Image Slider

Bersama Sofyan RH Zaid, Lesbumi Gapura Gelar Lesehan Kebudayaan

Gapura, NU Online Sumenep

Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) Nahdhatul Ulama menggelar Lesehan Kebudayaan bersama dengan Penyair Nasional, Sofyan RH Zaid, Matroni Muserang dan Khairul Umam pada Rabu (11/05/2022) di Aula Lantai II MWCNU Gapura.

H. Mohammad Alwi, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdhatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gapura dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan ini harus ditindaklanjuti hingga ke tingkat ranting.

“Alhamdulillah. Kemarin ada inisiatif dari ketua untuk ditingkat ranting agar ada Lesbumi. Tugas Lesbumi bagaimana memfilter kebudayaan dari budaya luar.
Tidak cukup dengan ilmu dan kekayaan. Tetapi harus dengan akhlak,” ungkapnya.

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo menambahkan bahwa kebudayaan di zaman globalisasi sangat berpengaruh terhadap kebudayaan yang ada di Kecamatan Gapura.

“Salah satu kelebihan orang Gapura tatacara bersalaman walaupun bukan gurunya tetapi lebih tua pasti ia cium tangan. Tidak harus gurunya, tidak harus orang tua, tetapi orang yang lebih tua harus dihormati,” katanya mengutip pesan yang pernah disampaikan oleh Kiai Pandji Taufiq, Ketua PCNU Kabupaten Sumenep.

Ia berharap Lesbumi bisa merekrut orang luar pesantren untuk mempertahankan budaya sehingga bisa memasukkan akidah ahlussunnah wal jamaah melalui budaya. Pihaknya menyarankan agar pandai menggabungkan kebudayaan luar yang positif dengan kebudayaan yang ada di kecamatan Gapura.

Matroni Muserang dalam penyampaiannya mengulas tentang definisi mudik. Menurut pandangannya, sebenarnya orang pulang ke kampung sebagai momentum ziarah. Pulang dari kota ke kampung agar bisa menziarahi leluhurnya.

“Orang sudah lama di kota saling tukar identitas. Kampung sebagai penanda. Kampung sebagai sinergitas antara kota dan kampung,” kata Dosen Filsafat STKIP PGRI Sumenep ini.

Karenanya, lelaki yang juga menjabat sebagai Pengurus Harian MWCNU Gapura ini menegaskan bahwa sinergitas yang baik bagi kebudayaan adalah sinergitas kampung dan kota. Orang yang pulang ke kampung akan menelusuri nama nama kampung. Disinilah kemudian ada nilai nilai.

Sofyan RH Zaid mengamini apa yang disampaikan oleh Matroni. Lelaki asal Batang Batang yang sudah lama berada di kota Bekasi tetap membawa tradisi kampungnya. Ia menceritakan bagaimana perjuangan menyekolahkan anaknya di sekolah yang berbasis Nahdhatul Ulama.

“Saya membawa tradisi kampung ke kota. Saya tetap pakai sarung, tetap pakai kopiah,” katanya Penyair yang terkenal dengan pagar kenabian ini.

Ia memantik diskusi pada malam tersebut dengan sebuah pertanyaan dilema sastra yang berat di tengah tengah masyarakat. Sastra selain harus dihadirkan dengan kualitas yang baik seorang sastrawan harus melek perubahan yang terjadi di masyarakat terkait dengan kebudayaan.

Ia mengibaratkan posisi sastra dalam kebudayaan menurutnya sebagai bangku panjang di pasar, tempat orang bersantai atau sebagai kios di sebuah pasar yang harus update terhadap kebutuhan pembaca.

Sementara itu, menurut Khairul Umam bahwa kebudayaan adalah tercipta karena adanya peristiwa. Peristiwa inilah yang kemudian direspon dan melahirkan perspektif dari masing masing individu lalu melahirkan tindakan yang dilakukan oleh sejumlah kelompok.

Editor : A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga