Image Slider

LTNNU Sumenep Adakan Program Safari Pesantren

Batuan, NU Online Sumenep

Program safari pesantren merupakan program dari Pengurus Cabang (PC) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Sumenep yang sudah tertuang di dalam Musyawarah Kerja (Musyker) di tahun pertama, 2021.

Penegasan ini disampaikan langsung oleh Firdausi selaku Ketua LTNNU Sumenep saat dikonfirmasi oleh NU Online Sumenep, Sabtu (28/05/2022) di kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep.

“Tujuan dari program ini agar pesantren-pesantren yang ada di Sumenep dikenal oleh khalayak, karena setiap pesantren memiliki ciri khas yang berbeda, mulai dari kurikulum, metode serta media pembelajaran, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Menurutnya, program ini akan memberi informasi pada khalayak tentang kondisi pesantren yang berhaluan Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. “Juga untuk mengenalkan sejarah perjuangan muassis saat mendirikan pesantren,” terang Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk ini.

Wakil Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan ini menyatakan, sebenarnya program ini sudah terlaksana di awal tahun. Hanya saja pihaknya memilih beberapa pesantren yang memiliki kekhasan tersendiri.

“Di tahun pertama, kami menyasar Pondok Pesantren Annuqayah daerah Sabajarin Guluk-Guluk. Hal ini terjadi Karena di Sabajarin dikenal pesantren hijau. Terlebih di sana ada organisasi ekstrakurikuler yang bergerak di bidang lingkungan hidup, yakni Pemulung Sampah Gaul (PSG). Organisasi tersebut ada di bawah naungan SMA 3 Annuqayah Sabajarin,” ungkapnya.

Lewat kegiatan PSG, lanjutnya, banyak peneliti yang datang ke sana untuk melihat secara langsung perannya dalam menjaga alam. Salah satunya adalah memanfaatkan sampah non organik menjadi benda yang memiliki daya jual tinggi, seperti tas ransel, sovenir, dan lainnya.

Ia juga menambahkan, di tahun kedua, pihaknya menyasar Pondok Pesantren Hidayatul Ulum Utara, Gadu Barat, Ganding, karena pesantren tersebut menampung anak-anak dibawah umur yang terjangkit Narkoba usia 9-17 tahun.

“Bahkan biaya pendidikan dan makannya ditanggung oleh pengasuh. Anak-anak tersebut direhabilitasi di sana dengan menggunakan pendekatan sosial dan pengobatan tradisional. Di sini anak akan tata mental dan spiritualnya agar kelak bisa hidup normal,” tambahnya.

Ia mengajak kepada seluruh pengurus NU dan pemerintah untuk mendukung program ini. “Kondisi piranti yang kami miliki masih minim. Artinya, rintisan ini masih berjalan 1 tahun yang membutuhkan dukungan materi dan doa,” pungkasnya.

Editor : Ach. Khalilurrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga