Image Slider

Hadrah Banjari: Ketika Syiar Bertemu Saweran

Oleh: Moh. Riski Kohar*)

Di Madura, Hadrah Al-Banjari bukan sekadar bunyi rebana. Ia tumbuh bersama shalawat, pengajian, peringatan hari besar keagamaan, hajatan, dan berbagai ruang sosial masyarakat. Hadrah menjadi salah satu cara masyarakat merawat kecintaan kepada Nabi sekaligus mempertahankan kesenian yang bernapas religius.

Bahkan pada 2026, Pemerintah Kabupaten Sumenep masih memberikan ruang khusus bagi pelestarian hadrah melalui Festival Hadrah Klasik. Enam grup terbaik tampil dalam ajang tersebut sebagai bagian dari upaya apresiasi dan pelestarian seni hadrah di Sumenep.

Namun, di tengah perkembangan tersebut, ada fenomena lain yang patut diperbincangkan, perempuan berjoged di depan vokalis Hadrah Banjari, disertai pemberian saweran.

Bagi sebagian orang, mungkin tidak ada yang perlu dipersoalkan. Musik dimainkan, penonton menikmati, lalu saweran diberikan sebagai bentuk apresiasi. Tetapi ketika pertunjukan itu membawa identitas Hadrah yang lekat dengan shalawat dan nilai keagamaan, persoalannya menjadi lebih kompleks.

Pertanyaannya bukan sekadar boleh atau tidak?

Pertanyaan yang lebih penting adalah ke mana arah perubahan makna Hadrah ketika ekspresi hiburan mulai mengambil ruang yang semakin besar?

Bukan Sekadar Soal Joget

Membicarakan fenomena ini jangan sampai berujung pada penghakiman terhadap perempuan.

Perempuan yang berjoged di depan panggung tentu tidak berdiri dalam ruang kosong. Ada musik yang membangun suasana, ada penonton yang merespons, ada vokalis yang berinteraksi, ada penyelenggara yang mengatur panggung, dan ada budaya masyarakat yang secara perlahan menentukan apa yang dianggap biasa.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata tentang perempuan.

Jika kita hanya menunjuk perempuan sebagai sumber masalah, kita justru gagal membaca fenomenanya secara utuh.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah mengapa ekspresi semacam itu dapat tumbuh dalam ruang pertunjukan Hadrah dan kemudian dianggap sebagai bagian dari kemeriahan acara?

Di sinilah kita perlu melihat perubahan fungsi sebuah kesenian.

Penelitian tentang Hadrah Al-Banjari Jamiyyah At-Taqwa di Bangkalan menemukan bahwa hadrah memiliki banyak fungsi bagi masyarakat, antara lain sebagai sarana komunikasi, pendidikan, ekonomi, hiburan, adat, dan ritual keagamaan.

Artinya, Hadrah memang tidak pernah sepenuhnya terpisah dari hiburan. Ia hidup di tengah masyarakat dan selalu mengalami proses adaptasi.

Persoalannya muncul ketika unsur hiburan bukan lagi menjadi bagian dari pertunjukan, tetapi justru mulai menentukan wajah pertunjukan.

Ketika Saweran Mengubah Suasana

Saweran juga tidak otomatis berarti buruk.

Dalam berbagai pertunjukan musik, saweran dapat menjadi bentuk apresiasi penonton. Penelitian mengenai pertunjukan dangdut, misalnya, menunjukkan bahwa saweran dapat muncul sebagai respons spontan maupun tindakan yang direncanakan terhadap sajian musik.

Tetapi makna sebuah tindakan sangat bergantung pada konteks.

Saweran di panggung dangdut tentu memiliki konteks yang berbeda dengan saweran di panggung Hadrah.

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Ketika seseorang memberikan uang kepada penyanyi Hadrah, lalu penonton lain ikut berjoged dan mendekati vokalis, pertunjukan perlahan dapat mengalami perubahan suasana. Pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju kepada shalawat dan musik, tetapi juga kepada interaksi antara penonton dan penampil.

