Oleh: Dr. Ahmad Hosaini, M.Pd.*
Tongkat yang bukan sembarang tongkat. Tongkat yang diberikan Syaikhona Kholil Bangkalan melalui Kiai As’ad Syamsul Arifin pada KH. Hasyim Asy’ari adalah simbol tongkat Nabi Musa yang telah ditempa sedemikian rupa dan bisa jadi juga telah diisi dengan energi positif baik melalui puasa atau tirakat atau hal lain sehingga memiliki nilai magis yang cukup luar biasa.
Apalagi sebelum dihantarkan, Kiai Kholil mengangkat tongkat tersebut dengan bacaan ayat Al-Qur’an surah Thaha ayat 17-21:
وَمَا تِلْكَ بِيَمِيْنِكَ يٰمُوْسٰى ١٧قَالَ هِيَ عَصَايَۚ اَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَاَهُشُّ بِهَا عَلٰى غَنَمِيْ وَلِيَ فِيْهَا مَاٰرِبُ اُخْرٰى ١٨قَالَ اَلْقِهَا يٰمُوْسٰى ١٩فَاَلْقٰىهَا فَاِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعٰى ٢٠قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْۗ سَنُعِيْدُهَا سِيْرَتَهَا الْاُوْلٰى ٢١
Artinya: “Apa itu yg ada di tangan kananmu, wahai Musa? Musa berkata, ‘ini adalah tongkatku, aku bertelekan kepadanya, dan aku pukul dedaunan dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan lain terhadapnya. Allah berfirman, ‘ Lemparkanlah tongkat itu, hai Musa!. lalu dilemparkanlah tongkat itu. Maka tiba-tiba menjadi seekor ular yg merayap dg cepat. Allah berfirman, ‘peganglah tongkat itu dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula.” (QS. Thaha: 17-21).
Kiai As’ad membaca ayat tersebut menirukan Kiai Kholil dengan semangat dan suara berapi-api menandakan keseriusan akan maksud dan tujuannya.
Tongkat itu juga tidak hanya dipahami sebatas legitimasi akan didirikannya Jam’iyah Nahdlatul Ulama, tapi ayat yang mengiringinya bisa dipahami juga sebagai ijazah untuk melawan atau tidak menyerah pada kezaliman dan tidak tunduk pada kebatilan.
Risalah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) memang tidak terlepas dari rentetan nilai-nilai spiritual (spritual values) yang mengiringi langkah pendirian dan perjuangannya.
Perjalanan membawa tongkat untuk menunaikan amanah sang guru, As’ad muda pada waktu itu tidak makan dan minum juga tidak merokok hingga sampai kepada KH Hasyim Asy’ari Jombang.
Perjalanan Bangkalan ke Jombang dilakukan dengan berpuasa. Ini juga syarat dengan nilai-nilai spiritual.
Saat Kiai Hasyim Asy’ari tanya maksud dan tujuan tongkat yang diberikan oleh gurunya (Kiai Kholil) tersebut dan dijawab sesuai dengan apa yang diperintahkan sambil membaca ayat yang dibaca Syaikhona Kholil Bangkalan di atas. Kemudian Kiai Hasyim dengan keyakinannya berucap.
“Alhamdulillah nak, jadi saya mau mendirikan Jam’iyatul Ulama, jadi saya mau mendirikan Jam’iyatul Ulama, jadi saya.”
Setelah itu, NU didirikan pada 31 Januari 1926 M bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H di Surabaya, Jawa Timur kurang dari satu tahun setelah Syaikhona Kholil wafat yaitu pada tanggal 29 Ramadhan 1343 Hijriah, yang bertepatan dengan tanggal 23 April 1925 Masehi.
Apa Filosofi dari Tongkat tersebut?
Pertama, perlu diingat bahwa Kiai Kholil tidak memberikan penjelasan maksud dan tujuan tongkat itu diberikan. Begitu juga dengan yang mengantarkan tongkat, ia hanya menjalankan amanah yang diberikan gurunya tanpa bertanya untuk apa karena khawatir su’ul adab.
Namun, yang menerima tongkat mengerti dan memahami yang dimaksud bahwa tongkat itu bagian dari restu atau legitimasi dari pendirian Jam’iyatul Ulama atau yang hari ini dengan nama Nahdatul Ulama (NU).
Dengan demikian, maka untuk konteks saat ini penulis berpandangan mungkinkah kiranya tongkat itu dijadikan sebagai simbol atas mandat yang diberikan kepada pengurus NU mulai dari tingkat atas sampai ke bawah.
