Image Slider

Memperbaiki Bumi dari Meja Makan

 

Oleh: Ahmad Fathoni

Lahirnya karya Kiai M. Faizi yang berjudul Merusak Bumi dari Meja Makan merupakan harapan terhadap berubahnya kebiasaan masyarakat dalam hal penggunan plastik dan barang sekali pakai. Judul tersebut sudah jelas, jika merusak bumi salah satunya diakibatkan oleh gaya komsumsi masyarakat yang tidak lepas dari bahan-bahan yang mencemarkan lingkungan. M. Faizi menyinggung kebiasaan dalam hal makan, perut, atau meja makan. Setiap hari manusia tak lepas dari kegiatan tersebut. Bayangkan. Bermiliar-miliar manusia menggunakan bahan plastik setiap harinya hanya persoalan makan, perut dan meja makan.

Buku ini memang menjabarkan berbagai fakta masyarakat, khususnya di lingkungan dan pengalaman penulis sendiri sebagai pelajaran bahwa gaya mereka dapat merusak bumi. Sekaligus, sebagai pelajaran terhadap masyarakat agar memperbaiki bumi dari meja makan.

Tak sedikit Stadium general atau pelatihan daur ulang sampah sudah dilakukan. Hal itu, tak lebih hanya pencegahan, sekedar merubah bentuk dari bungkus deterjen, cemilan, bungkus roti, dan sebagainya menjadi kerajinan tas plastik, bunga hias, vas bunga, keranjang sampah, dan lain sebagainya. Plastik itu tetap ada di muka bumi ini dan menghantui. Sementara pabrik terus memproduksi barang-barang yang berpotensi menjadi sampah dengan cepat.

Satu-satunya langkah yang tepat adalah dilakukan dari lingkup keluarga, bahkan dari diri kita untuk berkomitmen tidak menggunakan barang yang mudah menjadi sampah dan berbahan plastik. Seperti yang disampaikan oleh M. Faizi dalam bukunya, beliau menawarkan 3 gerakan. Pertama, tidak menggunakan barang yang akan segera/mudah menjadi sampah, kedua, Sampahmu tanggung jawabmu dan ketiga, sampah kita adalah tanggung jawab bersama. (Halaman 49-50)

Barulah optimistis terhadap tidak bertambahnya sampah plastik akan terwujud. Namun masalah baru memang akan datang, yaitu dengan apa orang-orang membungkus belanjaan, membungkus makanan, cemilan, adakah ganti seperti halnya plastik yang begitu simpel, praktis dan murah? Plastik juga sudah masuk pada relung kehidupan dan tradisi masyarakat. Hal inilah yang menjadi alasan bahwa satu-satunya hanya dimulai dari keluarga dan diri kita.

Masyarakat pun mulai mencipatakan budaya yang buruk yang semakin mendukung bertambahnya sampah plastik di muka bumi ini. Setiap hajatan, lebaran, atau maulidan, air minum dalam kemasan (AMDK) menjadi tradisi yang seakan susah untuk dirubah, masyarakat lebih memilih membeli cemilan lebaran dari toko yang kebanyakan berbungkus atau bertoples dengan bahan plastik, dari pada mereka membuat sendiri jajan atau cemilan yang relatif bisa dikendalikan penggunaannya terhadap plastik.

Maka, langkah M. Faizi sendiri tidak hanya berupa buku, namun beliau mencoba mencontohkan melalui tindakan juga. Terbukti dalam status facebooknya menjelaskan, ketika pelaksanaan bedah bukunya sendiri yang diselenggarakan oleh Pomasi di Universitas Nurul Jadid (UNUJA) pada 12/02/2020, ia memerintahkan kepada panitia untuk tidak menggunakan Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) bahkan dalam acara tak ada suguhan roti bungkus  seperti biasanya. (mungkin yang dimaksud adalah bungkus plastik). Beliau mencoba mendobrak budaya atau tradisi yang sedang berlangsung.

Merusak Bumi dari Meja Makan ini ditulis dengan bahasa yang santai, namun serius jika dilihat dari pembahasanya, yaitu persoalan ekologi yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Di dalamnya tidak hanya berurusan dengan sampah plastik, tapi sampah-sampah lain, terutama sampah yang erat hubungannya dengan persoalan makan, kebiasaan menyisakan makanan, kurangnya bersyukur, membeli hal-hal yang tidak dibutuhkan, maupun ke-mubazir-an..

Buku ini menggunakan sudut pandang yang komplek, sesuai dengan latar belakang beliau, misalnya sebagai seorang budayawan, beliau menyinggung tradisi Seddekah ser atau sedekah rahasia yang dilakukan oleh masyarakat Madura. Biasanya masyarakat meletakkan diam-diam makanan di jalanan umum atau di simpang empat. Kadang makanan tersebut dibungkus besek atau di atas nampan. (Halaman 84). Sebagai pengasuh pesantren yang menguasai ilmu keagamaan, beliau tidak lupa menggunakan sudut pandang keagamaan dengan menyuplik Hadis, ayat al-Qur’an serta qaul ulama terdahulu, seperti Imam Ghazali ketika membahas tentang lingkungan hidup. Tentu, tidak dengan bahasa menceramahi seperti kajian keagamaan biasanya.  

Sudut pandang yang lain misalnya, sebagai penyuka bepergian jauh menggunakan bus atau Bismania, beliau menceritakan sedikit pengalamannya selama di perjalanan yang berkaitan dengan kepedulian lingkungan hidup. Salah satunya cerita persinggahan beliau di warung kencur Probolinggo Jawa Timur. Beliau menjelaskan bahwa si pemilik mempunyai idealis tinggi terhadap kepedulian lingkungan. Sangat jarang ada warung seperti itu. Warung itu memajang sebuah visi atau motto, atau bisa dibilang pesan kepada pelanggan di semua meja makan. Kira-kira isinya ajakan kepada pelanggan agar mencintai lingkungan serta meminimalkan penggunaan plastik dan kertas. Lebih jelasnya mungkin bisa dibaca sendiri pada halaman 66.   

Dengan sudut pandang yang berbeda-beda, buku ini nampak kaya untuk dijadikan bahan bacaan, mungkin renungan juga bagi kita. Beberapa contoh yang dihadirkan pun sangat realistis, seperti budaya masyarakat yang berubah ketika melaksanakan hajatan, suguhan yang dihadirkan cendrung instan, seperti Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) atau roti kemasan. Padahal dulu menggunakan gelas yang tidak digunakan sekali pakai untuk menyuguhkan air minum atau wedang.

Kembali kepada penjelasan di atas, bahwa persoalan ekologi ini tidak seerta-merta akan hilang dengan cepat, karena sudah membudaya, bahkan menjadi tradisi setempat. Perlu gerakan yang dimulai dari komunitas kecil, seperti keluarga. Keluarga adalah tameng terhadap perusakan lingkungan.

Adalah santri Pondok Pesantren Al-Anwar 3 Sarang Rembang sekaligus Mahasiswa S1 STAI Al-Anwar Sarang Rembang yang kesehariannya menulis prosa dan berdiskusi di Komunitas ATAP dan SAKA.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga