Batuan, NU Online Sumenep
Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) PCNU Sumenep menggelar Pelatihan Akupunktur dan Moksibusi Terapan Plus sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan kompetensi para terapis dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 11–13 September 2026, tersebut dilaksanakan di Mini Ballroom PCNU Sumenep. Pelatihan diikuti 18 peserta, terdiri atas 16 orang dari unsur pengurus LKNU dan Terapis Griya Sehat LKNU Sumenep serta dua peserta dari luar LKNU maupun Griya Sehat LKNU Sumenep.
Narasumber kegiatan tersebut adalah Dr. apt. Teguh Setiawan Wibowo, MM., M.Si., M.Farm., AIFO, yang merupakan pendidik dan penguji akupunktur Kemendikbud.
Ketua PCNU Sumenep, KH Md. Widadi Rahim, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan tersebut. Menurutnya, peningkatan kapasitas praktisi kesehatan menjadi bagian penting dalam menghadirkan khidmat yang semakin nyata bagi masyarakat.
Kiai Widadi berharap para praktisi yang berada di bawah naungan LKNU Sumenep benar-benar memiliki kapasitas dan kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan dalam menjalankan pelayanan kepada masyarakat.
“Harapannya para praktisi LKNU benar-benar mempunyai kapasitas yang bisa dipertanggungjawabkan dan semakin nyata khidmat manfaat yang dirasakan oleh umat Nahdliyin Sumenep secara khusus dan umat Nahdliyin secara umum,” ujarnya.
Menurut Kiai Widadi, bidang kesehatan menjadi salah satu perhatian PCNU Sumenep dalam menjalankan program organisasi. Bahkan, keberadaan Lembaga Kesehatan NU Sumenep menjadi bagian dari sembilan program unggulan PCNU Sumenep.
Sementara itu, Ketua LKNU Sumenep, Mudhar menjelaskan bahwa Pelatihan Akupunktur dan Moksibusi Terapan Plus merupakan bagian dari ikhtiar lembaganya dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi para terapis.
Pelatihan Akupunktur dan Moksibusi Terapan Plus sendiri merupakan pembelajaran mengenai penerapan teknik pengobatan tradisional melalui stimulasi titik-titik tertentu pada tubuh.
Akupunktur umumnya dilakukan melalui stimulasi titik akupunktur menggunakan jarum, sedangkan moksibusi memanfaatkan panas dari bahan moxa yang umumnya berasal dari tanaman Artemisia dan diaplikasikan pada titik atau area tubuh tertentu.
Dalam praktik pelayanan kesehatan, pendekatan tersebut ditempatkan sebagai terapi komplementer yang perlu dilakukan oleh praktisi kompeten dengan memperhatikan indikasi, kontraindikasi, keselamatan pasien, serta tidak menggantikan penanganan medis yang memang diperlukan.
“Pelatihan Akupunktur dan Moksibusi Terapan Plus ini merupakan bagian dari ikhtiar LKNU Sumenep untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi para terapis dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ungkap Mudhar.
Ia menegaskan, peserta tidak hanya diharapkan mendapatkan tambahan pengetahuan secara teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara tepat, aman, profesional, dan bertanggung jawab.
Pelatihan tersebut, lanjutnya, juga menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman, keilmuan, dan praktik pelayanan kesehatan. Dengan demikian, para terapis dapat terus melakukan pembaruan keterampilan atau update skill sekaligus meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.
Setelah mengikuti pelatihan selama tiga hari, para peserta diharapkan mampu membawa ilmu dan keterampilan yang diperoleh ke tempat praktik masing-masing dengan tetap menjunjung tinggi etika profesi, keselamatan pasien, serta memahami batas kewenangan dalam memberikan pelayanan.
“LKNU Sumenep berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan peningkatan kapasitas dan pengembangan sumber daya kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program kerja pengurus LKNU Sumenep Masa Bhakti 2026–2031.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan sejumlah materi mulai dari fundamental dan konsep dasar akupunktur, prinsip Yin-Yang dan Lima Unsur, konsep Qi, Xue, dan Jing-Ye, pemahaman Zang-Fu, hingga pengenalan titik dan meridian akupunktur.
Selain itu, peserta juga mendapatkan materi teknik dasar akupunktur dan moksibusi, penerapan terapi berdasarkan kondisi pasien, serta aspek keamanan, kebersihan, kontraindikasi, dan kehati-hatian dalam melakukan tindakan.
Pelatihan juga dilengkapi dengan praktik langsung agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menerapkan keterampilan secara benar. Salah satu materi tambahan yang dibahas adalah penerapan akupunktur pada kasus-kasus tertentu, termasuk akupunktur untuk stroke.
Pemateri, Dr. apt. Teguh Setiawan Wibowo, menyampaikan apresiasi kepada LKNU Sumenep yang telah berinisiatif menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan semacam ini penting di tengah perkembangan dunia pelayanan kesehatan yang terus berlangsung.
“Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada LKNU Sumenep yang telah berinisiatif menyelenggarakan pelatihan ini. Kegiatan seperti ini sangat penting karena dunia pelayanan kesehatan terus berkembang, sehingga para terapis dituntut untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan memperbarui keterampilan,” katanya.
Ia berharap peserta tidak sekadar mengikuti pelatihan untuk memperoleh sertifikat, melainkan benar-benar mendapatkan ilmu, keterampilan, dan pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan dalam praktik.
Teguh juga menekankan bahwa seorang terapis tidak cukup hanya memiliki keterampilan dalam melakukan tindakan. Seorang praktisi kesehatan, menurutnya, juga harus memiliki integritas, kehati-hatian, empati, kemampuan komunikasi yang baik, serta selalu mengutamakan keselamatan pasien.
“Seorang terapis yang baik bukan hanya terampil melakukan tindakan, tetapi juga harus memiliki integritas, kehati-hatian, empati, komunikasi yang baik, serta mengutamakan keselamatan pasien,” tegasnya.
Ia berharap pelatihan selama tiga hari tersebut dapat menjadi ruang belajar bersama yang nyaman dan produktif. Ilmu dan keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para terapis, lembaga, dan terutama masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

