Bluto, NU Online Sumenep
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep melaksanakan silaturahmi ke kediaman KH. Ramdlan Siradj, Mustasyar PCNU Sumenep, Sabtu (24/1/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang tausiyah dan refleksi strategis tentang penguatan tata kelola organisasi, dinamika kepengurusan, serta spirit khidmat dalam menghadapi tantangan NU ke depan.
Dalam suasana akrab dan penuh kehangatan, KH. Ramdlan Siradj menaruh harapan besar pada Tanfidziyah PCNU Sumenep yang relatif muda agar mampu bergerak lebih dinamis dan solid dalam menghadapi persoalan umat yang semakin kompleks.
“Kekompakan menjadi kunci. NU ke depan akan berhadapan dengan persoalan yang tidak sederhana, sehingga dibutuhkan kerja kolektif dan manajemen organisasi yang rapi,” dawuh beliau.
KH. Ramdlan menegaskan pentingnya orientasi berpikir pada kemajuan NU lokal Sumenep, tanpa melepaskan diri dari struktur dan legalitas organisasi. Menurutnya, penguatan gerak PCNU harus tetap berada dalam koridor keputusan dan legitimasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
“Yang terpenting, setiap langkah organisasi mendapat legalitas. NU ini jam’iyyah, bergerak harus sesuai aturan,” tegasnya.
Dalam konteks kelembagaan, KH. Ramdlan mengingatkan bahwa sejak awal NU dirancang dengan sistem pembidangan, di mana lembaga-lembaga menjadi pelaksana teknis program. Karena itu, eksekusi program harus berbasis keputusan organisasi, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Beliau juga menekankan pentingnya membiasakan hadir dalam forum dan rapat. Menurutnya, forum bukan sekadar formalitas, tetapi ruang belajar mengelola organisasi dan melatih kemampuan manajerial.
“Kalau hadir, pengurus bisa belajar merencanakan dan mengorganisir kegiatan. Itu proses learning by doing,” ujarnya.
Terkait program kerja, KH. Ramdlan menyarankan agar keputusan konferensi dipilah dan diprioritaskan. Yang terpenting bukan banyaknya program, tetapi konsistensi dalam melaksanakan prioritas program dengan penuh tanggung jawab.
Lebih lanjut, beliau menyoroti kekuatan NU Sumenep yang memiliki pesantren besar dan pesantren kecil, serta perpaduan elemen santri salaf, akademisi, dan aktivis.
Menurutnya, kombinasi ini merupakan modal sosial yang epik jika dikelola dengan semangat khidmat dan amanah.
Dalam pesannya yang reflektif, KH. Ramdlan Siradj mengingatkan agar pengurus NU tidak menggantungkan harapan pribadi pada organisasi.
“Jangan berharap sesuatu dari NU. Berkontribusilah sesuai kemampuan. Insyaallah barokah NU itu akan memampukan kita,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa dakwah dan khidmat tidak diukur dari capaian duniawi semata. Dakwah adalah perintah Allah, sementara nilainya berada di hadapan-Nya. Karena itu, pengabdian di NU harus dilandasi keikhlasan, kesungguhan, dan komitmen menjaga tradisi.
Menutup tausiyahnya, KH. Ramdlan Siradj mengingatkan pentingnya penertiban organisasi, pelaporan, dan manajemen yang rapi sebagai bagian dari dakwah struktural NU.
“NU itu organisasi, maka harus dilaksanakan dengan semangat, kekompakan, dan khidmat. Semoga semua ikhtiar ini diridai Allah SWT,” pungkasnya.
Silaturahmi ini menjadi penguatan moral dan organisasi bagi PCNU Sumenep untuk terus bergerak sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang kokoh dalam Aswaja, dinamis dalam gerakan, dan istiqamah dalam khidmat.

