Cerpen: Syafa Zaneta
Di balik gambar kuda terbang dan panjangnya keris, ada aroma sate yang khas dan wangi dari bermacam-macam warung makan di Kota Sumenep. Bagi Nindi, seorang remaja berusia 16 tahun, Kota Sumenep adalah ruang kelas, pesantren, sekaligus rumah yang memeluk erat seluruh impiannya.
Sebagai seorang pelajar SMA sekaligus santri di Pondok Pesantren Al-Amien, Desa Prenduan, hidup Nindi bergerak dalam dua ritme yang berirama indah. Pagi harinya dihabiskan dengan kajian kitab kuning, rumus fisika, dan canda tawa bersama teman-teman sekolahnya. Namun, begitu matahari mulai terbenam, seragam abu-abunya berganti menjadi gamis cantik dan kerudungnya yang selalu setia menemani langkahnya di dunia pesantren.
Setiap sudut Sumenep Seperti menjadi pemandangan yang membuatnya jatuh cinta berkali-kali.
Saat bel sekolah berbunyi di sore hari, Nindi sering kali sengaja berjalan kaki melewati Masjid Gemma. Arsitektur masjid yang sangat indah dan mewah, dengan lampu-lampu yang bergantungan dengan warna yang berbeda-beda berhasil membuatnya takjub. Baginya, gerbang masjid yang megah itu seperti gerbang waktu; mengingatkannya bahwa perdamaian dan keberagaman sudah menjadi urat nadi kota ini sejak ratusan tahun lalu.
“Nindi, jangan lupa hafalan Imritimu besok pagi,” tegur Ustazah Halimah lembut saat Nindi baru saja meletakkan kitabnya.
Nindi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Di sinilah, di bawah naungan pesantren, ia belajar tentang hakikat hidup yang sesungguhnya. Jika di sekolah ia diajarkan cara menaklukkan dunia dengan ilmu pengetahuan, maka di pesantren ia dididik cara kemandirian dan akhlak yang baik. Dua dunia yang berbeda namun melebur sempurna di dalam hatinya.
Ada satu tempat favorit Nindi untuk merenungkan masa depannya: di atas tembok ujung pesantren. Sepuasnya dengan ujian sekolah dan setoran hafalan kitab, ia akan duduk di sana. Memandangi indahnya suasana di pesantren dan angin yang sangat sejuk. Di tempat itu, Nindi sering membuka buku catatannya. Ia menuliskan cita-citanya untuk kuliah di luar kota, bahkan kalau bisa ke luar negeri.
Namun, setiap kali angin malam di Kota Sumenep berembus menyentuh kulitnya, ada sebuah janji yang selalu ia bisikkan dalam hati:
“Sejauh apa pun aku melangkah nanti, Sumenep adalah tempatku kembali. Aku adalah santri yang berilmu, dan pelajar yang berakhlak, dibesarkan oleh tanah yang penuh berkah ini.”
Bagi Nindi, Sumenep bukan hanya tempat ia menghabiskan masa muda. Sumenep adalah detak jantungnya, bacaan doa di sepertiga malamnya, dan cinta yang akan selalu membekas di hati seorang pelajar dan santri.
Dua tahun berlalu secepat embusan angin malam di atas tembok pesantren. Nindi kini bukan lagi remaja 16 tahun yang hanya berani menuliskan mimpinya di buku catatan kusam. Gamis pesantren dan seragam abu-abunya kini telah berganti dengan almamater universitas, setelah ia berhasil memenangkan beasiswa penuh untuk kuliah di Kairo, Mesir.
Hari keberangkatan itu tiba dengan tangis haru. Ustadzah Halimah memeluknya erat di gerbang Al-Amien, memberikan sebuah keris kecil sebagai pembatas buku.
“Bawalah aroma Sumenep bersamamu, Nindi. Jaga akhlakmu di tanah itu” bisik beliau. Saat pesawat lepas landas, Nindi menatap jendela. Di bawah sana, Pulau Madura perlahan mengecil, namun detak jantungnya tetap tertinggal di jalanan Masjid Gemma.
Kairo adalah dunia yang benar-benar baru. Ramainya kota, banyak mobil di sepanjang jalan, dan bahasa Arab fushha yang bersahutan sempat membuat Nindi merasa asing. Di minggu-minggu pertama, rasa rindu rumah menyerangnya tanpa ampun. Ia merindukan aroma sate yang khas di sudut Kota Sumenep, ia merindukan lantunan bait-bait Imriti yang dibaca bersama teman-temannya di sepertiga malam.
Namun, Nindi tidak menyerah. Di kamar asramanya yang sempit, ia menempelkan gambar Masjid Gemma prenduan di dinding. Setiap kali kuliah terasa berat, atau rumus-rumus sains modern menguras energinya, ia akan menatap gambar itu.
