Image Slider

Mawas Diri: Sopir Kiai dan Fenomena Microsleep

Beberapa waktu lalu, terdapat tragedi yang memilukan ketika sopir kiai diduga mengalami Microsleep dalam sebuah kecelakaan maut di Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) di KM 835.600/A Sabtu, 14 Juni 2025 lalu. Akibat dari kecelakaan tersebut, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan, Madura, Kiai Taufiq  Hasyim meninggal bersama istrinya, Amiratul Mawaddah yang berada dalam mobil tersebut.

Insiden tersebut menurut keterangan Satlantas Polres Probolinggo diduga sopir mengalami microsleep. Sebagaimana diketahui, microsleep adalah suatu kondisi saat otak tiba-tiba memasuki periode tidur singkat yang tidak disadari. Kondisi ini biasanya berlangsung selama kurang dari 30 detik. Sederhananya, microsleep merupakan istilah untuk tidur sesaat yang tidak disadari. Kondisi ini kapan dan di mana saja.

Meskipun singkat, kondisi ini tentu berbahaya bila terjadi saat sedang mengendarai kendaraan atau mengoperasikan alat berat. Periode microsleep berlangsung begitu cepat.

Hal ini membuat orang yang mengalaminya tak menyadari bahwa mereka telah tertidur dan kehilangan kendali atas tubuhnya. Jika sudah demikian, orang yang mengalami kondisi ini mungkin sudah tidak dapat mengingat hal-hal yang terjadi dalam beberapa detik atau menit sebelumnya.

Sebuah studi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dilakukan oleh Rani Rahmadiyani dan Ari Widyanti pada tahun 2023 menegaskan 79 persen responden mengaku pernah menyetir dalam keadaan mengantuk, dan dari jumlah itu, sekitar 32 persen di antaranya nyaris mengalami kecelakaan serius akibat kondisi microsleep.

Kecelakaan maut ini menjadi sebuah refleksi bagi sopir kiai agar tidak lalai dalam menjalankan tugasnya. Mengapa? Karena sopir kiai biasanya bekerja dengan intensitas tinggi, seringkali menempuh perjalanan jauh dalam waktu semalam, demi memenuhi undangan pengajian atau kegiatan dakwah di berbagai pelosok.

Karena menghormati tugas mulia kiai yang mereka bawa, banyak sopir rela mengabaikan rasa lelah dan kantuk demi sampai ke tujuan tepat waktu. Sayangnya, ketulusan ini bisa menjadi bumerang jika tidak dibarengi dengan manajemen kelelahan yang baik.

Microsleep terjadi saat tubuh dan otak tidak lagi sanggup menahan rasa kantuk. Dalam hitungan detik, sopir bisa kehilangan kesadaran, meskipun mata masih terbuka. Ini sangat berbahaya karena dalam kondisi kecepatan tinggi, beberapa detik saja tanpa kendali bisa mengakibatkan kecelakaan fatal.

Sudah banyak kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan tokoh agama atau rombongan pengajian, yang pada akhirnya diketahui disebabkan oleh kelelahan sopir.

Beberapa faktor pemicu microsleep pada sopir kiai antara lain jadwal perjalanan yang padat, minimnya waktu istirahat, kurang tidur pada malam hari, dan tekanan moral untuk “tidak mengecewakan” sang kiai.

Bahkan, dalam beberapa kasus, sopir merasa tidak enak hati untuk meminta istirahat karena merasa tanggung jawabnya adalah terus melaju selama kiai belum menyuruh berhenti. Ini menunjukkan bahwa persoalan microsleep bukan hanya soal fisik, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan kultural.

Pencegahan microsleep pada sopir kiai memerlukan kesadaran bersama. Para kiai, santri, dan keluarga perlu memahami bahwa keselamatan lebih utama daripada kecepatan tiba. Jadwal dakwah sebaiknya disusun dengan mempertimbangkan waktu istirahat yang cukup bagi sopir.

Di sisi lain, sopir juga harus berani mengungkapkan kelelahan dan meminta jeda untuk beristirahat, tanpa merasa bersalah. Memberikan waktu tidur minimal 7 jam, membatasi perjalanan malam, serta bergantian sopir untuk perjalanan jauh adalah langkah-langkah sederhana namun vital.

Paguyuban Sopir Kiai (SK) yang cabangnya tersebar di seluruh Jawa, bahkan Sumatera menjadi salah satu sarana bagi sopir kiai agar bisa saling berbagi pengetahuan bagaimana menghindari microsleep saat mengemudi di jalan raya. Akan tetapi, cara cara yang dilakukan harus berdasarkan terhadap prinsip-prinsip kesehatan dan tidak menyalahi aturan syariat apalagi aturan lalu lintas.

Di sinilah, para sopir kiai harus mawas diri dalam rangka menjalankan tugas sucinya bersama dengan kiai. Artinya, tugas suci harus dibarengi dengan cara atau kiat diri (iktiar) dalam mencapainya.

Jika ngantuk di perjalanan, maka sopir kiai harus tega untuk istirahat, tidur sejenak dan lain sebagainya. Karena memulihkan diri untuk tidak mengantuk terkadang tidak hanya bisa ditempuh dengan merokok, minum kopi, berwudu dan lainnya.

Microsleep pada sopir kiai bukanlah hal yang sepele. Di balik ketulusan dan pengabdian sopir dalam melayani perjalanan dakwah, tersimpan risiko besar jika kelelahan diabaikan. Demi keselamatan bersama — kiai, sopir, dan seluruh penumpang — perlu dibangun budaya peduli istirahat dan kesehatan.

Sebab dalam perjalanan dakwah, menjaga nyawa adalah bagian dari amanah yang tak kalah penting dari menyampaikan kebenaran. Tidak ada yang lebih berharga daripada pulang dengan selamat.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga