Image Slider

Unik, Begini Cara NU Gapura Timur Peringati Maulid Nabi

Gapura, NU Online Sumenep

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Gapura Timur melaksanakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dengan istilah “Molot Agung” sekaligus pelantikan pengurus masa khidmah 2026-2030 pada hari Jumat (11/09/2026) pukul 13.30 Wib bertempat di halaman kantor Ranting NU Gapura Timur yang terletak di Dusun Dik-Kodik, Desa Gapura Timur, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep.

Tak seperti lazimnya perayaan maulid, selain diisi dengan tausiyah, acara tersebut juga diisi dengan makan bersama tanpa ada pengecualian status sosial. Semua duduk sama, menikmati hidangan yang sama, seolah acara tersebut menjadi momentum peretas sekat, penumbang tangga hierarkis, dan peretak kubu-kubu; semua menyatu dalam semangat kebersamaan yang karib antara yang satu dengan yang lain dengan tali kuat berupa ikatan hati sebagai umat nabi dan sesama NU.

Menu yang disajikan pun unik, semua berupa makanan tradisional yang dibawa oleh masing-masing warga dari empat dusun yang ada di Desa Gapura Timur yaitu Bungduwak, Pangabasen, Dik-Kodik, dan Battangan. Kemudian makanan itu dinikmati bersama di tempat acara.

K. Masduna selaku ketua PRNU Gapura Timur dalam sambutannya menyampaikan bahwa acara yang dibentuk dengan cara duduk bersama dan tanpa podium itu dimaksudkan untuk menegaskan kebersamaan sekaligus kesamaan antarwarga NU tanpa memandang kelas sosial.

“Acara dibentuk seperti ini untuk menujukkan kebersamaan sekaligus kesamaan kita tanpa memandang kelas sosial. Makanya di sini podium pun tidak ada, agar duduk sama rata. Pakaian khas tiap banom juga tak dipakai, semua berpakaian putih demi kesamaan,” tegasnya.

Pengasuh Mushalla Asy-Syifa’ ini juga mengatakan bahwa kantor PRNU Gapura Timur lebih tepat disebut rumah warga NU yang bisa difungsikan sebagai sentra kegiatan warga Desa Gapura Timur khususnya kegiatan sosial dan keagamaan.

Sementara Ketua PCNU Sumenep, K. Widadi Rahim dalam sesi pemberian arahan menyampaikan ucapan selamat dan barokah atas pelantikan pengurus PRNU Gapura Timur masa khidmah 2026-20230.  Dia bercerita bahwa dirinya berkhidmah di NU karena terinspirasi Sang Kakek, yaitu KH. Habibullah Rais. Almaghfurlah KH. Habibullah Rais suatu ketika pernah mengatakan kepadanya bahwa beliau ingin meninggal dalam keadaan jadi pengurus NU. Sebab beliau ingin diakui sebagai santri para muassis NU,  karena jika hanya mengandalkan amal pribadi itu tak cukup bila tidak ada sambungan keberkahan dengan para muassis.

Cucu K.H. Habibullah Rais ini menambahkan bahwa perjuangan pengurus NU itu tidak ada bedanya antara di Ranting, MWC,  dan PC, malah menurutnya pengurus ranting punya tugas yang lebih berat karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan dan problem masyarakat. Tapi semua harus dihadapi dengan sabar dan penuh semangat karena pada hakikatnya seseorang butuh kepada NU.

“Kita berNU bukan karena NU butuh kita,  tapi kita butuh ke NU,” tegasnya.

Menurut kiai yang biasa dipanggil Kiai Widadi ini, NU memasuki abad kedua, pengurusnya tidak usah lagi mengurus tahlil. Tapi harus mengurus dan mendampingi masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, dan penguatan ekonomi karena itu yang lebih mendesak.

“NU saat ini tidak lagi bertayammum tapi sudah saatnya berwudu. Artinya NU bukan saatnya mengajukan proposal, tapi harus punya kemandirian ekonomi,” jelasnya.

Sementara K.Dardiri sebagai penyampai tausiyah pada kesempatan ini lebih fokus mengupas masalah karakter masyarakat Desa Gapura Timur. Menurutnya, proses pembentukan dan pandangan keagamaan masyarakat Gapura Timur tak lepas dari pesantren Labbi Cabbi . Setelah itu barulah beberapa tokoh memondokkan putranya ke Bangkalan, Annuqayah, Kalaba’an, dan pesantren lainnya.

Sebelum secara rinci menjelaskan karakter masyarakat Gapura Timur, Pengasuh PP. Nasy-atul Muta’allimin ini sekilas bercerita tentang metode dakwah Syekh Ahmad Baidawi atau yang familiar disebut K. Katandur. K. Katandur menyampaikan ajaran agama sambil mengajarkan masyarakat bertani. Cara yang dilakukan itu bukan semata kebetulan, namun memang disesuaikan dengan latar belakang masyarakat setempat yang memang masyarakat tani. Sehingga selain kuat dalam keagamaan, kala itu masyarakat juga pandai mengolah lingkungan yang bertujuan untuk penguatan ekonomi.

“Karena ada kegiatan tandur atau pertanian yang dilakukan K. Kantandur, maka muncullah nama-nama desa di sekitar tempat itu yang namanya identik dengan pertanian, misalnya Paberasan dan Kebunan,” ujarnya.

Adapun karakter masyarakat Gapura Timur menurutnya adalah gemar mencari ilmu. Bahkan sampai ada istilah orang Gapura Timur itu adalah orang yang gemar mencari ilmu, jika tidak gemar mencari ilmu, maka itu bukan masyarakat Gapura Timur.

Menurut Kiai yang juga aktivis lingkungan ini banyak orang Gapura Timur mencari ilmu dengan cara mondok ke pesantren atau kuliah bukan karena kaya,  tapi karena adanya semangat untuk mencari ilmu.

“Untuk menjaga karakter tersebut maka caranya adalah pendidikan anak jangan berkurang, tradisi memondokkan anak harus terus dijaga. Jika tidak demikian, maka Gapura Timur akan lenyap,  yang lenyap bukan desa dan penduduknya, tapi karakternya,” tegasnya.

Di akhir tausiyahnya, K. Dardiri berpesan agar masyarakat Gapura Timur tetap hidup rukun dalam kebersamaan dan tidak boleh terlibat ke dalam sebuah konflik.

“Perbedaan itu biasa, yang tidak biasa itu konflik,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga