Kota, NU Online Sumenep
Nabi Muhammad SAW membangun Madinah dengan visi peradaban. Karena wahyu diamanatkan atau yang disampaikan pada umatnya penuh dengan firman yang memberi petunjuk mengenai sendi-sendi peradaban. Sejak itu nabi bergulat memikul risalah untuk merintis peradaban.
Pernyataan itu dikatakan oleh KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di acara Simposium Peradaban NU di Pendopo Keraton Sumenep, Sabtu (05/03/2022) dengan tajuk ‘NU di Tengah Peradaban Global Multi Polar’.
“Nabi membangun struktur masyarakat guna menjaga nilai-nilai yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat. Berbicara kepemimpinan terstruktur, tampak dalam sejarah saat Abu Bakar r.a menggantikan nabi sebagai imam shalat. Dari sinilah muncul konstruksi peradaban,” ujarnya.
Tak hanya itu, di masa kebesaran Turki Utsmani yang mulai meluas, peradaban Islam berdiri kokoh yang berdampingan dengan peradaban lain, seperti Kristen, Budha, Hindu. Hingga hubungan ini diwarnai persaingan militer yang tak henti-henti.
“Sistem politik kala itu ditentukan dengan kekuatan militer. Jika lemah, maka akan mundur. Yang kuat akan maju. Seperti direbutnya Konstantinopel oleh Islam, karena kekuatan militernya lemah,” ungkap Gus Yahya.
Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah itu menegaskan, tatanan peradaban saat itu tidak ada ruang untuk membangun kehidupan berdampingan yang damai dengan peradaban yang berbeda. Semua konflik berpuncak pada Perang Dunia ke-1, di mana Turki kalah, sehingga peradaban yang dibangun hilang,” terangnya.
Untuk itu, lanjutnya, dibuatlah norma-norma dan aturan yang pada akhirnya bisa melindungi dan menjaga keamanan umat dari ancaman kerajaan lain. Menurutnya, Nusantara bukan bagian dari Turki Utsmani, walaupun ada upaya dari Kerajaan Demak untuk menyambungkannya. Hanya saja saat itu, Turki tidak punya kekuatan untuk mengontrol.
“Nusantara memiliki mentalitas yang berbeda. Saat Turki tumbang, kita tidak merasa ikut kalah, karena bukan bagian dari mereka. Adanya Komite Hijaz adalah untuk mengecek kuatan baru Saudi Arabia yang merupakan bekas bagian dari Turki Utsmani,” imbuhnya.
Mantan Katib Aam PBNU itu menceritakan, sepulang dari Komite Hijaz, KH Abdul Wahab Chasbullah mengusulkan pada gurunya Hadratussykeh KH M Hasyim Asy’ari untuk mendirikan jam’iyah NU. Karena Arab Saudi tidak punya kapasitas untuk menggantikan konstruksi peradaban Turki Utsmani.
“Saat umat Islam kebingungan, tak ada yang memberi jalan keluar. Oleh sebabnya, muassis mencarikan jalan keluarnya. Perlu diketahui, walaupun para kiai ditindas oleh penjajah, mereka tidak menyerah guna membangun peradaban,” dawuh juru bicara Presiden RI di era Gus Dur.
Putra KH Cholil Bisri ini menegaskan, di masa kerajaan tanah Nusantara, raja tidak menciptakan kontrol umum pada rakyat. Mereka dibiarkan membangun kepemimpinannya sendiri. Berangkat fenomena tersebut, ulama terseret dalam struktur independen dengan melakukan ri’ayatul ummah, sehingga ulama dan umara belum terpisahkan dari Indonesia.
“Toleransi adalah barang baru, karena dulu tidak ada. Adanya konsensus baru yang lahir akibat Perang Dunia ke-2, menginginkan satu hubungan damai antara kelompok yang berbeda,” pungkasnya.

