Image Slider

Perpustakaan MA 1 Annuqayah Jadi Sarana Kecerdasan Santri

Guluk-Guluk, NU Online Sumenep

Dalam menghadapi zaman milenial semua harus bertranformasi. Pihak yang tadinya hanya menunggu, sekarang harus berubah yaitu menjemput. Seperti halnya perpustakaan yang dulunya hanya dijadikan tempat membaca atau tempat sunyi, sekarang harus berubah dijadikan tempat yang sangat menyenangkan dan tidak kaku.

Hal itu dikatakan oleh Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Lukmanul Hakim dalam kegiatan diskusi mingguan di Perpustakaan setempat, Selasa (25/01/2022).

“Dulu perpustakaan diibaratkan tempat untuk aktivitas sebatas baca dan peminjaman buku, juga ruang sunyi. Tetapi saat ini perpustakaan dapat dijadikan tempat untuk berdiskusi para siswa dan kawula muda yang di mana terdapat tempat yang menyenangkan di sana,” ujarnya.

Mahasiswa Prodi PAI Program Pascasarjana Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu juga menyatakan bahwa di MA 1 Annuqayah untuk kegiatan membaca cukup meyakinkan. Hal itu dilihat dari kuisioner yang pernah ia sebarkan beberapa bulan yang lalu untuk dilihat dari minat baca siswa dikategorikan cukup. Akan tetapi fasilitas yang harus diperbanyak untuk menunjang aktivitas membaca di MA 1 Annuqayah agar terus ditingkatkan.

“Untuk meningkatkan minat baca harus disertai fasilitas yang memadai. Percuma bila minat baca tinggi tapi fasilitas yang tersedia tidak cukup misalnya kesediaan bahan baca atau terjangkaunya perpustakaan,” lanjutnya.

Pengurus Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lembung Barat itu juga berharap agar siswa tidak hanya membaca saja. Tetapi lebih dari itu, siswa dituntut untuk menulis sebagai pengasah otak yang semakin hari ada kemungkinan untuk tumpul.

“Sedekah tidak harus berupa uang atau harta. Karena lewat tulisan juga bisa berbagi sesuatu yang bermanfaat, baik berupa ilmu, pengalaman, maupun motivasi dari seorang penulis yang dituangkan lewat tulisan,” tegasnya.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa itu juga menuturkan banyak hikmah yang akan didapatkan oleh seorang penulis dalam kehidupan sehari-harinya.

“Ada hikmah yang bisa dipetik dari sebuah tulisan, seperti kitab-kitab karangan para ulama besar juga bisa menjadi penuntun hidup dan kehidupan dunia serta akhirat,” terangnya.

Menurut Lukman, kegiatan menulis sangatlah penting, selain mengembangkan potensi dan minat, juga bisa menjadi sarana untuk melatih kecerdasan emosional. Baginya menulis bukan sekadar hobi, namun lebih ke self healing atau penyembuhan diri.

“Karena dengan menulis pikiran kita yang kacau bisa menjadi lega, fresh, dan bisa lebih tenang,” imbuhnya.

Bagi dia, siapa saja bisa menulis dan menjadi penulis tanpa memandang umur, maupun garis keturunan. “Menjadi penulis yang baik tentu harus melewati proses, harus banyak melatih diri untuk menulis sebagai jam terbang dan harus banyak membaca agar kosakata dan diksinya bertambah,” pungkasnya.

Editor: Ach Khalilurrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga