Kota, NU Online Sumenep
Jajaran Harian Syuriah dan Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep menggelar silaturrahim dan ta’aruf di Kantor PCNU Sumenep, Sabtu (17/01/2025). Di momen itu, Rais PCNU Sumenep, KH A Washil Hasyim, mengingatkan pengurus menjaga kekompakan dan etika khidmah organisasi.
“Setiap bentuk khidmah yang dilakukan dengan niat ikhlas akan bernilai pahala di sisi Allah SWT,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Sumber Payung Ganding ini menegaskan, perjuangan Nahdlatul Ulama memiliki landasan yang sangat kokoh. Landasan itu bersumber dari ajaran Islam, tradisi keilmuan para ulama, serta keteladanan Rasulullah SAW dan para sahabat.
Ia menambahkan, ulama merupakan warasatul anbiya’, pewaris perjuangan para nabi, yang memiliki tanggung jawab besar tidak hanya menjaga kemurnian ajaran Islam, tetapi juga membimbing umat dengan hikmah dan kebijaksanaan. Menurutnya, sejarah mencatat keberanian para sahabat Rasulullah SAW dalam membela agama, bahkan dengan pengorbanan harta dan jiwa.
“Perjuangan NU adalah perjuangan yang berorientasi pada maslahah ‘ammah, pengabdian untuk kepentingan umat secara luas, serta diniatkan sebagai upaya li i‘lai kalimatillah, meninggikan kalimat Allah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa aktivitas dalam organisasi NU bukan sekadar kerja struktural, melainkan manifestasi iman dan tanggung jawab keumatan. Para pengurus NU, baik di jajaran syuriah maupun tanfidziyah, telah melalui proses ijtihad jama’i dengan peran yang saling melengkapi satu sama lain.
Karena itu, Kiai Washil mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan, saling menghormati, serta menutup aib sesama pengurus sebagai etika utama dalam berorganisasi. “Seluruh pengurus juga harus selalu mengedepankan husnudzon dalam kehidupan berjamaah,” katanya.
Mengutip pelajaran sejarah sejak abad ke-9 sebagaimana dikaji para ulama, Kiai Washil menjelaskan bahwa meskipun para sahabat Rasulullah SAW pernah berbeda pandangan hingga terjadi konflik, Ahlussunnah wal Jamaah tidak menjadikan cela dan aib sebagai bahan penghakiman.
“Inilah ciri khas Aswaja, fokus pada keteladanan, bukan membuka luka sejarah,” ungkapnya.
Dalam konteks PCNU Sumenep, bergabungnya berbagai elemen dan tokoh dinilai sebagai modal besar untuk membangun kebersamaan dan membesarkan organisasi. Perbedaan latar belakang bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang saling menguatkan dalam satu barisan khidmah.
“Mari seluruh pengurus dan warga NU untuk senantiasa menjaga niat, memperkuat persatuan, serta menjadikan NU sebagai rumah besar perjuangan Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” pungkasnya.

