NU.
Tidak sedikit bukti yang menunjukkan bahwa mereka yang mengatasnamakan perorangan atau kelompok yang berani menantang dan melawan NU menjadi hancur dan habislah riwayatnya di bumi nusantara ini.
NU didirikan berkat jasa ulama dan auliya. Didirikan dengan pertimbangan hasil istikharah yang bersifat spiritual dan religious, juga melalui puasa dan bertapa.
Sehingga tidak heran melihat perkembangan NU saat ini. Walau mengalami pasang surut tapi tetap berjaya. Walau mengalami serangan yg bertubi-tubi dari segala arah, tapi tetap berdiri kokoh sampai sekarang. Walau diserang dari luar dan dalam, tapi tetap tegak tegap dan gagah. Insya Allah perjuangan NU sejalan dengan ridha-Nya. Amin.
Penulis berpandangan akan lebih menambah bentuk kesakralan bila mana tidak hanya tongkat dan ayatnya, tapi tasbih dan wiridannya “Ya Jabbar dan Ya Qahhar” juga menghiasi prosesi pelantikan pengurus NU dengan tehnis yang dapat ditentukan kemudian.
*Penulis adalah Santri Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

