Batuan, NU Online Sumenep
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep melaksanakan ziarah ke makam KH. Abi Sudjak (1885–1948), muassis dan Ketua PCNU pertama NU di Sumenep, di kompleks Pesantren Asta Tinggi, Kebonagung, Sabtu, 24/1/2026. Ziarah ini menjadi ruang refleksi untuk menelusuri kembali jejak khidmah, pemikiran keislaman, dan nasionalisme ulama pendiri NU di Sumenep.
Kegiatan ziarah tersebut dihadiri Pengurus Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Sumenep. Setelah tahlil dan doa bersama M. Halqi Kr., Wakil Ketua PCNU Sumenep sekaligus dosen Ma’had Aly Al-Karimiyah, menuturkan secara ringkas sosok KH. Abi Sudjak sebagai ulama Aswaja yang memadukan keilmuan, spiritualitas, dan perjuangan kebangsaan.
Menurut Halqi, KH. Abi Sudjak merupakan figur ulama moderat yang sejak awal menekankan pentingnya literasi kitab kuning, penguatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah bermazhab Syafi’i, serta pembelaan terhadap tanah air sebagai bagian dari ajaran agama.
“KH. Abi Sudjak menulis kitab Sirajul Bayan li Nawaziliz Zaman sebagai respons terhadap persoalan-persoalan zamannya. Kitab ini menunjukkan bagaimana ulama NU sejak awal sudah terbiasa berdialog dengan realitas, tanpa meninggalkan otoritas keilmuan,” ujar Halqi.
Dalam bidang praktik keagamaan, KH. Abi Sudjak dikenal kuat dalam menjaga dan mengamalkan tradisi Aswaja, seperti maulid Nabi, tawassul, ziarah kubur, dan tahlil, dengan landasan dalil naqli dan aqli yang kokoh. Pendekatan ini menegaskan bahwa tradisi bukanlah praktik tanpa dasar, melainkan ekspresi keberagamaan yang berakar pada keilmuan.
Lebih jauh, Halqi menjelaskan bahwa KH. Abi Sudjak juga menanamkan sikap husnudzon dalam beragama. Beliau mengajarkan agar umat Islam tidak mudah menjadi “hakim” atas praktik keagamaan orang lain, karena pada hakikatnya Allah SWT adalah sebaik-baik Penilai atas iman dan amal hamba-Nya.
Dalam konteks kebangsaan, KH. Abi Sudjak merupakan ulama yang meneguhkan prinsip hubbul wathan minal iman. Pesantren Asta Tinggi tidak hanya menjadi pusat pendidikan keislaman, tetapi juga dijadikan basis pertahanan dan tempat pelatihan laskar santri Hizbullah dan Sabilillah dalam melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Perjuangan ini menunjukkan bagaimana spiritualitas dan nasionalisme menyatu dalam tradisi pesantren NU.
Selain itu, lanjut Halqi, KH. Abi Sudjak dikenal sebagai pengamal Tarekat Alawiyah yang mampu mengintegrasikan dimensi tasawuf dengan perjuangan sosial-politik, menjadikan spiritualitas sebagai energi moral dalam membela agama dan bangsa.
KH. Abi Sudjak wafat pada tahun 1948 dan dimakamkan di kompleks Pesantren Asta Tinggi, Kebonagung, Sumenep. Hingga kini, jejak pemikiran dan perjuangannya terus hidup dalam tradisi Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang berakar kuat pada keilmuan, spiritualitas, dan cinta tanah air.
“Ziarah ini menegaskan bahwa merawat NU bukan sekadar mengelola organisasi, melainkan menyambung sanad perjuangan ulama, agar nilai moderasi, Aswaja, dan kebangsaan tetap relevan menuntun langkah Nahdliyin di tengah tantangan zaman,” pungkas Halqi. (Hd)

