Oleh: Rahmatullah
Korek telah mengendalikan sebagian hidup manusia. Ini tidak dalam rangka melebih-lebihkan, tetapi itulah fakta yang mesti diakui oleh siapa pun. Bisa saja ada yang ngotot mengatakan bahwa itu omong kosong belaka. Tetapi pastikan bahwa ia merupakan barisan orang-orang yang mengkhianti dirinya sendiri untuk tidak merokok.
Tanyakan kepada teman Anda bagaimana rasanya ketika sedang ingin merokok tetapi tidak ada korek di dalam sakunya. Lalu ketika ada orang lain menyodorkan korek kepadanya, bola matanya sontak berbinar. Jawabannya bisa dipastikan sama walau ditanyakan kepada orang berbeda. Meski misalnya tidak dijawab dengan kalimat, senyum yang menyungging di wajahnya merupakan jawaban atau ungkapan bahagia dari lubuk hati terdalam. Sudah nyata kan bahwa korek mampu mengendalikan sebagian hidup manusia?
Karena keberadaannya telah mampu mengendalikan sebagian hidup manusia, maka sebagai manusia yang masih sehat akal, mesti mewawasdiri. Apa sebab? Makhluk yang ukurannya sejengkal jari itu mampu menjerumuskan pada laku korupsi. Sudah mafhum bahwa laku itu sungguh bejat. Merugikan, dan tidak bisa diampuni. Hanya di negara ini saja yang kerap didengar pelaku korupsi diampuni. Meski makhluk mungil itu tidak berakal, tetapi mampu menggiring manusia terjebak dan terjangkit penyakit sosial itu.
Coba buka lembaran ingatan Anda sejenak. Ingat-ingat kembali masa ketika Anda bersantai dengan teman di warung kopi. Di tempat itu Anda membincang banyak hal, sebagian di dalamnya bisa rencana masa depan. Tentu saja sebungkus rokok dan sebatang korek menjadi penghangat suasana. Lalu setelah pulang dan tiba di rumah lagi, Anda berniat menghilangkan letih berkendara dengan mengisap rokok. Anda keluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. Lalu merogoh saku untuk mengeluarkan korek. Tetapi yang Anda cari tidak ada. Setelah itu Anda menerima pesan singkat di telepon genggam, “Kawan…korekmu ikut saya. Relakanlah. Saya tidak tega menolaknya. Maafkan saya ya.”
Lalu apa yang Anda rasakan? Dan kalimat apa yang muncul di otak Anda untuk mengumpat teman Anda itu? Saya tidak bisa menggambarkannya. Karena bisa jadi kalimat yang Anda gunakan lebih sadis dari sederet kata yang ada di otak. Barang berharga yang secara hukum sepenuhnya sah milik Anda, tiba-tiba dikorupsi. Alasan yang diutarakan teman juga mengada-ada. Dan untuk mewujudkan keinginan merokok, Anda terpaksa masuk ke dapur untuk menyalakan kompor gas. Benar-benar sial.
Celakanya lagi, bencana itu tidak sekali terjadi. Ia datang berkali-kali, dengan pelaku dan tempat berbeda. Dengan modus yang hampir serupa. Sekarang coba hitung, sudah berapa kerugian yang Anda tanggung gara-gara keculasan teman Anda itu. Ini tidak bisa dibiarkan, kecuali Anda rela. Lebih penting dari itu, jangan biarkan teman Anda terbiasa melakukan keburukan. Apalagi ini berkaitan dengan korupsi. Tetapi jangan berlebihan dulu dalam mengumpat teman. Sebab boleh jadi Anda sendiri pelakunya dengan korban puluhan teman, bukan? Jujur saja, boleh tersenyum saat muhasabah diri mengenang keculasan Anda itu.
Mengambil korek orang lain kelihatannya perkara kecil. Tetapi tidak bisa disepelekan. Sebab sudah berniat menguasai yang bukan haknya. Dalam kajian psikologi, kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang oleh seseorang akan melekat, dan akan menjadi sifatnya di masa mendatang. Kebiasaan mengambil korek nanti akan berkembang ke yang lebih besar, yaitu menjadi kebiasaan mengkorupsi anggaran negara bila sudah jadi pebajat. Silakan selidiki kehidupan para koruptor yang sudah diganjar meringkuk di balik terali besi itu, apakah dulu dia biasa nyolong korek teman ketika bersantai di warung kopi.
Sebenarnya tidak hanya pejabat negara, pekerja swasta pun sudah banyak terbukti terlibat dugaan korupsi. Pemerintah memiliki banyak program yang dikucurkan untuk kepentingan masyarakat. Tetapi karena keculasan bersangkutan, akhirnya dana tersebut tidak utuh. Sebagian dipangkas dan dimasukkan kantong pribadi. Realisasi programnya pun tidak maksimal. Kadang mereka ini dulunya yang teriak-teriak ‘Gantung Koruptor’ di jalan raya menggunakan pengeras suara. Tetapi kini nilai yang diangung-agungkan itu digadaikan demi isi perut.
Dalam buku Psikologi Umum, Kartini Kartono menyebut kebiasaan dijabarkan sebagai hal yang menjadi kanal-kanal yang akan dapat terus dilalui tindakan manusia yang dianggap sebagai syarat yang kompleks dan bervariasi dari suatu reaksi atas hal yang terjadi. Berdasarkan pendapat tersebut, kebiasaan akan terus berkembang. Dari kebiasaan buruk kecil, lalu menjadi kebiasaan buruk besar yang menyeramkan. Berawal dari kesenangan nyolong korek teman, lalu berkembang menjadi kebiasaan menggarong uang rakyat.
Maka untuk menghindarinya, wajib menaruh korek di tempat aman saat bersantai dengan teman. Biarkan korek itu di saku sendiri. Andai tiba-tiba teman butuh jasa menyalakan rokok karena beralasan lupa bawa korek, Anda sendiri yang harus menyalakan korek menggunakan tangan sendiri. Jangan rela melihat teman Anda tergoda korek yang Anda bawa. Hitung-hitung itu untuk merapkan ajaran Al-Qur’an ‘Lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka’, karena sudah berusaha mencegah terjadinya keburukan.
*) Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Pragaan.
Editor : Firdausi

