Tunisia, NU Online Sumenep
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia memperingati Hari Santri 2026 dengan menggelar sejumlah agenda. Salah satunya istigasah kubra yang dilaksanakan pada Kamis (22/10/2026). Peringatan ini mengangkat tema ‘Peran Strategis Santri di Era Pergolakan Geopolitik‘.
Tema tersebut dipilih untuk merespons dinamika sosial, politik, dan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia maupun dunia internasional. Tema ini juga selaras dengan tema besar Hari Santri 2026 yang ditetapkan Kementerian Agama Republik Indonesia, yakni ‘Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas‘.
Ketua Panitia Hari Santri 2026 PCINU Tunisia, Ahmad Fajar Khan Mubarok, memaparkan sejumlah kegiatan yang disiapkan untuk memeriahkan peringatan Hari Santri tahun ini. Menurutnya, pada 22 Oktober lalu telah dilaksanakan Istighatsah Kubro yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan.
“Selain itu, PCINU Tunisia juga menggelar lomba ulasan buku (book review) yang berkolaborasi dengan Komunitas NU Book TN” terangnya, Selasa (27/10/2026).
Adapun acara penutupan sekaligus puncak peringatan Hari Santri 2026 PCINU Tunisia dijadwalkan berlangsung pada Kamis (29/10/2026). Kegiatan tersebut akan diisi dengan diskusi kebangsaan yang relevan dengan tema besar peringatan tahun ini. Kemudian, nantinya acara akan dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba ulasan buku.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Ardhi Pramana, Lc., M.A., menyampaikan materi tentang makna dan hakikat menjadi seorang santri. Menurutnya, santri merupakan seseorang yang sedang menempuh perjalanan menuju hakikat kebenaran.
“Santri juga dapat dimaknai sebagai Muridullah atau murid Allah, yakni orang yang senantiasa berusaha menempuh jalan menuju ridho-Nya,” terangnya.
Ia menjelaskan, salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah melalui kecintaan kepada Rasulullah SAW. Rasulullah menjadi pintu utama bagi umat Islam dalam menempuh jalan menuju Allah SWT.
Dalam penjelasannya, Ustadz Ardhi juga mengutip salah satu ungkapan dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari:
العلم إن قارنته الخشية فلك، وإلا فعليك
Artinya, ilmu akan menjadi keuntungan bagi seseorang apabila disertai rasa takut kepada Allah. Sebaliknya, ilmu justru menjadi beban apabila tidak diiringi rasa takut kepada-Nya.
” Seorang santri dan penuntut ilmu harus senantiasa menjaga rasa takut kepada Allah SWT, termasuk dengan menjauhi perbuatan maksiat. Menjadi santri bukan berarti telah sempurna dalam kebaikan, ketaatan, dan ibadah, melainkan terus berusaha memperbaiki diri dan menapaki jalan kebaikan,” pungkasnya.
Sekedar Informasi, kegiatan ini diawali dengan pembacaan Surah Yasin dan Hizib Bahr yang dipimpin Mustasyar PCINU Tunisia, Syekh Sholahuddin al-Mistawi. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembukaan oleh pembawa acara, Mutiah Ma’rufah, serta sambutan dari sejumlah pengurus dan tokoh termasuk Ketua Tanfidziyah PCINU Tunisia, Yusril Muna, M.A.
Pewarta: Hasna May Ziadah (Mahasiswi Universitas Az-Zaitunah Tunisia)

