Judul Buku : Aku Klik, Maka Aku Ada
Penulis : F. Budi Hardiman
Penerbit : PT. Kanisius
Tahun Terbit : Cet. I, 2021
Tebal Buku : 279 Halaman
ISBN : 978-979-21-7039-9
Kecanggihan teknologi semakin terasa dengan adanya intelligent artificial yang banyak tertanam di beberapa sistem aplikasi, dengan tetap menjadikan manusia sebagai subyek. Intelligent artificial ini memberikan ruang gerak sempit kepada manusia dalam mengekspresikan wawasan cakrawalanya. Tidak ada gerak lentur yang diberikan teknologi kepada manusia, sehingga membuat manusia rela menjalankan sistem ‘super ketat’ dari teknologi itu sendiri.
Transmutasi inilah, barangkali yang perlu diperhatikan betul oleh setiap manusia, mengingat jagat digital untuk saat ini tidak bisa dibendung. Expired sistem sulit ditemukan, sebab ia berbentuk absurd sulit dimaknai secara kasat mata. Kemungkinan, hal inilah yang membuat, Fransico Budi Hardiman, menyuguhkan bahan bacaan bernada kritis terhadap kebijakan regulasi teknologi yang memposisikan manusia sebagai alat, meski manusia adalah penciptanya.
Sehingga autentisitas manusia saat ini perlu dipertanyakan demi keberlangsungan siklus kehidupan umat manusia. Namun, hal tersebut sulit untuk diwujudkan mengingat kultur teknologi sangat sulit untuk ditandingi. Maka mentransmutasikan homo tradisionalis menuju homo digitalis, karena jagat digital merupakan ekosistem baru yang belum tertata.(hlm.32) dari hal itu, perlu adanya suatu regulasi sosial yang merujuk pada cara kerja teknologi sebagai mitra manusia untuk memudahkan larutalitasnya ke dalam jagat maya.
Posisi manusia dalam jagat digital adalah konsumen yang sulit bergerak secara fisik, karena memang batasan dalam jagat digital tidak mampu mentransformasikan alam nyata menuju dunia maya. Lokalitas ini yang menjadi struktur sempalan bagi manusia dalam menyatukan diri dengan regulasi teknologi. Sehingga untuk hal ini, manusia hanya merdeka dalam takaran artivisual yang memang tidak perlu melakukan rekonstruksi masal terhadap ambang visual, cukup menyelam dan menikmati kegadukan jagat digital. Kebebasan komunikasi memiliki batasannya dalam penggunaan kekerasan verbal (hlm.55).
Tidak apabila homo digitalis memiliki struktur kehidupan yang bergantung erat terhadap alat-alat teknologi. Hal ini sangat mungkin, karena jika tidak demikian, tentu tujuan dari teknologi tidak akan tercapai sepenuhnya. Mengingat beberapa sistem tidak terpenuhi secara maksimal. Buku, Aku Klik, Maka Aku Ada, merupakan gagasan baru dalam merekonstruksi idiologi guna menuangkan gagasan visual. Sebab visi-misi homo digitalis adalah makhluk moral yang mencari kebenaran dan keadilan lewat komunikasi digital (hlm.59)
Secara sistematis, buku ini hendak mengajarkan hal baru terkait keberlangsungan hidup dalam dunia digital. Setiap gagasan yang ditawarkan, dieksplorasikan ke dalam bentuk linear kehidupan manusia sekarang. Sehingga tawaran konstruktivitasnya mampu memberikan daya saing dalam melakukan transmutasi ke jagat digital. Sebab, koinsidensi buku ini bertepatan dengan kegilaan teknologi yang tidak hanya menyisir kaum borjuis, tetapi juga kaum proletar.
*Muhtadi ZL, Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur.

