Amelia Nur Hasizeh, M. Waail Al Wajieh
Secara antropologis dan filosofis, manusia berinteraksi dengan lingkungannya seringkali menggunakan teknologi, karena teknologi itu adalah alat bantu untuk memudahkan suatu pekerjaan. Teknologi sebenarnya sudah ada sejak zaman primitif, seperti batu yang digunakan untuk menghancurkan buah agar dapat memperoleh isinya. Hewan juga menggunakan teknologi jenis ini. Simpanse, misalnya, menggunakan ranting kayu untuk mengeluarkan serangga dari sarangnya sehingga bisa dimakan.
Di tangan manusia, teknologi mengubah pengalaman manusia dan dunia yang dihuninya. Didalam buku filsafat teknologi, filsafat menempatkan teknologi sebagai pengetahuan khusus mengenai tindakan atau praktik berpola, sebuah teori yang menekankan keunggulan praktis terhadap teori. Karena hakikat sains adalah eksperimental dan teknologis. Demikianlah Heidegger dan Dewey memulai filsafat teknologi kedalam wilayah praksis.
Ihde menyoroti hubungan manusia dan teknologi yang diperantarai oleh instrumen, serta ketertanaman teknologi dalam budaya, budaya dianggap multikultural. Budaya yang berbeda menggunakan teknologi dengan cara yang berbeda dan dengan demikian, membentuk budaya itu juga. Sehingga alat-alat teknologi dianggap sebagai instrumen budaya dan instrumen saintifik. Dalam definisi yang diungkapkan ihde, teknologi memiliki tiga ciri. Pertama, komponen konkrit yaitu materi. Kedua, aspek penggunaan, yakni aspek praksis. Ketiga, hubungan antara alat-alat teknologi dan manusia yang menciptakan, menggunakan dan mengubahnya.
Pengaruh dan Dampak Teknologi
Ihde mengemukakan bahwa segala jenis teknologi tertanam dalam budaya. Karena teknologi merupakan bantuan manusia. Budaya barat cenderung menggunakan teknologi sebagai kekuasaan. Karena teknologi merupakan cara berfikir yang memanipulasi dan mengekploitasi dunia sebagai persediaan. Contohnya saja mesiu, penggunaan alat mesiu di cina, mesiu digunakan sebagai alat untuk berperang. Contoh ini menunjukkan tertanamnya teknologi dalam budaya tertentu.
Teknologi juga menimbulkan suatu pengaruh yaitu plurikulturalitas. Plurikulturalitas mirip dengan pascamodernisme dimana perbedaan dan budaya-budaya kecil diangkat. Plurikulturalitas terjadi berkat teknologi, khususnya melalui teknologi citra, yang juga disebut sebagai media. Teknologi citra merupakan sarana untuk mensosialisasikan dan menyampaikan budaya asing. Contohnya ialah berita internasional dan program MTV.
Satu lagi dampak teknologi ke atas dunia kehidupan yang penting adalah beban yang melekat dalam suatu keputusan, terutama keputusan yang sadar. Prinsip yang digunakan dalam institusionalisasi pemikiran kalkulatif adalah utilitarianisme dimana tindakan yang betul adalah tindakan yang menghasilkan kebaikan yang paling besar bagi paling banyak orang yang bersangkutan. Penggunaan teknologi dinilai berdasarkan prinsip utilitarian yang mengarah pada kuantifikasi, seperti penghitungan kelebihan hasil yang diperoleh. Ini terjadi karena kebanyakan ahli teknik adalah orang yang berfikir secara kuantitatif.
Ada-menuju-kematian (sein zum tode) dari Heidegger tampil dengan makna baru disini berkat berbagai pilihan alat teknologi yang mendukung kehidupan dimana keputusan harus dibuat oleh orang yang secara langsung terlibat seperti si pengidap penyakit atau keluarganya atau pihak ketiga. Soal hidup dan mati sekarang ditentukan oleh manusia melalui alat.
Dampak teknologi lainnya adalah materialisasi yang konseptual. Melalui media komputer ini mengembalikan kita pada persepsi visual. Ini mirip dengan membunuhnya sains dalam teknologi melalui penggunaan alat-alat teknologi dan juga berkaitan dengan teknologi citra yang sudah dibahas. Teknologi citra melalui komputer tidak sama dengan teknologi citra sebelumnya yang menggambarkan realitas seperti apa adanya, misalnya dalam foto. Kini grafik komputer merupakan citra yang dibuat-buat dan jelas-jelas imajiner, dimanipulasi secara khusus dengan menggunakan warna palsu. Maka, grafik komputer terletak pada titik temu antara sains dan seni. Teknik pencitraan lewat komputer juga digunakan dalam produksi film yang jauh berbeda dengan representasi realis dan masuk kedalam dunia fantasi. Hal ini merupakan corak dunia kehidupan yang dipengaruhi oleh materialisasi teknologi.
Tanggapan Terhadap Pemikiran Filsafat Don Ihde
Ihde membahas tentang peningkatan kemampuan tubuh manusia berkat penggunaan alat teknologi. Ini terjadi terutama dalam hubungan kebertubuhan dimana mobilitas manusia dimungkinkan untuk berkembang, seperti kemungkinan untuk terbang berkat adanya teknologi berupa pesawat terbang atau helikopter dan luasan cakupan inderawi manusia bertambah, seperti kemungkinan mendengar suara dari jarak jauh. Namun, Ihde tidak membicarakan kemampuan transendensi manusia lewat teknologi secara lebih mendalam, terutama pada tubuh.
Pada mulanya, tubuh manusia amat terbatas. Dengan teknologi, manusia dapat melampaui batas-batas tersebut. Dapat dikatakan bahwa dengan alat teknologi, manusia melampaui tubuhnya. Dengan kata lain, kendati dibatasi oleh tubuhnya, manusia dapat melampaui limitasi badani secara teknologis berkat kemampuan imajinasi dan kreatifitasnya. Teknologi dalam hal ini merupakan cara manusia mentransendensi diri, yaitu melewati batas-batas fisiknya.
Terlepas dari keterbatasannya, tubuh telah menjadi sumber lahirnya teknologi. Kebutuhan jasmani manusia memungkinkan inovasi dan perkembangan teknologi karena kebutuhan inilah yang menjadi asal-muasal penciptaan teknologi. Untuk memenuhi berbagai kebutuhannya, manusia berupaya mengembangkan teknologi. Dimanakah teknologi modern menambahkan aktifitas baru yang mendasar terhadap pengalaman manusia yang mengubah syarat-syarat bagi kehidupan itu sendiri? Berbagai contoh dapat diajukan disini, diantaranya penerbangan yang bebas kendali, rekayasa genetika untuk mengubah ciri biologis manusia, tempat hunian di luar angkasa, dan sebagainya. Kemampuan manusia untuk mengobjektivikasi diri dan lingkungannya memungkinkan manusia untuk menciptakan dan mengembangkan alat-alat yang mentransformasi alam sekitar menurut kehendaknya. Namun, sekali lagi, semua ini didorong oleh kebutuhan fisik manusia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teknologi kembali berpangkal pada tubuh manusia.
*Mahasiswi dan Dosen Prodi Teknologi Informasi IST Annuqayah

