Lenteng, NU Online Sumenep
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azizy As-Salafy Lembung Barat, Lenteng KH Abd Warits Aziz merupakan sosok kiai yang produktif menulis kitab serta mendedikasikan dirinya untuk mendidik dan mengajar para santri.
“Menjadi kewajiban bagi kami untuk mengabdikan diri dalam mendidik dan membimbing para santri, baik melalui kajian kitab di pesantren maupun pembelajaran di Madrasah Diniyah Al-Azizy,” jelasnya kepada NU Online Sumenep, Kamis (27/08/2026).
Bagi Kiai Warits Aziz, mengajar bukan sekadar menyampaikan materi keilmuan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meneruskan tradisi keilmuan pesantren.
“Para santri tidak hanya diajak memahami teks-teks keislaman, tetapi juga dibiasakan untuk dekat dengan khazanah kitab yang menjadi bagian penting dari tradisi pendidikan pesantren,” ungkapnya.
Produktif Menulis Kitab
Dedikasi Kiai Warits Aziz dalam dunia pendidikan berjalan beriringan dengan produktivitasnya dalam menulis. Di tengah kesibukannya mengasuh pesantren dan membimbing para santri, Kiai Warits terus meluangkan waktu untuk mengkaji berbagai disiplin ilmu keislaman dan menuangkannya dalam bentuk karya tulis.
Ketekunan tersebut melahirkan sejumlah kitab yang menjadi bagian dari ikhtiar beliau dalam menjaga, mengembangkan, sekaligus mewariskan tradisi keilmuan pesantren kepada generasi berikutnya.
Di antara karya yang telah ditulis Kiai Warits Aziz adalah ‘Aqā’id al-Khamsīn (عَقَائِدُ الْخَمْسِينَ) yang membahas dasar-dasar akidah; Fiqh al-Aulād (فِقْهُ الْأَوْلَادِ) yang berkaitan dengan kajian fikih; Tarjamah al-Ājurūmiyyah (تَرْجَمَةُ الْآجُرُّومِيَّةِ) sebagai terjemah dan penjelasan kitab dasar nahwu; Fuhūl al-‘Azīziyyah fī Tarjamati Nazhmi al-‘Imrīthī (فُحُولُ الْعَزِيزِيَّةِ فِي تَرْجَمَةِ نَظْمِ الْعِمْرِيطِيِّ) yang mengulas Nazham al-Imrithi; serta Al-Mahshūd fī Tarjamati al-Maqshūd (الْمَحْصُودُ فِي تَرْجَمَةِ الْمَقْصُودِ) yang merupakan karya terjemah atas kitab Al-Maqshūd.
Karya-karya tersebut menunjukkan keluasan perhatian Kiai Warits Aziz terhadap berbagai cabang ilmu keislaman sekaligus mencerminkan komitmennya dalam menghadirkan bahan pembelajaran yang dapat dipelajari oleh para santri dan masyarakat.
Produktivitas tersebut tentu tidak lahir secara instan. Tradisi membaca, mengaji, memahami, dan menulis telah ditempa Kiai Warits Aziz sejak dirinya menjadi santri.
11 Tahun Menimba Ilmu di Pesantren Al-Is’af Kalabaan Guluk-Guluk
Karya-karya yang ditulis Kiai Warits Aziz merupakan buah dari perjalanan panjangnya sebagai seorang santri. Ia menimba ilmu 11 tahun di Pesantren Al-Is’af Kalabaan.
“Masa panjang tersebut menjadi proses pembentukan keilmuan sekaligus ruang bagi kami untuk menempa ketekunan dan kegigihan dalam mempelajari khazanah Islam,” lanjutnya.
Dari tradisi belajar yang panjang itulah kemudian lahir semangat untuk mengabadikan ilmu melalui tulisan. Kitab-kitab yang ditulis menjadi salah satu bentuk pengabdian Kiai Warits dalam menjaga dan meneruskan warisan keilmuan pesantren.
“Menjadi santri dalam waktu yang panjang juga memberikan pengalaman mendalam tentang bagaimana ilmu dipelajari, diajarkan, dan diwariskan,” tuturnya.
Terlibat dalam Karya Muassis Pesantren Al-Is’af
Selain menghasilkan karya sendiri, Kiai Warits Aziz juga pernah menjadi bagian dari tim penulis karya-karya Muassis Pesantren Al-Is’af, KH Muhammad Habibullah Rais.
Sejumlah karya KH. Muhammad Habibullah Rais yang melibatkan Kiai Warits Aziz dalam tim penulis di antaranya Is‘āf al-Thalabah Juz 1–2 (إِسْعَافُ الطَّلَبَةِ); Tarbiyah al-Shibyān (تَرْبِيَةُ الصِّبْيَانِ); Wushūl al-Umniyyah Tarjamatu Nazhmi al-‘Imrīthī (وُصُولُ الْأُمْنِيَّةِ تَرْجَمَةُ نَظْمِ الْعِمْرِيطِيِّ); Mughnī al-Khashāshah Juz 2–3 (مُغْنِي الْخَصَاصَةِ); Majmū‘ al-Fawā’id (مَجْمُوعُ الْفَوَائِدِ); serta Takmilah Majmū‘ al-Fawā’id (تَكْمِلَةُ مَجْمُوعِ الْفَوَائِدِ).
Keterlibatan dalam penulisan karya-karya tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan intelektual Kiai Warits Aziz.
Tradisi keilmuan yang diperoleh selama menjadi santri tidak hanya diteruskan melalui pengajaran, tetapi juga melalui aktivitas kepenulisan bersama para ulama dan kiai.
Aktif di Tengah Masyarakat
Di samping mengasuh pesantren, mengajar santri, dan menulis kitab, Kiai Warits Aziz juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan keagamaan di masyarakat.
Ia terlibat dalam kegiatan Kompolan Muslimat dan Kifayah Al-Azizy, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Lembung Barat, serta turut aktif bersama Remaja Masjid Al-Musyarrafah.
Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian seorang kiai tidak terbatas di lingkungan pesantren. Pesantren dan masyarakat menjadi dua ruang yang saling berhubungan dalam membangun kehidupan keagamaan.
Melalui kegiatan pengajian, organisasi keagamaan, dan aktivitas kemasyarakatan, Kiai Warits Aziz turut mengambil peran dalam membangun semangat keberagamaan masyarakat, khususnya di lingkungan sekitar Pesantren Al-Azizy.
Menulis, Mengajar, dan Mengabdi
Perjalanan Kiai Warits Aziz memperlihatkan tiga jalur pengabdian yang berjalan beriringan: mengajar, menulis, dan mengabdi kepada masyarakat.
Mengajar menjadi jalan untuk mentransmisikan ilmu kepada para santri. Menulis menjadi ikhtiar untuk mengabadikan ilmu dalam bentuk karya. Sementara keterlibatan dalam berbagai kegiatan keagamaan menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat.
“Semua itu berakar dari perjalanan panjang kami sebagai santri di Pesantren Al-Is’af Kalabaan. 11 tahun menimba ilmu menjadi bekal penting dalam membentuk karakter keilmuan dan semangat pengabdian,” pungkasnya.
Kisah Kiai Warits Aziz menjadi pengingat bahwa tradisi pesantren tidak hanya dibangun oleh mereka yang mengajar di hadapan santri, tetapi juga oleh mereka yang tekun membaca, mengkaji, menulis, dan mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.
Editor: Abdul Warits

