Image Slider

Telur-telur Terbang Tepat di Bawah Awan

Cerpen: Moh. Rofqil Bazikh*

Sekali dua kali Mantir kalap apabila memandang wajah Sapeya yang terdapat borok kecil di pelipis bagian kiri. Tidak jelas dari mana muasal borok kecil yang tentu sudah kering itu. Yang jelas Mantir akan terus-terusan menyentuh borok itu dan mengolesi air hangat. Biar luka kecil ini lekas sembuh, pikirnya. Sapeya sendiri sudah tidak terhitung berapa tahun tergeletak di atas lincak kayu. Seingat Mantir, ibunya sudah enam tahun tidak beraktivitas sebagaimana biasanya. Sebelumnya, Sapeya saban hari akan duduk di ujung dermaga menunggu barang-barang yang turun dari kapal. Kemudian ia mengantarnya kepada si empunya. Dengan cara itu, Sapeya berhasil menghidupi Mantir sejak umur dua tahun kurang satu bulan. Tetapi, yang tersisa hari ini hanya nyeri di dada Mantir setiap kali mata Sapeya menatap ke arahnya.

Sapeya hanya tidur beralas jarik atau sampir motif batik. Benda-bendar kotor yang menempel nyaris tidak kelihatan sebab semua yang digunakan berwarna kecokelatan. Bau tak sedap? Memang ada sedikit bau yang tidak sedap. Sapeya seringkali hanya kencing di atas lincak tanpa sedikit pun memberi aba-aba pada Mantir. Jika begitu, Mantir dengan sangat senang hati mengambil sampir batik itu dan mencucinya. Kemudian, ia mengganti dengan sampir lain untuk alas pada pantat ibunya. Tahun pertama Sapeya begitu—tepat saat Mantir berusia duapuluh dua pas—Mantir sendiri merasa jijik. Meski, pada mulanya Sapeya tidak langsung lumpuh, hanya saja ia butuh dibopong untuk ke kamar mandi. Tentu, Mantir harus dengan sabar membantu Sapeya jongkok di atas kloset dan menunggunya sambil berdiri. Mantir juga mengaku jijik saat ia mendengar bunyi tubuh bagian bawah ibunya yang membuar air kecil. Bunyi yang mirip desis ular itu bagi Mantir bikin mual.

Setelah bertahun, baru Mantir dengan sangat senang merawat ibunya. Ia terus menatap borok kecil sambil sekali-kali kalap dan lupa diri. Borok kecil di pelipis bagian kiri Sapeya memang seperti menolak untuk sembuh. Berkali-kali pula Mantir menumbuk daun Binahong untuk kemudian diletakkan di atas borok itu. Namun, tidak ada hasil yang bisa terlihat selain hanya luka yang mengering. Memang, borok itu bukan persoalan besar, melainkan kaki Sapeya yang tak berfungsi adalah persoalan utamanya. Tetapi, Mantir tetap merasa nyeri, setiap melihat borok yang kecil itu. Ditambah lagi apabila kebetulan ada nanah yang mengucur dari sana. Nanah bercampur darah cair pernah suatu ketika sampai di pipi Sapeya dari saking banyaknya. Makanya, Mantir bersyukur borok itu bisa kering. Ia kembali mengolesi air hangat dan Sapeya hanya diam sambil menatap wajah anaknya. Matanya sering menatap celurit yang lurus dengan kakinya. Celurit itu tergantung di dinding persis juga di bawah jam berbentuk masjid.

Mantir bukan tidak mengobati ibunya sebagaimana yang disangkakan sebagian orang. Puluhan kali ke dokter dan tidak menghasilkan apa-apa. Puluhan kali juga ia melewati jalan berbatu dan kelokan yang rumit hanya untuk menemui seorang dukun yang konon dipercaya. Tetapi, hasilnya sama saja, Sapeya tetap tidak bisa berdiri dan hanya berbaring dengan kakinya yang terus mengunjur. Tidak cukup sampai di situ, Mantir dengan susah payah menjalani ritual menyepi di makam-makan keramat untuk mendapat petunjuk. Tidak ada petunjuk atau pun wangsit, selama empat puluh satu hari Mantir hanya mendengar desis ular yang sama dengan bunyi kemaluan Sapeya saat membuang air kecil.

“Sudah tidak usaha bawa ibu ke mana-mana, biarkan sampai nyawa ibu benar-benar dicabut yang Kuasa.”

“Kita dituntut untuk berusaha bukan menunggu ajal.”

“Sudah cukup usahamu puluhan kali ke dokter dan dukun, ibu tidak mau kau hanya mengerjakan hal yang sia-sia.”

