Image Slider

Ketenangan bagi Generasi Milenial: Tafsir atas Dzikir secara Kontekstual

Al-Qur’an menegaskan bahwa dzikir merupakan sarana menuju ketenangan. Dengan singkat nan padat, al-Qur’an berpesan:

أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

Artinya: Ingatlah dengan dzikir pada Allah, hati menjadi tenang dan tenteram. (QS. Al-Ra’d [13]: 28).

Dzikir memuat dua unsur, yaitu mengingat dan menyebut. Keduanya merupakan makna dari kata dzikir itu sendiri. Yang paling inti dari keduanya ialah mengingat, lantaran ia merupakan aktivitas jiwa, sedangkan menyebut adalah aktivitas raga. Apalah arti raga menyebut Tuhan, sedangkan jiwa melanglang buana ke lain tujuan.

Ayat ini menjamin dzikir sebagai solusi bagi permasalahan hidup. Akan tetapi, bagaimana bentuk konkretnya dalam kehidupan? Apakah sekadar menyebut dan mengingat Allah betul-betul dapat menenangkan mereka yang dijajah, mereka yang dililit hutang, mereka yang patah hati, mereka yang kelaparan, mereka yang dirampas tanah airnya, mereka yang dibunuh anggota keluarganya dan seabrek manusia yang tertindih segudang permasalahan hidup? Tentu saja dzikir tersebut harus maksimal. Apabila asal-asalan, maka tenang belum berani bertandang. Bukankah pelaku shalat masih banyak yang bermaksiat, padahal shalat merupakan dzikir tertinggi? Anda mungkin menanggapi, “berarti orang itu shalatnya belum maksimal”. Masalahnya, bagaimana seseorang, khususnya masyarakat awam dapat bersembahyang secara maksimal, jika ia kelaparan, terancam dibunuh orang, putus cinta dan lain sebagainya? Tidakkah yang mampu khusyu’ dalam shalat dan dzikir hanyalah segelintir orang-orang pilihan, seperti rasul, nabi dan wali? Jika demikian, maka bagaimana dengan masyarakat awam? Bagaimana membuktikan bahwa dzikir merupakan solusi masalah hidup, jika kita membenturkannya dengan fakta yang dihadapi masyarakat awam? Di sinilah pentingnya tafsir kontekstual atas dzikir, yakni memaknai dzikir secara sesuai dengan kebutuhan dan tantangan umat manusia.

Penulis hendak menafsirkan dzikir secara psikologis. Abraham Maslow membagi kebutuhan pokok manusia kepada empat. Pertama, kebutuhan material yaitu kebutuhan akan sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (kediaman) serta kebutuhan material lainnya, seamtsal kendaraan, alat komunikasi dan lain sebagainya. Kedua, kebutuhan untuk dihargai. Ketiga, kebutuhan akan keamanan. Keempat, kebutuhan aktualisasi diri (menjadi diri sendiri). Kebutuhan keempat (aktualisasi diri) – tegas Maslow – adalah kebutuhan tertinggi. Bagaimana menjadi diri sendiri? Apa saja kebutuhannya? Di bawah ini, penulis akan membeberkannya menggunakan teori kebutuhan dasar bagi mental yang dirancang oleh Erich Fromm, pakar psikologi humanistik. Dalam bukunya, “The Art of Loving”, Fromm membagi kebutuhan pokok bagi mental manusia kepada lima sebagaimana berikut:

1. Relatedness (Hubungan Sosial)

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia tentu saling membutuhkan satu sama lain. Dahaga akan interaksi sosial bisa dipenuhi melalui dua cara; negatif dan positif. Cara negatif dibagi lagi menjadi dua. Pertama, sumbassive yaitu ikut-ikutan kemauan kelompok yang diikuti. Cara ini membuat sang pelaku tidak merdeka, karena pikiran dan tindakannya dipaksa dan ditekan oleh kemauan kelompoknya. Kedua, power yaitu memaksakan kehendak pribadi dalam interaksi sosial. Cara demikian juga kurang sehat, karena membuat orang lain terkekang untuk kemudian menyalakan api permusuhan. Sebaliknya, cara positif di sini ialah love atau cinta. Cinta disalurkan menjadi empat upaya. Pertama, care yaitu memberi perhatian kepada orang lain. Kedua, responsibility yaitu bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan orang lain. Ketiga, respect yaitu menghormati orang lain. Keempat, knowledge yaitu memahami orang lain apa adanya alias berdasarkan apa dan bagaimana sebenarnya yang dialami orang lain.

