Image Slider

Isra’ Mi’raj di Nurul Yaqin, Kiai Izzul Muttaqin: Shalat sebagai Modal Kesalehan

Lembaga Pendidikan Yayasan Nurul Yaqin Lembung Barat, Lenteng, Sumenep menggelar peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan penuh khidmat dan semangat religius, Senin (19/01/2026) di Masjid Nurul Yaqin.

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh civitas akademika, mulai dari dewan guru, tenaga kependidikan, hingga para santri dan siswa ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran akan urgensi shalat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi Generasi Z (Gen Z).

Acara diawali dengan pembacaan tawasul, ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan shalawat bersama, serta tausiyah keagamaan yang sarat dengan pesan moral dan spiritual.

Dalam ceramahnya, K. Izzul Muttaqin menjelaskan bahwa shalat memiliki peran strategis dalam membentuk kesalehan pribadi dan sosial.

“Shalat adalah modal kesalehan. Semakin baik shalat seseorang, maka akan semakin baik pula kepribadiannya. Jika pribadi baik, maka kehidupan sosialnya pun akan baik,” jelasnya.

Lebih jauh, Penyuluh Agama Kantor Kemenag Sumenep ini menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj bukan hanya peristiwa sejarah yang agung, tetapi juga menjadi tonggak utama ditetapkannya kewajiban shalat lima waktu sebagai ibadah paling fundamental dalam Islam.

“Shalat adalah modal besar yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya agar mudah meraih pahala, ampunan, rahmat, dan Surga-Nya,” tuturnya.

Shalat, lanjutnya, bukanlah beban, melainkan karunia luar biasa yang memudahkan manusia untuk terus dekat dengan Allah SWT.

“Dengan shalat, seorang hamba memiliki akses langsung untuk memohon ampunan dan mengharap limpahan rahmat-Nya,” kata Bendahara LDNU Sumenep ini.

Shalat yang dilakukan dengan khusyuk dan penuh kesadaran akan membentuk karakter disiplin, jujur, sabar, serta peduli terhadap sesama.

Menurut Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk ini, sulit bagi seseorang mencapai kesalehan sejati jika shalat tidak diperhatikan.

Ia mengutip doa Nabi Ibrahim AS dalam Al-Qur’an: “Rabbi ij‘alni muqîma ash-shalâti wa min dzurriyyatî” (Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku termasuk orang-orang yang menegakkan shalat).

Doa di atas menjadi bukti betapa pentingnya peran orang tua dalam mendukung dan mendoakan anak-anaknya agar menjadi generasi yang peduli terhadap shalat.

“Orang tua dan pendidik memiliki tanggung jawab besar untuk melahirkan Gen Z yang mencintai shalat. Jika shalat sudah menjadi kebutuhan, bukan sekadar kewajiban, maka kesalehan akan mudah dicapai,” tegasnya.

Ia berharap, siswa-siswi Yayasan Nurul Yaqin mampu menjadi generasi yang kuat secara spiritual sekaligus tangguh dalam menghadapi tantangan zaman.

Dalam konteks kekinian, Kiai Izzul Muttaqin juga mengingatkan tentang tantangan besar berupa kelalaian beribadah akibat kecanduan teknologi, khususnya penggunaan handphone (HP).

Ia menyebut bahwa segala sesuatu yang melalaikan manusia dari ibadah pada hakikatnya adalah bagian dari tipu daya setan.

“HP bisa menjadi ‘setan milenial’ ketika membuat kita lupa shalat, lupa belajar, dan lupa kewajiban lainnya,” ujar Dosen Prodi IQT Universitas Annuqayah ini.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa HP bukanlah musuh, melainkan alat yang harus dikendalikan.

“Gen Z harus mampu mengendalikan HP, bukan dikendalikan oleh HP. Gunakan teknologi untuk kebaikan, untuk belajar, berdakwah, dan meningkatkan kualitas diri, bukan sebaliknya,” pesannya.

Peringatan Isra’ Mi’raj di Lembaga Pendidikan Yayasan Nurul Yaqin ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran mendalam bahwa shalat adalah fondasi utama kehidupan seorang muslim.

Dengan shalat yang terjaga, pribadi yang saleh akan terbentuk, lingkungan sosial yang baik akan tercipta, dan generasi muda akan tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, beriman kuat, serta siap menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga