Polemik MBG dan KMP
Di bumi pertiwi
Dua cerita lahir dari janji
Satu bertajuk piring penuh gizi bagi anak negeri
Satu lagi koperasi desa berlabel Merah Putih penopang mandiri
Namun di lini masa, riuh tak kunjung berhenti
Niat yang luhur menjelma polemik yang membelit diri
Di satu sudut, Makan Bergizi Gratis membawa harapan hakiki
Tapi di sudut lain, isu keracunan dan besarnya anggaran jadi beban yang menghantui
Suara mahasiswa menggema mengkritik tajamnya kompromi
Mempertanyakan tata kelola dan transparansi
Takut anggaran negara habis tak tersisa lagi
Lalu Koperasi Merah Putih yang berdiri di desa menjadi saksi
Katanya jadi penggerak pasokan, penyambung asa petani di bumi pertiwi
Namun kritik berbisik tentang skema utang dan kuasa tirani
Hingga tudingan miring membuat wajah publik memerah pasrah menghadapi situasi
Antara niat tulus memotong kebocoran subsidi yang terjadi
Dan ketakutan akan bayang-bayang kuasa yang terlalu mendominasi
Sang Pemimpin terus maju melangkah pasti
Menepis narasi gagal yang dituduhkan bertubi-tubi
“Ini demi gizi anak bangsa, demi ekonomi rakyat yang kita perjuangkan sampai mati!”
Para pemikir pun berdebat, ada yang membela esensi hakiki
Ada yang menolak mentah-mentah tanpa kompromi
Sembari mengingatkan, jangan sampai korupsi kembali mencuri porsi
Kontroversi ini adalah cermin negeri yang sedang menguji diri
Antara megahnya mimpi penguasa dan realita di akar bumi
Merah Putih tetap berkibar di atas piring dan papan nama institusi
Menunggu waktu membuktikan: apakah ini maslahat nyata, atau sekadar ilusi?