Mekanisme dan teknisnya bisa diatur kemudian. Ini bisa jadi diserahkan pada pengukuhan pengurus NU saat pelantikan berlangsung.
Tujuannya adalah untuk menambah kesakralan prosesi pelantikan dan energi bagi pengurus dalam menjalankan amanah yang diberikan.
Bisa juga saat penyerahan mandat yang berupa simbol tongkat tersebut diiringi dengan ayat Al-Qur’an surah Thaha ayat 17-21 di atas.
Kedua, tongkat yang diberikan Kiai Kholil bukanlah tongkat sembarangan. Itu adalah tongkat yang menjadi simbol tongkatnya Nabi Musa yang bukan hanya tongkat yang bermateri kayu semata tapi tongkat yang punya kekuatan dan energi yang luar biasa.
Tongkat yang bukan hanya sebatang kayu biasa, tapi tongkat yang dapat membelah lautan, menyelamatkan mereka yang beriman dan menenggelamkan bagi mereka yang ingkar dan tidak mau beriman.
Tongkat yang dapat merubah bentuk menjadi ular yang sanggup menerka dan memangsa siluman ular-ular penyihir yang ada di depannya. Tentunya dengan seizin Allah pada waktu itu.
Tongkat itu memang mempunyai energi yang luar biasa. Ketika pada waktu Nabi Musa digunakan untuk menandingi dan mengalahkan kekuatan sihir kaum Bani Israil dan melawan kekejaman penguasa Fir’aun.
Maka untuk konteks hari ini, mungkin tongkat tersebut bisa digunakan sebagai simbol untuk mematahkan kerangka gerakan sihir materialisme, sekularisme, kapitalisme, liberalisme, dan komunisme yang tentu hal tersebut tidak sejalan dengan pandangan Islam terutama Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Dapat juga dijadikan sebagai perlawanan bagi penguasa untuk tidak bertindak sewenang-wenang menindas rakyat menggunakan kekuasaannya (abuse of power).
Hal itulah yang mungkin tersirat dari simbol tongkat yang diberikan Kiai Kholil kepada Kiai Hasyim sebagai energi positif bagi perjalanan jam’iyyah Nahdhatul Ulama.
Bagi hemat saya ini terbukti sejak mulai lahirnya sampai sekarang, NU cukup disegani baik oleh kawan maupun lawan.
Tafsir tongkat tersebut juga pernah diceritakan oleh Kiai As’ad bahwa sekitar dua bulan setelah kemerdekaan Indonesia, tongkat tersebut menjadi ular yang mengamuk dan menghabisi penjajah Belanda.
Dianalogikan bahwa pemuda Ansor sebagai tongkatnya Nabi Musa berubah menjadi ular yang makan dan menghabisi ular yang dianalogikan pada penjajah Belanda. Hal tersebut persis seperti dalam ceritanya Nabi Musa.
Dalam sejarahnya penjajah Belanda masuk lagi ke Indonesia pada September 1945. Menyadari akan bahaya yang mengintai NKRI setelah diproklamasikan, maka pemuda-pemudi Nahdhatul Ulama yang dipelopori oleh Ansor tidak tinggal diam.
Mereka memproklamirkan perlawanan mengusir para penjajah Belanda untuk hengkang dari bumi pertiwi ini.
Padahal pada waktu itu alat kelengkapan negara belum lengkap. Belum terbentuk tentara nasional atau ABRI atau TNI. Belum ada senjata yang canggih untuk menandingi kekuatan penjajah.
Namun dengan semangat juang arek-arek Suroboyo akhirnya Belanda dapat dikalahkan. Bahasanya Kiai As’ad bahwa anak-anak Ansor telah menjadi ular yang memangsa Belanda.
Inilah kemudian pemuda Ansor tidak bisa dipisahkan dari pecahnya gerakan 10 November 1945 di Surabaya. Apalagi sebelum itu ada keputusan penting NU tanggal 23 Oktober 1945 dengan deklarasi yang dikenal dengan “Resolusi Jihad” atau jihad fisabilillah.
Tentu resolusi jihad tersebut yang membakar semangat pemuda Ansor dan arek-arek Suroboyo yang lain dalam berperang melawan penjajah Belanda.
Begitu juga saat Ansor dan Banser berperan aktif dalam penumpasan penghianat PKI tahun 1965-1966.
Demikianlah salah satu tafsir dari tongkat tersebut yang sewaktu-waktu bisa menjadi ular untuk meruntuhkan kebiadaban dan kemungkaran. Wallahu A’lam Bisshawab.
*Penulis adalah Santri Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