Jika keadaan tersebut terus berulang, bukan tidak mungkin masyarakat akhirnya lebih mengingat kemeriahan panggung daripada pesan keagamaan yang dibawakan.

Padahal, Hadrah Al-Banjari dalam masyarakat Madura juga dipahami sebagai media komunikasi dakwah. Sebuah penelitian tentang Diba’an Al-Banjari di Pamekasan pada 2026 menemukan bahwa masyarakat memaknainya bukan hanya sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai media pembelajaran nilai Islam, silaturahmi, dan penguatan identitas keagamaan.

Antara Syiar dan Hiburan

Di sinilah tantangan Hadrah hari ini.

Kita tidak mungkin meminta kesenian berhenti berkembang. Hadrah harus mampu mengikuti perubahan zaman agar tetap diminati generasi muda.

Tetapi mengikuti zaman tidak berarti kehilangan batas.

Hadrah boleh kreatif, Aransemen boleh berkembang, Penampilan boleh dibuat menarik, Bahkan unsur hiburan dapat dipertahankan.

Yang perlu dijaga adalah ruhnya.

Sebab ada perbedaan antara menjadikan hiburan sebagai jalan agar pesan keagamaan lebih mudah diterima dan menjadikan simbol keagamaan sekadar kemasan bagi sebuah pertunjukan hiburan.

Batasnya memang tidak selalu mudah dilihat.

Namun, justru karena itulah diperlukan kesadaran bersama.

Penyelenggara perlu memikirkan tata pertunjukan. Pemain perlu memahami karakter kesenian yang dibawakan. Vokalis perlu menjaga interaksi dengan penonton. Dan masyarakat sebagai penonton juga perlu memahami bahwa tidak semua ruang hiburan harus diperlakukan dengan cara yang sama.

Jangan Membunuh Seni, tetapi Jangan Kehilangan Adab

Kritik terhadap fenomena ini juga tidak boleh berubah menjadi ajakan untuk mematikan Hadrah.

Sebaliknya, Hadrah perlu diselamatkan dari dua ekstrem. Pertama, menjadikannya terlalu kaku sehingga kehilangan daya hidup. Kedua, membiarkannya menjadi sekadar tontonan sehingga identitas religiusnya semakin kabur.

Di sinilah konsep adab menjadi penting.

Adab bukan berarti membatasi kreativitas. Adab justru memberikan arah agar kreativitas tidak kehilangan orientasi.

Jika Hadrah membawa shalawat, maka suasana pertunjukan idealnya tetap mendukung penghormatan terhadap shalawat.

Jika Hadrah menjadi bagian dari dakwah, maka ekspresi yang muncul di dalamnya semestinya tidak justru menenggelamkan pesan dakwah tersebut.

Dan jika Hadrah diposisikan sebagai warisan budaya keislaman masyarakat, maka para pelakunya memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar perkembangan zaman tidak membuat warisan itu kehilangan makna.

Persoalannya bukan apakah Hadrah boleh menghibur.

Tentu boleh.

Persoalannya adalah apakah hiburan itu masih berada dalam koridor nilai yang menjadi ruh Hadrah.

Sebab ketika seseorang pulang dari sebuah pertunjukan Hadrah, ada pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan

Apa yang paling ia ingat, shalawat yang dilantunkan, pesan keagamaan yang disampaikan, atau perempuan yang berjoged dan uang yang disawerkan?

Jawaban atas pertanyaan itu mungkin menjadi cermin sederhana tentang ke mana Hadrah Banjari sedang bergerak.

Kita tidak perlu mengembalikan Hadrah ke masa lalu.

Kita hanya perlu memastikan bahwa ketika Hadrah berjalan menuju masa depan, rebana boleh berubah bunyinya, panggung boleh berubah bentuknya, tetapi adab dan ruh keagamaannya jangan sampai hilang.

*) Mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah Sumenep.

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga