Pragaan, NU Online Sumenep
Lembaga Pendidikan Maarif Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan menggelar kegiatan bertajuk Kajian Kesantrian. Program ini digelar dalam rangka menyambut peringatan Hari Santri Nasional yang dirayakan pada 22 Oktober mendatang.
Ketua LP Maarif NU MWCNU Pragaan, Moh. Qudsi menjelaskan bahwa Kajian Kesantrian akan dilaksanakan di setiap lembaga pendidikan secara bergiliran. “Selama beberapa hari ke depan, kita akan mengunjungi madrasah-madrasah di Kecamatan Pragaan untuk mengenalkan sejarah perjuangan santri dan kiai kepada generasi muda,” ujarnya.
“Setiap kunjungan kita akan membawa kader terbaik NU Pragaan untuk mengupastuntas sejarah perjuangan santri jaman dahulu agar nantinya bisa diteladani oleh anak muda sekarang. Jangan sampai generasi saat ini lupa akan sejarah bangsanya sendiri,” kata alumni PP. Al-Ihsan Jaddung itu dengan nada tegas.
Kajian Kesantrian di PP. Al-Ibrahimy
Sabtu (9/10/2021) Kajian Kesantrian digelar di Pondok Pesantren Al-Ibrahimy yang terletak di Dusun Masaran Sentol Daya. Bertindak sebagai pembicara yaitu K. Ach. Zubairi Karim, mantan Wakil Ketua MWCNU Pragaan yang kini telah diamanahi sebagai Wakil Ketua PCNU Sumenep.
Pada kesempatan tersebut, Kiai Zubairi menjelaskan tentang pentingnya Resolusi Jihad bagi kemerdekaan Republik Indonesia kepada para santri yang menimba ilmu di pesantren tersebut. “Seandainya KH. M. Hasyim Asy’ari dan NU tidak mengeluarkan Resolusi Jihad, niscaya negara ini tidak akan benar-benar merdeka. Resolusi Jihad inilah yang telah membakar semangat juang rakyat pada saat Belanda melakukan agresi militer,” ujar Dosen Stidar Ganding ini.
Beliau juga menceritakan tentang betapa heroiknya pertempuran di Surabaya kala itu. “Tanggal 25 Oktober sebanyak enam ribu pasukan Belanda masuk ke Surabaya. Tak lama kemudian, datang lagi 24.000 pasukan pada 9 November. Penjajah telah benar-benar siap membumihanguskan Surabaya.”
“Mengingat jumlah tentara musuh yang begitu banyak, maka dihadirkanlah KH. Abbas dari Buntet Cirebon. Kiai Abbas ini memiliki senjata andalan berupa terompah. Ketika terompah tersebut dilempar ke udara, pesawat tempur Belanda yang canggih langsung jatuh seketika,” kisahnya.
Di akhir penyampaian, Redaktur Ahli NU Online Sumenep ini mengajak para santri untuk meneladani perjuangan santri-santri terdahulu. “Jika dulu para pejuang berperang secara fisik, maka santri hari ini berperangnya lewat ilmu pengetahuan,” pungkas alumni PP. Annuqayah tersebut.

