Oleh: Dr. Ahmad Hosaini, M.Pd.*
Ijazah Syaikhona Kholil Bangkalan untuk meredam kelompok tertentu yang ingin menghancurkan ajaran Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (ASWAJA).
Ijazah ini diberikan pada saat ulama Nusantara berkumpul di Bangkalan karena cemas dengan gerakan kelompok tersebut yang ingin meruntuhkan pondasi pemahaman ASWAJA yang dibawa oleh para Wali Songo dan ulama pesantren lainnya ke Indonesia ini.
Ijazah tersebut berupa ayat Al-Qur’an yang dibaca Syaikhona Kholil Bangkalan yang diceritakan oleh KHR. As’ad Syamsul Arifin.
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (الصف: 8)
Artinya: “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaf: 8).
Kiai As’ad saat menceritakan ini dengan mengulang potongan ayat:
ولو كره الكافرون، ولو كره المشركون، ولو كره
Di situ tidak disebutkan dengan jelas, apakah dilanjutkan dengan “ولو كره المنافقون” atau mengulang ayat tersebut selama tiga kali.
Hal ini berdasarkan bahasa Kiai As’ad “yang tiga itu” saat menceritakannya. Dugaan kuat penulis adalah disambung dengan “ولو كره المنافقون” karena ketiga kelompok itu kafir, musyrik dan munafik adalah pembenci Rasulullah Saw. dan ajaran Islam yang dibawanya dengan metode yang berbeda-beda.
Allah menganalogikan mereka yang benci dengan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad dengan seseorang yang ingin memadamkan sinar matahari dengan tiupan mulutnya. Hal tersebut adalah sangat tidak mungkin untuk dilakukan.
Jaminan Allah bahwa segala upaya yang (akan) dilakukan orang kafir untuk menghancurkan Islam baik dengan lisan maupun dengan gerakan atau tipu daya adalah akan sia-sia.
Islam akan tetap tegak berdiri menyinari alam semesta ini meskipun kaum musyrik dan kafir membencinya.
Kemungkinan yang lain dari cerita Kiai As’ad tersebut adalah ayat di atas disambungkan dengan ayat selanjutnya yang diakhiri dengan “ولو كره المشركون” walaupun bagi penulis kemungkinannya sangat kecil karena hanya ada “ولو كره الكافرون” di akhir ayat pertama dan “ولو كره المشركون” di akhir ayat yang kedua.
Di ayat berikutnya tidak ditemukan “ولو كره المنافقون” sehingga tidak secara paralel atau tidak memenuhi unsur “yang tiga itu” seperti yang disebut Kiai As’ad.
Adapun kelanjutan ayat di atas adalah
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (الصف: 9)
Artinya: “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (QS: As-Shaf: 9).
Ini hanya penegasan bahwa Allah tetap akan memenangkan agama yang dibawa Nabi Muhammad walaupun orang-orang kafir dan musyrik berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkannya dengan metode dan strategi apapun.
Ini sama dengan kondisi yang dialami ulama nusantara pada saat itu. Mereka risau dalam menghadapi kelompok tertentu yang tidak suka dengan ajaran ulama pesantren yang menyebarkan akidah Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.
Cerita ini disampaikan oleh Kiai As’ad saat ulama seluruh Indonesia berkumpul di kediaman Kiai Muntaha Bangkalan menantu Kiai Kholil untuk mengadukan perihal maraknya kelompok yang meneriakkan slogan “kembali pada Al-Qur’an dan Hadits” ditambah mereka mendapatkan dukungan moril dari pemerintah Hindia Belanda.
Kelompok tersebut diduga kuat benci dengan perkembangan paham ASWAJA, maka, kegelisahan itu dijawab oleh Kiai Kholil dengan ayat Al-Qur’an di atas melalui Kiai Nasib. Setelah itu puaslah para ulama tersebut atas jawaban yang diterima.
Penulis meyakini jawaban Kiai Kholil adalah ijazah untuk meredam para pembenci ajaran Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.
Kondisi yang mirip juga dialami oleh NU hari ini yang telah konsisten dalam menyebarkan aqidah tersebut. Di mana kelompok tertentu telah dengan masif menyebarkan fitnah terutama yang disebarkan melalui media-media mereka.
Mereka menyerang pesantren sebagai benteng penyanggah ajaran ASWAJA dengan bertubi-tubi dan terutama menyasar anak-anak muda NU yang masih labil dalam ajaran agama.
Mereka dengan genitnya menggunakan strategi psywar (psychological warfare) di media sosialnya sebagai bentuk taktik propaganda, disinformasi, dan manipulasi emosi secara sistematis di platform digitalnya tentunya untuk memengaruhi opini, sikap, dan perilaku individu maupun kelompok sasaran.
Menghadapi mereka tidak perlu terlalu risau. Kita tetap waspada saja dengan menyiapkan strategi jitu menghadapinya. Sambil ingat dengan ijazah Syaikhona Kholil di atas walaupun Kiai As’ad tidak secara rigid menyebutkan sebagai ijazah. Akan tetapi, apapun itu tidak ada salahnya jika kita mengamalkan sesuai dengan keyakinan kita. Wallahu A’lam.
*Alumnus PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Sekaligus Wakil Sekretaris PCNU Sumenep.

