Batang-Batang, NU Online Sumenep
Dalam rangka memperingati 1 Abad NU, Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Sumenep kunjungi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Batang-Batang untuk mensosialisasikan program pelayanan kesehatan pada masyarakat.
KH Yusuf Efendi selaku ketua tim pelayanan kesehatan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep menjelaskan maksud dan tujuannya, yang tidak lain silaturrahim, sosialisasi dan pembentukan layanan kesehatan di setiap MWCNU dan Ranting NU se-Sumenep.
“Hari ini kami hadirkan KH A Junaidi Mu’arif Ketua MWCNU Pragaan yang memiliki peran terhadap berdirinya Klinik NU Pratama dan saat ini perkembangannya cukup dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya pada pengurus MWCNU Batang-Batang di acara Silaturahim dan Konsolidasi Organisasi.
Wakil Ketua PCNU Sumenep itu mengatakan, pelayanan yang bakal dirintis di masing-masing MWCNU dan Ranting NU dimulai dari Pos Pembinaan Terpadu (Pisbindu) Penyakit Tidak Menular (PTM) yang nantinya digerakkan oleh kader khusus setelah mendapat pelatihan dari LKNU Sumenep.
“Insyaallah, tanggal 30 Oktober 2022 Rais ‘Aam KH Miftachul Akhyar akan hadir ke Sumenep dalam rangka menghadiri peletakan batu pertama Rumas Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) yang ada di Pragaan. Kemudian dilanjutkan ke Guluk-Guluk untuk memberikan tausiyah keagamaan, tepatnya di Kamisan tempat dieksekusinya KH Abdullah Sajjad oleh Belanda,” tuturnya, Ahad (02/10/2022) di kediaman Shalehuddin Kolpo, Batang-Batang.
Di dalam rintisan layanan kesehatan ini, lanjutnya, mulai sekarang pengurus memikirkan agar program ini terealisasi. Mulai dari sosialisasi kesehatan, tindakan preventif pencegahan penyakit dan tindakan kuratif atau pengobatan.
Disebutkan Kiai Yusuf, ada 4 tingkatan layanan kesehatan. Pertama, MWCNU dan Ranting memiliki Posbindu PTM. Kedua, Pusat Layanan Terpadu (Posyandu) Prima. Ketiga, pos praktik dokter. Keempat, Klinik Pratama.
“Jika ranting hanya mampu di Posbindu, maka petugas medis cukup mengananese penyakit agar dicegah sejak dini oleh masyarakat. Sebut saja asam urat, kencing manis, kolesterol, hipertensi, dan sejenisnya. Untuk mendapatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pelayanan ini, kita harus memberikan pelatihan dan pembinaan pada kader untuk mengenali dan pencegahan penyakit tidak menular. Layanan ini untuk semua umur,” terangnya.
Berbeda dengan Posyandu Prima, sambungnya, sasarannya diperuntukkan pengobatan pada balita, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia. Layanan tersebut buka setiap bulan sekali.
“Jikalau sanggup buka pos praktik dokter, maka pengurus menggandeng dokter untuk memberikan pelayanan pengobatan di tempat yang disediakan pengurus. Yang terakhir adalah klinik pratama yang buka setiap hari,” terangnya.
Dirinya memotivasi pengurus agar tidak takut pada penyakit. Penyakit bisa dicegah dengan pola hidup, pola makan dan pola pikir. Jika ketiganya seimbang, maka dimungkinkan penyakit sulit menyerang tubuh seseorang.
“Untuk pengobatan, kader yang telah mendapat pelatihan akan mempraktikkan ilmunya, misalnya membuat obat-obatan herbal sebagai bentuk pencegahan,” ucap Kiai Yusuf.
“Sudah 6 MWCNU yang memiliki keinginan mendirikan klinik. Tapi diawali dulu dengan Posbindu PTM. Semakin masif gerakannya, samakin dirasakan keberadaan NU di tengah-tengah masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu, Kiai Ach Zubairi Karim Wakil Ketua PCNU Sumenep menyatakan, guna merealisasikan program ini, LKNU sebagai perangkat departementasinya harus menggalakkan Posbindu setiap satu bulan sekali di setiap Ranting NU.
Dijelaskan, para kader pelatihan Posbindu, tak harus berijazah Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep) dan Ahli Madya Kebidanan (Amd.Keb). Minimal pendidikannya SLTA/MA.
“Usai pelatihan, buktikan bahwa pengurus LKNU Batang-Batang bisa. Pengurus NU kali wajib menggeser kegiatan serimonial, namun tak harus ditinggalkan. Ingat, NU selalu memiliki keajaiban, jika ditirakati dan ikhtiar. Insyaallah terkabulkan,” tandasnya.

