Image Slider

Puasa Ramadhan dan Sepakbola

Oleh : Ahmad Herzi

Di bulan Ramadhan umat Muslim diwajibkan untuk berpuasa. Tak tanggung-tanggung, dalil terkait wajibnya puasa Ramadhan tersebut berdasarkan Al-Qur’an, hadits dan ijma’. Maka, tidak ada alasan bagi seluruh umat Islam untuk tidak berpuasa, kecuali dengan alasan-alasan yang dapat dibenarkan secara syara’.

Dalam tulisan ini, penulis hendak menghadirkan penjabaran terkait orang-orang yang tetap berpuasa meski bekerja berat, salah satunya pemain sepak bola. Tensi tinggi dalam pertandingan sepak bola tentunya membutuhkan stamina yang prima, pola makan, dan gizi yang baik. Selain itu, makanan yang dikonsumsi pun tidak sembarangan untuk menjaga stamina tubuh agar tetap fit dan bugar, sesuai dengan aturan dari manajemen club dan pelatih yang bertugas mengatur pola makan pamain sepakbola.

Di liga top Eropa, pertandingan sepak bola tetap bergulir meski bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sejumlah klub sepak bola tersebut juga banyak diperkuat pemain Muslim, bahkan ia termasuk pemain andalan.

Meski stamina prima dengan asupan makan yang baik dibutuhkan, sejumlah pemain sepak bola Muslim tetap menjalani puasa Ramadhan. Menariknya, banyak pemain Muslim yang justru semakin moncer penampilannya saat berlaga di bulan Ramadhan. Padahal jadwal yang cukup padat dan pertandingan sengit kerap disajikan setiap pekannya.

Salah satu contoh terbaru adalah striker gaek Real Madrid Karim Benzema yang justru tampil garang saat tim kebanggaannya bertanding melawan Chelsea di leg pertama babak perempat final Liga Champions di Stamford Bridge, stadion kebanggaan The Blues. Bahkan dalam laga tersebut Karim Benzema mencetak Hattrick ke gawang kiper Chelsea Edouard Mendy.

Pada leg kedua pun, Karim Benzema tetap tampil gacor saat mencetak gol kedua Real Madrid di masa perpanjangan waktu, setelah di waktu normal Chelsea menang 3-1 dan agregat menjadi 4-4. Gol pemain berambut plontos tersebut menjadi penentu lolosnya klub kebanggaan ibu kota Spanyol tersebut ke babak selanjutnya.

Karim Benzema mengatakan, bahwa dirinya tak pernah mempermasalahkan bermain saat bulan Ramadhan. Toh meskipun di sisi lain waktu berbuka puasa terkadang 10 menit sebelum bertanding berlangsung.

Selain Karim Benzema, banyak pula pemain-pemain top yang tetap berpuasa saat turnamen sepakbola berlangsung. Bahkan ada yang melangsungkan pertandingan sambil melakukan ibadah puasa. Tak ayal, ia pun harus berbuka puasa kala pertandingan berlangsung.

Salah satu contohnya saat pertandingan persiapan Piala Dunia 2018 lalu antara Tunisia melawan Portugal. Penjaga gawang Timnas Tunisia Mouez Hassen pura-pura cidera agar pertandingan berhenti sejenak dan memberikan kesempatan pada rekan-rekannya yang Bergama Islam untuk berbuka puasa, mengingat mayoritas pemain Tunisia adalah Muslim.

Atas sejumlah peristiwa ini, penulis sangat bersyukur karena di Eropa sendiri toleransi antar umat beragama diterapkan betul, khususnya kepada umat Muslim yang berpuasa di bulan Ramadhan.

Bahkan, di Liga Inggris misalnya ada kesepakatan informal antar kapten tim untuk memungkinkan istirahat singkat pada tendangan gawang atau lemparan ke dalam. Sehingga setiap pemain Muslim yang berpuasa bisa melaksanakan buka puasa. Kesepakatan tersebut mereka sampaikan dalam pertemuan pra-pertandingan dengan wasit.

Setelah matahari terbenam di mana masuk waktu berbuka puasa, pemain yang berpuasa langsung menuju pinggir lapangan dan segera meminum cairan atau suplemen energi sebelum melanjutkan permainan.

Sementara di Bundesliga Liga Jerman pernah ada kejadian yang dianggap bersejarah oleh media-media Jerman. Kala itu, setelah seorang wasit bernama Matthias Jollenbeck menghentikan pertandingan antara Augsburg kontra Mainz 05 sebentar hanya untuk memberikan kesempatan kepada salah satu pemain Muslim Moussa Niakhate agar berbuka puasa.

Melihat kejadian kejadian di dunia sepak bola ini, seharusnya kita sebagai Muslim dengan latar belakang dan pekerjaan apapun untuk tidak bermalas-malasan dan tetap berpuasa. Karena keyakinan pada syariat diperintahkan oleh Allah SWT tidak akan pernah memberatkan hambanya, asal dalam hatinya terpatri keyakinan mendalam untuk itu.

Hal tersebut karena ketika asupan pada tubuh dianggap segalanya dalam hal kekuatan, justru sebenarnya di sisi lain kesehatan rohani juga turut menentukan. Bahkan, di masa sahabat pun, banyak dari kalangan sahabat Nabi Muhamad SAW yang tetap berpuasa meski sedang berperang.

Berangkat dari fenomena ini, umat Islam yang memiliki ragam profesi, tak menjadi halangan untuk menyempurnakan ibadah puasanya, walaupun tanggung jawabnya di lapangan menguras energi. Karena menurut kacamata fiqih, umat Muslim boleh membatalkan puasa jika ada udzur.

*) Kabid IT TVNU Sumenep


Editor : Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga