Sajadah Puisi
Huruf-huruf menunduk
di sehampar sajadah ilusiku
dan kata-kata tengadah
dari hati puisi
Langit malam merangkak
dari sepi ke sepi
bintang-bintang merayap
pada bulan yang bersujud
dalam keheninganku sendiri
Bandungan, 28 Juni 2026
Matahari Tenggelam pada Sunyi
Sipit matahari mulai tengelam
ke dasar ufuk
burung pulang
lewati rumah hangatku
dan kumandang zikir mulai
mendengkur sebelum
suara azan berkumandang
Kulihat sekali lagi matahari
semakin menjauh dari
langit hangatku
sudah tiada burung terbang
sudah tiada ayam berkokok
Yang ada hanya kita telah memasuki
rumah sembahyang
Bandungan, 4 Juli 2026
Dan Kubaca
Kutulis kata-kata
di selembar
kertas kenangan ayah
dengan tinta keringat
lalu kubaca
dengan doa ibu
Kutulis lagi dengan bulan
yang sedang berpuisi
Dan kubaca lagi
dengan goyangan angin
yang menyelimuti hati malam
Kutulis sekali lagi dengan mata sunyi
yang menghidupkan kehampaan
bintang
dan kubaca sekali lagi dengan
udara yang sedang bersuit
di hadapanku
Bandungan, 9 Juli 2026
Terpuruk dalam Kesedihan dan Kesenangan
Dari ufuk timur
aku datang membawa kegeruhan
anginku berdebar kencang
memanggul tangis senja
burung berkicau
tapi bukan memapah
kegembiraan
Dari ufuk barat
dia datang memikul
kesenangan
benih bulan bercahaya
pada semua ladang
puisiku
dan tangan kata-kata
yang menjulur
meraba-raba
batin malam
Bandungan, 20 Juli 2026
* Rea Rizqi Langit, lahir di Sumenep, 19 Oktober 2014. Saat ini masih duduk di kelas VI MI Al-Huda Gapura. Suka puisi sejak kelas III, diawali dari tugas wajib membaca puisi setiap hari di rumah. Puisinya pernah jadi juara 2 LCPN Daring #3 MTs Putri Anuqayah 2026 dan juara harapan 2 LCPN Daring #2 MTs 1 Putri Annuqayah 2025, pernah terbit di Radar Madura Jawa Post 2026, Radar Banyuwangi, 2026, dan Lalampan.com 2025.

