Kota, NU Online Sumenep
Di acara Simposium Peradaban Nahdlatul Ulama (NU) yang dipusatkan di Pendopo Keraton Sumenep, Budayawan Madura, KH D Zawawi Imron didaulat sebagai narasumber dengan mengusung tema ‘Kebudayaan NU di Tengah Arus Industri Populer’, Sabtu (05/03/2022).
Di tengah menyampaikan materi, sang Celurit Emas pasti mempersembahkan pantun dan humor.
“Cabbih bhan dhelimah. Tanggulinah emag chamakh. Sogi elmuh bhen tatakrama. Saghulinah pas e mat-hormat.”
Artinya: Cabe dan buah delima. Gula aren diremas-remas. Kaya ilmu dan tata krama atau akhlak. Setiap bertindak atau bertingkah, pasti hormat pada yang tua.
Pria kelahiran Batang-Batang ini menjelaskan, ilmu saja tidak cukup, harus disertai dengan tatakrama. Ketika seseorang memiliki akhlak yang baik. Orang takut akan bertengkar, saling memfitnah, bentrok di antara satu dengan yang lainnya dan tidak mungkin ada kesombongan.
Di akhir penyampaiannya, Pak D Zawawi mempersembahkan humor khas NU. Baginya adalah kritikan untuk dirinya sendiri.
“Imam Al-Ghazali mengatakan, sebagian orang pintar dan alim tidak merasa dirinya sombong. Untung saja kami tidak alim dan pintar sehingga kami tau bahwa kami sendiri adalah orang sombong,” pungkasnya.

