Gapura, NU Online Sumenep
Ada yang berbeda saat rombongan Turun ke Bawah (Turba) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur sampai di Kabupaten Sumenep. Pasalnya KH Marzuki Mustamar menjelaskan keunikan santri memakai sarung di berbagai tempat. Sabtu (29/5/2021) di auditorium Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura.
Ketua PWNU Jawa Timur tersebut menjelaskan bahwa sarung adalah simbol perjuangan melawan budaya Barat. Alasan utamanya warga NU memakai sarung adalah bagian dari simpul gerakan rakyat dari akar rumput.
“Mengapa santri dan warga NU memilih memakai sarung dibandingkan dengan celana? Karena sarung multiguna,” katanya sambil bercanda sehingga audien meluapkan gelak tawanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Sabiilul Rosyad, Gasek, Malang itu mendeskripsikan asal-usul sarung dengan humor khas NU, yakni saat musim penghujan, orang Madura serentak memakai sarung dibandingkan menggunakan celana.
“Mengapa orang Madura memakai sarung? Karena saat hujan mengguyur bumi garam ini, jalannya becek. Untuk menghindari najis, nahdliyin tinggal menggulung sarungnya ke atas hingga mendekati lutut,” curahnya, sontak audien tertawa.
Menurutnya, sarung itu seperti pasangan hidup, sehingga aktivitas santri dan warga NU tidak melepaskan sarung sebagai identitasnya.
“Entah saat di pasar, berdagang, bertani, dan lain-lainnya, sarung menjadi pembeda dari budaya lainnya. Yang mana sejak dulu kaum sarungan berkomitmen terhadap kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan ideologi Pancasila dari rongrongan paham asing,” tandasnya.
Pewarta: Firdausi