Semenjak ucapan itu Mantir sudah putus asa dan tidak lagi mendatangi dokter atau pun dukun. Ia duduk di samping ibunya dan setiap pagi menyuapinya makan. Tidak lupa pula, borok yang kecil itu diolesi air hangat lagi dan lagi. Sehabis menyuapinya dan mengolesi borok yang kecil ia berpamitan pada Sapeya. Mantir sudah lama mengganti pekerjaan ibunya di ujung dermaga. Ia mengantar barang-barang miliki orang yang diturunkan dari kapal. Bayaran yang tidak besar hanya cukup untuk makan dua hari kalau kebetulan yang diantar banyak. Hanya karena bermodal otot dan bahunya yang kekar, keringat selalu desar mengucur dari dahi Mantir. Ia menatap wajah ibunya dan dadanya kembali diserang nyeri sebelum akhirnya beranjak pergi.

**

Sapeya menjerit di pematang sawah saat celurit suaminya menghantam kepala Muammang. Waktu itu, Sapeya tidak punya anak dan baru hamil sekitar satu bulan. Celurit dengan gagang kayu ulin itu memecahkan kening Muammang, lalu darah muncrat dari sana. Beruntung, nyawa Muammang masih bisa diselamatkan meski selama dua hari ia tidak sadar. Di dahi dan kepalanya terdapat enam belas jahitan. Mata Sapeya membangkak dan menangis sampai di rumah. Di tambah lagi, tetangga berdatangan mengunjungi rumahnya yang kecil itu. Suaminya hanya duduk di teras depan sambil membiarkan celurit yang habis mencium kening Muammang itu telanjang. Masih terdapat banyak bekas darah di besi yang putih dan tangan suami Sapeya sendiri.

“Muammang itu sembarangan, tidak sopan mengganggu istriku di dermaga.”

Sebagai suami yang baik, tentu tidak senang dengan perlakuan Muammang. Ditambah lagi pengaduan Sapeya saat Muammang mengganggunya tempo itu. Mata dan kuping suami Supeya panas, mirip makanan bercampur balado. Sehari setelahnya, atau tepat hari kejadian, ia mengajak Sapeya keluar rumah. Sapeya nurut saja pada ajakan suaminya. Sapeya berjalan di belakang. Tepat di pematang sawah, Muammang berjalan dari arah yang berlawanan. Tanpa banyak bicara suami Sapeya mengeluarkan celurit dari balik jaket hitam yang dikenakan. Mula-mula ia mendorong tubuh Muammang sampai terjatuh. Di saat begitulah celurit putih itu mengecup kening Muammang. Ia ditinggal tergeletak di pematang sebelum akhirnya para tetangga berdatangan untuk melarikan ke puskesmas terdekat.

Keluarga Muammang memang sering bermasalah dengan suami Sapeya. Adiknya, Mukarrap, pernah mengambil barang yang sudah menjadi hak Supeya untuk diantar di dermaga. Suami Sapeya tidak bertindak banyak untuk itu, ia hanya memberi tamparan tak keras pada pipi Mukkarap. Tidak aneh, jika Muammang yang berulah kemudian dibalas dengan sangat kejam. Sebab bukan pertama kali sesaudara itu bertingkah di hadapan Sapeya. Suami Sapeya beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh celurit yang masih berwaran merah. Ricik-ricik air menetes dari ujung celurit, seperti darah dari kening Muammang. Namun, dendam di dada suami Sapeya masih belum padam juga. Sesudah itu ia kembali duduk dan bercakap dengan beberapa tetangga yang datang setelah sebelumnya menggantung celuritnya di dinding kamar.

**
Mantir bertemu dengan Mukarrap di dermaga, orang yang menurut cerita ibunya pernah bermasalah dengan ayahnya. Ayah Mantir meninggal saat Mantir kecil dan tidak tahu betul, bahkan sampai sekarang tidak ingat, wajah ayahnya. Perihal bertemu Mukarrap itu yang bisa membuat Mantir kembali mengingat ayahnya. Kakak dari Mukarrap, Muammang, meninggal satu tahun lalu setelah setengah bulan kencing nanah. Mata Mukarrap menatap mata Mantir, tatapan mereka bertemu. Sesudah itu, Mukarrap melengos mirip perempuan yang sedang tidak suka pada lawan bicaranya.

“Kamu jangan macam-macam sama dia,” bisik orang di samping Mantir setelah Mukarrap menjauh.