Di universitas, Nindi dikenal sebagai mahasiswi yang unik. Ia cerdas dalam diskusi sains, namun memiliki ketenangan luar biasa yang ia pelajari dari bertahun-tahun mengaji kitab kuning. Ketika teman-teman dari negara lain bertanya dari mana ia belajar memadukan ilmu modern dan spiritualitas dengan begitu indah, Nindi akan tersenyum bangga dan menjawab, “Aku dibentuk oleh sebuah kota kecil di ujung Madura bernama Sumenep.”
Empat tahun menuntut ilmu di negeri orang, Nindi akhirnya lulus dengan predikat terbaik. Tawaran untuk bekerja di perusahaan riset internasional di Eropa datang menghampiri. Itu adalah impian banyak orang, sebuah kesempatan untuk benar-benar “menaklukkan dunia” seperti yang pernah ia pelajari di sekolah dulu.
Nindi berdiri di tepi Sungai, menatap matahari terbenam yang memancarkan warna jingga yang sama persis dengan senja di atas tembok pesantrennya dulu. Ia membuka buku catatan lamanya, membaca kembali kalimat yang ia tulis saat berusia 16 tahun: “Sejauh apapun aku melangkah nanti, Sumenep adalah tempatku kembali.”
Sebuah senyuman mantap terukir di wajahnya. Ia menolak tawaran di Eropa. Beberapa minggu kemudian, sebuah taksi berhenti di depan gerbang Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Nindi turun dengan senyum mengembang, menjinjing kopernya yang penuh dengan buku-buku baru. Angin sore Sumenep menyambutnya, terasa sejuk dan akrab, seolah berbisik selamat datang
Kini, Nindi berdiri di depan kelas yang dulu pernah menjadi tempatnya belajar. Di hadapan santri-santri muda yang menatapnya dengan mata berbinar, Nindi memulai pelajaran pertamanya bukan sebagai murid, melainkan sebagai seorang pendidik. Ia membawa ilmu dunia dari Kairo, namun tetap dengan sopan dan akhlak seorang santri Sumenep. Dua dunia yang berbeda itu kini tidak hanya melebur di dalam hatinya, tetapi telah ia sinarkan untuk membangun tanah kelahirannya.
Ilmu yang kalian pelajari di sini,” ujar Nindi, suaranya jernih memecah keheningan kelas, “bukan sekadar hafalan untuk lulus ujian. Kitab-kitab yang kalian kaji setiap malam adalah fondasi jiwa. Ketika kalian menggenggam dunia dengan sains modern, jiwa itulah yang menjaga kalian agar tetap menapak di bumi.”
Para santri mendengarkan tanpa kedip. Bagi mereka, Nindi adalah perwujudan dari mimpi-mimpi yang sering mereka bisikkan di sela-sela waktu asar. Nindi bukan lagi sekadar cerita sukses yang jauh di sana; ia berdiri nyata di depan mereka, mengenakan kerudung sederhana, namun dengan binar mata yang telah melihat luasnya peradaban dunia.
Selesai mengajar, Nindi berjalan menyusuri koridor pesantren yang membawa kembali ribuan memori lama. Langkah kakinya terhenti ketika melihat sosok sepuh yang amat ia hormati sedang berjalan dari arah masjid. Ustadzah Halimah.
Nindi bergegas mendekat, lalu mencium tangan sang guru dengan takzim. Air mata kebahagiaan hampir saja menetes dari pelupuk mata Ustazah Halimah. beliau menepuk-nepuk bahu Nindi dengan bangga.
“Nindi… kamu benar-benar pulang,” bisik Ustazah Halimah, suaranya bergetar haru. “Eropa kehilangan seorang peneliti hebat, tapi Sumenep memenangkan kembali mutiaranya.”
Nindi tersenyum tulus, mengeluarkan pembatas buku berupa keris kecil yang dulu diberikan sang ustazah dari dalam tasnya. “Aroma Sumenep tidak pernah hilang dari ingatan saya, Ustazah. Kairo memberikan saya sayap untuk terbang, tetapi Al-Amien adalah akar yang membuat saya tahu ke mana harus kembali.”
Tahun-tahun berikutnya menjadi babak baru yang luar biasa bagi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan dan kota Sumenep. Di bawah bimbingan Nindi, sebuah laboratorium riset sains berbasis pesantren pertama didirikan. Nindi menjembatani koneksi antara universitas di Kairo dengan pesantrennya, membuka jalan bagi santri-santri muda lain untuk mendapatkan beasiswa internasional.
Sore itu, Nindi kembali berdiri di atas tembok pesantren, tempat favoritnya saat remaja dulu. Beduk magrib mulai bertalu-talu dari kejauhan, bersahutan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dari pengeras suara masjid. Angin senja berembus lembut, membawa aroma tanah Madura yang khas.
Nindi memejamkan mata sejenak, merasakan kedamaian yang tidak pernah ia temukan di tengah hiruk-pikuk Kairo maupun bayang-bayang kemegahan Eropa. Ia tahu perjalanannya menaklukkan dunia sudah selesai, dan kini tugasnya yang paling mulia baru saja dimulai: membangun dunia dari sudut kecil tanah kelahirannya, Sumenep.
-Selesai-
Syafa Zaneta adalah siswa SMA Al-Muqri, Prenduan, Sumenep.

