Pragaan, NU Online Sumenep
Seluruh pelajar NU yang berkhidmat di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) selalu diuji militansinya dan tidak pernah menolak amanah tanpa alasan apa pun.
Penegasan ini sampaikan oleh Zaynollah saat didaulat sebagai narasumber di program podcast Ramadhan, Sabtu (24/4/2021) di Studio 2 TVNU Sumenep, Cecce’ Laok, Prenduan, Pragaan, Sumenep. Acara dipandu oleh Choirur Rahman.
Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPNU Sumenep menceritakan bahwa cinta terakhirnya jatuh pada IPNU, mengingat sebelumnya ia aktif di berbagai organisasi.
“Lewat IPNU lah saya mengenal perjuangan para founding father dan muassis NU, bahkan Resolusi Jihad dan sosok yang merobek bendera Belanda di hotel Yamato Surabaya adalah dari kalangan santri. Semuanya kami temukan di IPNU dan tidak pernah kami temukan di sekolah,” curahnya.
Saat melanjutkan tongkat estafet organisasi, ia mentransformasikan program kerjanya dengan cara memanfaatkan mesin digital di masa pandemi. Salah satunya adalah membuat plat phone sebagai media dakwah bil online.
“Selama pandemi, kami membuat channel youtube PC IPNU Sumenep untuk dijadikan media komunikasi dan berkarya. Alahmdulillah, saat ini subscriber dan jam tayangnya mencapai target. Coba kita iling-iling, kita mengenal Gus Baha, Gus Reza, Gus Miftah, dan kiai lainnya lewat mana? Tentunya lewat media sosial (Medsos),” sergahnya.
Selain itu, ia juga memanfaatkan dunia entrepreneur sehingga IPNU tidak bergantung kepada siapa pun kecuali tunduk pada NU dan kiai.
“Kami memanfaatkan beras petani lokal, karena beras mereka tidak bisa dijual. Bahkan beras bantuan pun tidak menggunakan beras lokal. Berangkat dari permasalahan inilah, kami membantunya dengan mendistribusikannya. Program ini kami beri nama beras zakat,” ungkapnya.
Tak sampai di situ, aparatur pemeritah mulai mempercayai IPNU hingga sampai ke tingkat Pimpinan Ranting (PR) IPNU, tepatnya di Desa Andulang, Kecamatan Gapura.
“Ranting Andulang dipercayai oleh pemerintah desa untuk mengelola tanah catoh. Sedangkan di daerah perkotaan, dakwah kami bisa diterima oleh warga. Salah satu bukti adalah berdirinya IPNU-IPPNU di SMA Negeri 1 Sumenep,” tambahnya.
Dirinya berharap kepada TVNU Sumenep untuk memanfaatkan potensi pelajar NU. Dengan berkolaborasi bisa memperbanyak simpul gerakan NU, terutama di bidang perfilman.
“Dari ratusan kader di Sumenep, masak kader IPNU tidak bisa seperti Hanung Bramantyo?,” tanyanya sambil melontarkan tawa.
Di closing statementnya, ia mengingatkan bahwa hidup ini adalah perjalanan. Di setiap perjalanan pasti ada pelajaran.
“Untuk menyempurnakan hidup, maka setiap pelajaran harus menyempurnakan pelajar,” tandasnya.

