Kota, NU Online Sumenep
KH Marzuki Mustamar, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, meminta menanamkan adab dan tata krama dengan 3 perkara, yaitu cinta pada Nabi Muhammad SAW, ahlul bait dan ulama yang telah mewariskan ajaran nabi, serta membaca AL-Qur’an dengan benar.
Pernyataan tersebut disampaikan di acara Simposium Peradaban Nahdlatul Ulama di Pendopo Keraton Sumenep, Sabtu (05/03/2022).
“Adab dalam kajian ilmu Balaghah bermakna kelembutan, kehalusan, tutur kata yang memperhatikan diksi, sehingga orang lain tidak tersakiti. Jika ditolak, berarti pilihan diksinya kurang benar. Ada kalimat yang tabu dan menyinggung orang lain. Itu namanya tidak beradab, karena tidak menjaga kelembutan rasa,” ujarnya.
Tak hanya itu, Madura, khususnya Kabupaten Sumenep luar biasa dalam beradab. Karena diksi dan logatnya sangat halus, menghormati orang lain.
“Rasulullah memiliki kepiawaian dalam menyampaikan pesan-pesan langit pada orang Arab. Yang dulunya kasar menjadi beradab. Andainya saja nabi tidak menggunakan kelembutan rasa, tentu sulit diterima oleh objek dakwah. Ini bagian dari sunah nabi,” terangnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek, Malang itu memberikan tips pada para pendai. Jika ingin diterima dakwah dan ta’limnya, harus beradab. Termasuk para pendatang baru.
“Pandai-pandailah beradab di tengah-tengah masyarakat. Ikuti tradisi masyarakat selagi tidak menabrak tauhid dan keimanan. Pelan-pelan, tapi pasti, yang pada akhirnya dengan kelembutan rasa, kedatangan pada pendai diterima warga,” ungkapnya.
Tak sampai di situ, tidak mungkin dakwah sukses tanpa adab dan peradaban. Kiai Marzuki mengimbau pada pendai agar berbaur dengan masyarakat yang majemuk supaya tidak berbenturan.
“Salah satu ciri masyarakat yang beradab adalah mereka menyadari pentingnya mentaati aturan. Tirulah cara nabi, insya Allah risalah misi diniyah akan diterima orang banyak karena tidak menyakiti orang lain,” pungkasnya.