2. Trancendence (Merdeka)

Cara untuk merdeka dibagi dua, yaitu negatif dan positif. Negatif berupa tindakan merusak (destruct) yaitu bertindak semaunya. Ini penulis sebut sebagai liar. Positif berupa tindakan membangun (create) yaitu mengembangkan bakat dan minat. Ini penulis sebut sebagai bebas. Lebih jauh tentang perbedaan bebas dan liar, penulis mengupasnya dalam esai “Apa Bedanya Bebas dan Liar”, esai dalam Aldi Hidayat, Renungan Santai di Bulan Ramadhan: Antologi Esai Hikmah Rutinitas Harian (Sumenep: Sabila, 2020).

3. Rootedness (Pengetahuan tentang Asal-Usul)

Fromm menegaskan bahwa kelahiran manusia adalah peristiwa kebetulan. Artinya, mereka lahir ke dunia tanpa mereka sengaja dan tanpa mereka minta. Asal-usul di sini bagi penulis tidak sesederhana konsepsi Fromm. Islam telah menegaskan asal-usul manusia dari keberadaan yang suci untuk kemudian kembali pada Dzat yang Maha Suci. Tanpa pengetahuan macam ini, orang yang menderita boleh jadi berpikir bahwa hidupnya tidak berguna, sehingga menganggap bunuh diri sebagai solusinya. Pengetahuan akan asal-usul membuat manusia dapat menghargai keberadaannya, meski saat ia menderita.

Cara mempraktekkan pengetahuan ini ada dua, yaitu negatif dan positif. Negatif berupa fixation yaitu menganggap diri ini sebagai sesuatu yang asing bagi sesuatu di sekitarnya. Anggapan demikian membuatnya minder saat menghadapi kenyataan. Sementara itu, cara positif berupa wholeness yaitu menganggap diri sebagai bagian dari sesuatu di sekitarnya. Karenanya, ia tidak ketakutan, minder, grogi dan perasaan gelisah lainnya. Dengan anggapan ini, ia optimis dalam menerjang kenyataan.

4. Sense of Identity (Pengetahuan tentang Kekhasan Diri Sendiri)

Manusia tidak selamanya bisa bertahan diperbudak oleh kemauan orang lain atau kelompoknya sendiri. Pasalnya, setiap orang memiliki diri yang khas dan pasti butuh untuk menjadi khas atau menjadi apa adanya. Dalam memenuhi kebutuhan ini, ada dua cara yang ditempuh manusia, yaitu negatif dan positif. Negatif berupa ketergantungan pada orang lain hingga tak menyisakan ruang mandiri bagi diri sendiri. Positif berupa individuality yaitu kemandirian, sehingga ia berani dan bisa memenuhi aneka kebutuhan dan keperluannya tanpa terlalu bergantung pada orang lain.

5. Frame of Orientation (Kerangka Tujuan)

Setiap orang pasti memiliki keinginan. Adanya keinginan menandakan bahwa manusia hidup tentu mempunyai tujuan. Tujuan jika dikaitkan dengan generasi milenial, maka dapat berarti cita-cita. Tujuan di sini ada dua, yaitu global dan spesifik. Tujuan global tidak memiliki batasan yang jelas, seperti bercita-cita menjadi orang yang berguna bagi bangsa. Berguna dari segi apa? Ini tidak jelas. Adapun tujuan spesifik memiliki batasan yang jelas, seperti bercita-cita menjadi penulis novel sekaliber Pramoedya Ananta Toer yang banyak mengisahkan peristiwa heroik dalam novelnya.

Semua penjabaran tadi adalah pernak-pernik dzikir yang perlu dipenuhi. Artinya, dzikir baru bisa menenangkan, bilamana semua kebutuhan tadi kita kejar. Demikian tafsir penulis atas dzikir secara kontekstual. Semoga berguna bagi generasi milenial. Wallahu A’lam.

 

The spiritual dimension can not be ignored, for it is what makes us human

Dimensi spiritual (hati) tidak bisa diabaikan, karena dialah yang menjadikan kita manusia. (Victor Frankl : Pencetus Logoterapi)

 

Aldi Hidayat: Alumnus PP Annuqayah Lubangsa

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga