Lenteng, NU Online Sumenep
Bagi umat Islam, peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah shalat lima waktu diwajibkan dan Nabi Muhammad SAW melakukan dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa dan ke Sidratulmuntaha.
Berangkat dari motivasi itu, Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lembung Barat dan Yayasan Nurul Yaqin Lembung Barat menggelar Pengajian Akbar dalam rangka Isra’ Mi’raj dan Peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-99 Nahdlatul Ulama (NU), Senin (28/02/2022) di Aula Sekolah Menengah Atas Islam (SMAI) Nurul Yaqin, Dusun Daja Songai, Desa Lembung Barat, Lenteng.
Acara dihadiri oleh jajaran dewan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Yaqin, dewan guru Yayasan Nurul Yaqin, Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Lenteng, Pimpinan Ranting (PR) Fatayat NU Lembung Barat, Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Nurul Yaqin, serta seluruh siswa-siswi.
Ketua PR GP Ansor Lembung Barat, Fauzi mengatakan sebagian orang belum mengetahui apa itu esensi dari Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, sehingga harus diperingatinya bahkan diperbanyak amalan di hari bersejarah ini.
“Pada hari Isra’ Mi’raj tanggal 27 Rajab sejarah penting terjadi, Rasulullah SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga ke Sidratul Muntaha,” katanya mengawali sambutan.
“Peristiwa penting Isra Miraj adalah bahwa tidak ada pikiran akal manusia yang akan mampu menyamai atau bahkan mendekati kekuasaan dan kebesaran Allah SWT,” lanjut alumni Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu.
Mahasiswa Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura ini menegaskan, kemampuan akal manusia itu ada batasnya, selebihnya manusia harus mengakuinya dalam iman terhadap kekuasaan sang pencipta.
“Peristiwa Isra’ Mi’raj, kaum muslimin mempercayainya karena sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Ketika sains mencoba menjelaskannya banyak kebenaran Al-Qur’an yang telah terbukti,” tegasnya.
Aktivis Pimpinan Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumenep ini juga menyatakan, sulit bagi manusia mengukur bagaimana perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, kemudian ke Sidratul Muntaha atau langit ketujuh bisa dilakukan hanya dalam waktu semalam.
“Bagi umat Islam yang mengimani akan adanya Allah SWT sebagai pencipta, iman kepada para malaikat, iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah SWT dan iman kepada Nabi dan Rasulnya, maka peristiwa Isra’ Mi’raj adalah benar adanya,” jelasnya.
Dirinya juga menyampaikan banyak terima kasih kepada Yayasan Nurul Yaqin Lembung Barat yang telah memberikan arahan dan saran guna terlaksananya acara ini dengan baik.
“Kami ucapkan banyak terima kasih atas bimbingannya hingga acara ini berjalan dengan sukses dan lancar. Dalam waktu dekat, PR GP Ansor Lembung Barat juga akan mengadakan kegiatan Sunatan Masal. Jadi, mohon dukungannya,” harapnya.
Sementara itu, KH Manshuri yang mewakili Ketua Yayasan Nurul Yaqin juga menuturkan salah satu sejarah yang sangat monumental dalam perkembangan sejarah Islam adalah peristiwa Isra’ Mi’raj.
“Dalam khazanah keislaman, Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang dapat membuka pintu hati nurani kemanusiaan dalam bentuk kesadaran. Hal ini dapat diakui karena peristiwa Isra’ Mi’raj adalah perjalanan metafisik dan ruhaniyah yang sarat dengan pesan-pesan spiritual dan moral,” tuturnya.
Kepala SMAI Nurul Yaqin Lembung Barat ini menambahkan, Isra’ Mi’raj juga merupakan langkah baru menuju kesadaran hakiki. Hal ini tergambar dalam pengalaman Rasulullah SAW dalam Mi’raj-Nya. Bahwa setelah menemui Allah SWT di Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW menerima perintah shalat sebagai tiang agama.
“Sejak itu shalat diwajibkan kepada umat-Nya sebagai sarana penghambaan seseorang kepada Pencipta-Nya,” tambahnya.
Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Gulul ini mengungkapkan, penghambaan lewat shalat merupakan bentuk pembebasan manusia dari rasa takut dan cemas.
“Setiap manusia memiliki kekhawatiran dalam hidup ini, maka ia pasti mempunyai harapan akan datangnya kebahagiaan dan ketenangan. Harapan itu hanya bisa diperoleh dengan mendekatkan diri kepada Yang Maha Pemilik Ketenangan sejati yaitu Allah SWT melalui ibadah shalat,” ungkapnya.
Beliau juga menegaskan bahwa Shalat adalah ibadah yang paling utama dalam Islam. Dari ibadah ini manusia dapat membangun kesucian jiwanya setelah dikotori oleh tumpukan dosa.
“Shalat memilki dampak kepada manusia jika dilaksanakan dengan benar. Jika shalat seseorang belum berdampak pada tingkah laku dan perbuatannya, tentu ia sekadar mengerjakan ritualitas yang tanpa makna,” tegasnya.
“Shalat merupakan sarana bagi manusia untuk kembali bangkit menuju kemuliaan hidup. Dengan shalat seseorang memiliki jiwa yang selalu dinamis menuju perbaikan. Inilah kemudian yang menggerakkan daya sadar untuk menentukan arah dan tujuan hidup yang hakiki,” jelasnya.
Di akhir sambutannya, beliau berharap agar kegiatan Isra’ Mi’raj dapat menjadi sarana untuk mendapatkan petunjuk dan ridla dari Allah SWT.
Editor : Firdausi

