Image Slider

Ngaji Tani, Cara Santri Annuqayah Asal Gapura Rawat dan Makmurkan Bumi

Gapura, NU Online Sumenep
Persatuan Santri Gapura (Pasra) Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep mengisi libur Ramadhan 1443 Hijriah dengan ragam kegiatan, salah satunya, Ngaji Tani. Ikhtiar kaum santri dalam merawat dan memakmurkan bumi.

Acara yang bertajuk “Atani Atana’: Santri Berjihad Merawat Bumi” itu digelar di Rumah Belajar Majelis Maulid Arba’in, Desa Paloklo’an, Gapura. Rabu hingga Jumat mendatang (13-14/4/2022).

Kiai Muda Pondok Pesantren Al-In’am Gapura, Kiai A. Tirmidzi Mas’ud yang juga merupakan alumni Pasra menuturkan, sejatinya santri dan petani bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Santri adalah penerus perjuangan ulama. Sedangkan petani adalah pejuang negeri.

“Jalurnya jelas, santri ini penerus ulama. Sementara adalah pewaris para Nabi yang membawa misi Rahmatan Lil’Alamin. Pertanian adalah sektor pokok yang sangat fundamental dalam menentukan roda kehidupan,” ujarnya kepada NU Online Sumenep.

Oleh karena santri dan petani tidak bisa dipisahkan, maka, menurut Kiai Tirmidzi, Ngaji Tani merupakan hal penting yang harus dilakukan agar para santri menyadari bahwa bertani adalah bagian dari upaya merawat dan memakmurkan bumi dengan hasil panen.

“Santri ini juga sebagai khalifah di bumi. Memiliki tugas memakmurkan bumi dan merawat bumi, sebagaimana falsafah orang Madura ‘Atani Atana’,” imbunya.

Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Sumenep itu juga menyampaikan bahwa ke depan generasi di bidang pertanian kian terkikis. Akibatnya akan banyak lahan pertanian yang berpotensi tidak digarap.

“Saat ini banyak masyarakat urban yang lebih tertarik hijrah ke metropolis. Tentu karena penghasilan lebih menjanjikan. Sedang bidang pertanian dalam anggapannya merupakan profesi yang terbelakang,” jelasnya.

Problem tersebut, menurut Kiai Tirmidzi tidaklah mudah diurai. Terkecuali bilamana santri ikut terlibat dalam menyelamat bumi dengan tidak meninggalkan sektor pertanian.

Kiai Tirmidzi juga menukil dawuh Almarhum KH. Maimoen Zubair, bahwa salah satu tanda-tanda kiamat adalah ketika manusia sudah enggan bertani.

“Jadi itulah alasan mengapa Ngaji Tani ini penting dilakukan oleh santri,” jelasnya.

Lebih jauh, Ketua Pasra, Zayyadi mengatakan kegiatan Ngaji Tani selain merupakan inisiatif dari Kiai Tirmidzi, juga mendapatkan dukungan penuh dari Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, KH. Muhammad Ali Fikri.

“Waktu kami sowan, beliau bilang: ini penting untuk santri. Jadi santri itu bukan hanya orang yang tahu baca kitab. Melainkan juga ikut andil dalam berbagai hal, termasuk sektor pertanian,” ungkapnya.

Ia berharap, dengan Ngaji Tani, santri memiliki kesadaran mendalam dan tekad yang bulat untuk menjadi bagian dari perjuangan para petani di sektor pertanian.

“Semoga kita nanti bisa menjadi bagian dari mereka yang selalu berupaya menjaga, merawat dan memakmurkan bumi,” pungkasnya.

Adapun materi yang disiapkan oleh panitia antara lain: praktik pembibitan, penanaman, pemupukan, perawatan, pengelolaan pasca panen dan pembuatan pupuk organik. Dengan menghadirkan beberapa pemateri yang kompeten di bidang pertanian.

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga