Batang-Batang, NU Online Sumenep
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Batang-Batang kembali menggelar acara Konsolidasi Perkumpulan bersama PRNU se-Kecamatan Batang-Batang. Kegiatan yang juga bersamaan dengan agenda Touring dan Ngopi bersama PCNU Sumenep tersebut dipusatkan di Masjid Darussalam, Ranting NU Tamidung, Batang-Batang, Ahad (04/10/2026).
Wakil Ketua MWCNU Batang-Batang, Ustadz Endar Fudni menyampaikan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahim antara MWCNU dengan seluruh ranting NU di Batang-Batang. Ia berharap pertemuan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar dalam memperkuat khidmah di NU.
“Tujuan perkumpulan ini yang pertama adalah mengikat silaturahim antara MWCNU Batang-Batang dengan seluruh ranting se-Kecamatan Batang-Batang,” ujarnya.
Sedangkan, Wakil Ketua PCNU Sumenep Kiai Khalqi mengatakan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menyapa Nahdliyin di tingkat akar rumput melalui agenda ngopi bersama. Menurutnya, menjadi pengurus NU merupakan amanah untuk meneruskan perjuangan para muassis.
“Kita menjadi pengurus adalah pilihan muassis. Menjadi pengurus adalah melanjutkan tugas-tugas muassis. Sama seperti menjadi pengurus pesantren. Makanya menjadi pengurus adalah wasilah untuk lebih dekat kepada muassis dan untuk mendapat barokah,” tuturnya.
Ia menegaskan, menjadi pengurus NU tidak cukup hanya secara administratif. Para pengurus harus aktif bergerak dan memberikan manfaat bagi umat. “Namun ber-NU tidak cukup menjadi pengurus, pengurus harus berharokah,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PCNU Sumenep KH Md Widadi Rahim menyampaikan apresiasi kepada MWCNU Batang-Batang dan seluruh ranting yang telah menyambut agenda tersebut. Menurutnya, pertemuan dengan kader di tingkat bawah menjadi energi bagi PCNU untuk terus berkhidmah.
“Pertama atas nama pengurus Cabang bersyukur dan berterima kasih. Ini menjadi energi bagi kami untuk terus berkhidmah di NU,” katanya.
Ia menjelaskan, agenda Touring dan Ngopi merupakan bagian dari ikhtiar PCNU Sumenep untuk menyapa pengurus dan Nahdliyin di berbagai wilayah. Sebelum ke Batang-Batang, agenda serupa telah dilakukan di sejumlah MWCNU, di antaranya Guluk-Guluk, Ganding, Manding, Lenteng, Kota, dan Batuputih.
“Insyaallah meskipun capek tetap berkhidmah. Tetapi dengan perkumpulan ini menjadi penyemangat,” ujarnya.
Kiai Widadi menilai, MWCNU memiliki posisi strategis karena menjadi perpanjangan tangan PCNU yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Karena itu, setiap MWCNU memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda dalam menjalankan program khidmah.
“MWCNU ini adalah posisi wakil cabang yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Tiap MWCNU ini tidak sama dalam memprioritaskan program untuk berkhidmat di NU,” jelasnya.
Menurutnya, secara kultural banyak masyarakat Sumenep yang mengaku sebagai bagian dari NU dan menjalankan tradisi ke-NU-an seperti maulid dan tahlil. Namun, hal tersebut perlu diperkuat dengan keterlibatan dalam organisasi agar tradisi keagamaan juga memiliki wadah jam’iyah yang kuat.
“Namun jika tidak perkumpulan secara berjam’iyah akan berdiri secara diri sendiri,” katanya.
Karena itu, lanjutnya, NU perlu terus menyesuaikan pola dakwah dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Ruhuddin dan Ruhud dakwah harus mampu hadir menjawab persoalan Nahdliyin saat ini agar NU tidak hanya dipahami sebatas organisasi tahlil dan pengajian.
“Cara kita melakukan ruhud dakwah harus menyesuaikan dengan zaman. Ruhuddin dan ruhud dakwah harus mendekat dengan kebutuhan saat ini. Supaya NU tidak hanya terkesan sebagai organisasi tahlil atau pengajian semata,” tegasnya.
Ia menambahkan, agenda pertemuan tersebut juga menjadi ruang bagi PCNU Sumenep untuk mendengar secara langsung kebutuhan pengurus dan Nahdliyin di tingkat MWCNU dan ranting.
“Maka pertemuan ini kami menyapa bagaimana kebutuhan dan keperluan Nahdliyin, karena tiap MWCNU memiliki kebutuhan yang tidak sama dalam melayani kebutuhan Nahdliyin,” pungkasnya.

