Dalam pelajaran sejarah, para pelajar di sekolah selalu diingatkan tentang perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Diceritakan bahwa pejuang-pejuang itu bertaruh nyawa melawan kaum penjajah dengan bersenjatakan keris, pedang, dan bambu runcing.
Bila dibandingkan dengan senjata penjajah, tentu saja bambu runcing itu tidak ada apa-apanya. Namun, dengan sepuhan doa dari Kiai Haji Subchi (1858-1959), senjata sederhana itu menjelma menjadi senjata berkekuatan dahsyat. Sebab itulah beliau dijuluki sebagai ‘Kiai Bambu Runcing’.
Ya, Kiai Subchi-lah ulama pejuang yang telah berjasa dalam memberikan kekuatan pada bambu runcing sehingga mampu bersaing dengan senjata canggih kaum kolonial. Beliau lahir di desa Parakan, Temanggung, Jawa Tengah dengan nama Mohamad Benjing. Setelah berumah tangga namanya berganti menjadi R. Somowardojo. Namanya mengalami perubahan lagi usai menunaikan ibadah haji menjadi Subchi.
Mbah Subchi, begitulah panggilan akrab Kiai Subchi, memang orang tertua di Parakan. Hampir semua orang memanggilnya Mbah. Orangnya ramah, banyak tawanya, serta menyenangkan dalam pergaulan. Meskipun statusnya sebagai sesepuh, beliau tidak suka menggurui. Jika sedang memberi nasihat, ia akan menggunakan bahasa yang sederhana. Mbah Subchi juga menjadi pendengar yang baik tatkala sedang menyimak penuturan orang lain.
Sehari-sehari, Mbah Subchi bekerja sebagai petani yang menggarap lahannya sendiri. KH. Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013: 350) menjelaskan, meskipun lahan yang beliau garap tidak seberapa luas, tetapi tumbuh-tumbuhan yang beliau tanam bermacam-macam, mulai dari tembakau, jagung, dan kentang.
Menyepuh Bambu Runcing
Pada masa perang sekutu di Surabaya dan sejumlah daerah lainnya, ratusan bahkan ribuan tentara, baik Hizbullah, Sabilillah, dan Tentara Keamana Rakyat (TKR, asal mula TNI) selalu membanjiri rumah Kiai Subchi untuk menyepuh bambu runcingnya dengan doa. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jenderal Sudirman beserta anak buahnya yang sedang bergerilya di daerah Jawa Tengah.
Adapun doa yang diucapkan oleh Mbah Subchi untuk menyepuh ribuan bampu runcing dari para tentara itu adalah, “Bismillahi, Ya Hafidzu Allahu Akbar (Dengan nama Allah, Wahai Tuhan maha Pelindung, Allah Maha Besar).” (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010:132).
Selain itu, kepada para tentara yang hendak berangkat ke medan pertempuran itu Kiai Subchi juga menyampaikan wejangan. “Luruskan niat untuk mempertahankan agama, bangsa, dan tanah air. Ingat selalu ada Allah SWT. Jangan menyeleweng dari tujuan, apalagi berbuat maksiat. Dan perkuat persatuan kita. Jika hendak kembali pulang, beramai-ramailah membaca syahadat.”
Berjumpa KH Wahid Hasyim
Suatu ketika KH Wahid Hasyim, KH Masjkur, dan KH Zainul Arifin yang memimpin barisan tentara santri diantar oleh KH. Saifuddin Zuhri untuk menemui Kiai Subchi di Parakan. Namun kiai sepuh ini kemudian menangis di hadapan Kiai Wahid Hasyim karena terlampau banyak laskar yang datang kepadanya.
“Mengapa semua ini datang kepada saya? Kok tidak datang ke kiai lain?” tutur Kiai Subchi dengan suara lirihnya kepada Kiai Wahid Hasyim, dan kawan-kawan kiai lain sambil menangis. Kiai Wahid Hasyim menangkap tangisan itu sebagai keharuan Mbah Subchi melihat semangat para pejuang untuk menyandarkan diri pada kekuatan Allah dalam berjihad melawan penjajah.
Namun pada sisi lain, Kiai Wahid melihat perlunya membangkitkan kembali semangat Kiai Subchi. Hal itu bertujuan agar Mbah Subchi tidak merasa keberatan untuk memberikan gemblengan lahir dan batin kepada ribuan laskar yang datang meminta doa ke Parakan.
Tak lama kemudian, beliau lalu diminta istirahat oleh KH Saifuddin Zuhri. Tugas menyepuh bambu runcing kemudian dilanjutkan oleh saudara dan cucunya. Kiai Bambu Runcing hanya sesekali menampakkan diri jika memang sangat diperlukan.
Pada tanggal 6 April 1959 beliau akhirnya wafat di tanah kelahirannya pada usia satu abad atau seratus tahun. Semoga jasa dan perjuangannya kepada bangsa ini diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Al-Fatihah….
(Sumber tulisan dan foto : Suara Nahdlatul Ulama NU Online

