Image Slider

Refleksi Muharram, Kiai Faizi Ulas Makna Bulan Sora

Gapura, NU Online Sumenep
Muharram adalah bulan pertama di  tahun Hijriyah. Momen tersebut sangat penting direfleksikan bagi umat Islam. Utamanya bagi kalangan pelajar di lembaga pendidikan. Terlebih pula dalam menjalani kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

Seperti yang dilaksanakan Madrasah Aliyah Nasy’atul Muta’allimin Gapura, menggelar Refleksi Bulan Muharram menghadirkan Kiai Faizi, Penyair dan Budayawan Madura, pada Rabu, (3/8/2022) malam.

Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Al-Furqon Guluk-Guluk Sumenep itu di awal penyampaiannya membahas perihal Bulan Muharram perspektif lokal Madura. Terdapat beberapa tradisi yang masih terjaga dalam kehidupan masyarakat dalam menyambut bulan istimewa itu.

“Muharram yang dikenal Sora oleh orang Madura (Sumenep) diambil kata Asyuro, sebuah hari dimana di bulan itu ada hari yang cukup fenomenal yang menjadi ikonik, misalnya tajin sora, sebagai simbol Bulan Muharram,” kata Kiai Faizi di hadapan siswa, guru dan karyawan MA Nasyatul Muta’allimin Gapura.

Lebih lanjut, Kiai Faizi mengatakan bahwa bulan sora terjadi beberapa peristiwa sakral. Seperti Nabi Yunus dan terbebas dari dalam perut ikan. Serta beberapa peristiwa penting lainnya yang menunjukkan keistimewaan.

“Salah satunya adalah bebasnya para nabi dari fenomena besar yang menimpa dirinya, nabi Yunus bebas dari perut ikan dan lainnya,” tambahnya.

Penulis Buku Ruang Kelas Berjalan ini menambahkan bahwa Sora di pulau Madura adalah tradisi dari nenek moyang yang terus bertahan sampai sekarang. Ia mencontohkan seperti di malam pertama Bulan Sora mensucikan gagaman dan mengamalkan amalan khusus.

“Misalnya di bulan ini juga ada Tajin Sora bahkan di Padang, di Tedore ada acara di tepi pantai, untuk merayakan Bulan Sora ini. Bulan baru di bulan Hijriyah ini sebagai spirit yang di dalamnya ada harapan dan perubahan dari tahun sebelumnya, kalau kita tidak berubah, kita akan diubah oleh keadaan. Maka, semangat Muharram merupakan semangat perubahan, dari biasa menjadi luar biasa,” ungkapnya.

Di akhir acara, Kiai Faizi berpesan agar santri santri harus suka mencatat dan harus mengatur waktu, bukan malah diatur oleh waktu.

Kegiatan ini ditutup dengan tawassul kepada isteri Kiai Faizi yang meninggal satu tahun lalu, dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura, KH. A. Munif Zubairi.

Editor: Abdul Warits

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga