Kota, NU Online Sumenep
Kasus penggerudukan oleh beberapa oknum di kediaman Ibu Siti Khotijah, ibunda Mahfud MD di Jl. Dirgahayu, Kelurahan Bugih, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan menuai kecaman dari beberapa tokoh masyarakat, salah satunya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep.
KH. A. Pandji Taufiq menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan “model terbaru” yang tidak mencerminkan sosok orang Madura. Karena falsafah hidup orang Madura adalah bhuppa’, bhabhu’, ghuru, rato (ayah, ibu, guru, pemerintah).
Ketua PCNU Sumenep tersebut mengutarakan bahwa ketaatan dan penghormatan pada ayah, ibu, guru, dan pemerintah sangat tinggi. Nilai-nilai yang diajarkan oleh para leluhur sangat populer di tengah-tengah masyarakat, khususnya kalangan pesantren yang memposisikan guru di urutan nomor dua setelah orang tua.
“Sampai detik ini, falsafah tersebut masih melekat dan diimpelementasikan oleh warga lokal demi terciptanya good society,” ungkapnya kepada NU Online Sumenep, Rabu (02/12/2020).
Menurutnya, kasus tersebut keluar dari tradisi kepesantrenan. Karena ciri khasnya adalah mengedepankan musyawarah, tabayun, dan bukan dengan penggurudukan.
Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk ini mengatakan, bahwa tindakan tersebut harus menjadi perhatian semua pihak. Mestinya masyarakat merenungkan dan mengambil hikmah, agar tidak terulang yang kedua kalinya di kawasannya masing-masing.
“Ini keprihatinan masyarakat Madura yang notabene warga NU, baik yang berada di lembaga formal maupun non formal,” ujarnya.
Tak sampai disitu, kasus ini jangan anggap sepele. Tetapi sikapi dengan serius, terutama Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan lembaga lainnya yang sigap menjaga keamanan rumah ibu Siti.
“Jika dibiarkan, maka wajah Madura akan berubah. Lebih-lebih Kabupaten Sumenep yang terkenal dengan kota Solo-nya Madura,” sargasnya.
Beliau mengajak kepada segenap warga untuk menjaga ketenangan Madura dan memberi contoh kepada generasi muda.
“Kami yakin, warga Madura alumni pesantren yang benar-benar mengamalkan ilmunya dan mengejawantahkan dengan perbuatan yang bertatakrama. Ingat, santri tidak mengedepankan ucapan, melainkan perbuatannya,” tandasnya.
Pewarta: Firdausi