Kepalanya justru kembali pada kematian ayahnya. Sapeya selalu bercerita pada Mantir bahwa kematian suaminya bertepatan pada jumat kliwon. Saat itu ayah Mantir berpamitan untuk ronda, namun sampai pagi belum kembali. Ayah Mantir ditemukan tewas dengan tubuh lebam dan mulut disumpal tambang. Bisa dibayangkan, betapa tangis Sapeya waktu itu. Pelaku tidak ditemukan secara pasti namun kebanyakan menyaka Muammang pelakunya. Tidak lain Muammang juga punya dendam saat kejadian di pematang tempo hari. Muammang manusia biasa, dendam akan tetap menyala di dadanya.

Beda dengan kakaknya, Mukarrap justru bermain dengan cantik. Ia tidak mengenal permainan senjata. Ia banyak bermain di balik layar untuk beberapa hal yang memang sangat diinginkan. Semisal saat ia bermasalah dengan kepala desa. Di hadapan kepala desa, Mukarrap tidak berkutik. Namun, di balik itu Mukarrap melancarkan aksinya. Ia tidak akan pernah segan untuk menghantam siapa saja yang dikehendakinya. Seminggu sesudah itu kepala desa muntah darah dan nyawanya tidak bisa diselamatkan. Bejatnya, banyak yang menyangka kalau kematian saudaranya juga disebabkan Mukarrap sendiri. Itu ditengarai setelah sebelumnya Muammang menampar Mukarrap karena kambingnya memakan tanamannya.

Setelah merunkan barang dari kapal dan mengantar pada si empunya, Mantir pulang. Ia melihat Sapeya sudah meringik pertanda hendak buang air besar. Suara Sapeya sudah samar-sama dan tidak nyaring didengar. Mantir mengangkat tubuh ibunya yang kerempeng dan tinggal tulang. Tubuh ibunya yang separuh telanjang itu dibawa ke kamar mandi dan membiarkannya jongkok di kloset sebagaimana biasa. Sesudah itu, Mantir kembali mengangkat tubuh kerempeng itu tanpa sedikitpun merasa berat. Ia membarikan tubuh Sapeya kembali ke atas lincak dan tergolek lemah. Mantir duduk di sampingnya, Sapeya mulai berbicara dengan suaranya yang meringkik-ringkik.

“Mukkarap itu sejak dahulu memang begitu,” ucapan Sapeya menimpali pernyataan Mantir.

“Dia memang tukang sihi…?”

Pertanyaan Mantir yang pelan itu tidak sampai tuntas keburu dipotong Sapeya.

“Ibu pernah dulu melihat Mukarrap melancarkan pekerjaannya. Ia duduk menghadap barat di kuburan keramat sambil bertelanjang diri. Waktu tiu ibu sama ayahmu baru pulang dari rumah nenekmu tepat jam satu kurang seperempat. Ibu dengan jelas melihat itu wajah Mukarrap dengan beberapa bambu yang diruncingkan di tangannya. Kalau tidak salah waktu itu juga terdapat janur kuning dan dua butir telur. Katanya, telur yang digunakan tukang sihir adalah telur yang urung jadi anak ayam.”

“Mukarrap tidak melihat ayah dan ibu?”

“Ibu mengintip dari pohon besar yang ada di belakang Mukarrap, kala itu ia melakukannya di kuburan pinggir jalan. Makanya, ibu dan ayah mudah melihat Mukarrap. Sehabis itu ibu kaget, dua butir telur ia terbang dengan buntut janur kuning yang bergoyang-goyang. Telur-telur itu terbang persis di bawah langit. Tidak lama kemudian ibu pulang takut katahuan Mukarrap.”

Mantir lama bergeming dan terdiam, ini kali pertama ia mendengar secara rinci perihal Mukarrap dari ibunya. Meski suara Sapeya sangat kecil dan meringkik, Mantir tetap setia mendengarnya. Semenit kemudian terlintas di benak Mantir telur-telur yang terbang persis di bawah langit malam. Kemudian, telur-telur tersebut jatuh dan mengenai pelipis Sapeya sampai berdarah-darah. Luka yang tidak pernah disembuhkan sampai sekarang. Sampai kepala Mantir terus membayangkan andai waktu itu telur yang dikirim siapa pun untuk menyakiti ibunya tersangkut di awan, tentu ibunya tidak tergolek mirip kuda kelelahan. [*]

Bantul, 2021

Moh. Rofqil Bazikh tercatat sebagai mahasiswa Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga sekaligus bergiat di Garawiksa Institute Yogyakarta. Anggitannya telah tersebar di pelbagai media cetak dan online antara lain; Tempo, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jateng, Solo Pos Minggu Pagi, Harian Merapi, Harian Rakyat Sultra, Bali Pos, Analisa, Duta Masyarakat, Pos Bali, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, dll. Bisa ditemui di surel mohrofqilbazikh@gmail.com atau twitter @rofqil_bazikh.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga