Kota, NU Online Sumenep
Fenomena gerhana bulan total akan terjadi pada Selasa Wage, 3 Maret 2026 (malam Rabu, 14 Ramadan 1447) dan dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia.
Sehubungan dengan peristiwa tersebut, Ketua Lembaga Falakiyah (LF) PCNU Sumenep, K. Moh. Fathor Rois, mengajak umat Islam untuk melaksanakan amalan-amalan sunnah yang dianjurkan dalam syariat.
Berdasarkan data astronomi, gerhana penumbra dimulai pukul 15.48 WIB, disusul gerhana umbra pada 16.52 WIB. Fase gelap total mulai terjadi pada 18.05 WIB dan mencapai puncaknya pada 18.35 WIB.
Gerhana total berakhir pukul 19.04 WIB, umbra berakhir 20.18 WIB, dan penumbra berakhir pada 21.22 WIB. Pada malam itu, bulan purnama terbit pukul 17.38 WIB dan sebelum Maghrib sudah dalam kondisi gerhana sebagian.
Ketua LF PCNU Sumenep, K. Moh. Fathor Rois, menjelaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar peristiwa astronomi, tetapi juga momentum ibadah.
“Gerhana bulan dalam Islam merupakan tanda kebesaran Allah SWT. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah ketika terjadi gerhana,” ujarnya saat diwawancarai, Ahad, 01/03/2026.
Menurutnya, terdapat beberapa amalan sunnah yang dianjurkan saat gerhana bulan, di antaranya mandi, melaksanakan salat khusuf, mendengarkan atau menyampaikan khutbah khusuf, memperbanyak istighfar, serta bersedekah.
“Salat khusuf bisa dilaksanakan sendirian maupun berjamaah. Untuk gerhana kali ini, pelaksanaannya bisa setelah salat Maghrib atau sesudah tarawih, yang penting masih dalam rentang waktu gerhana, yakni sebelum pukul 20.18 WIB saat umbra berakhir,” jelasnya.
Ia juga menerangkan tata cara salat khusuf. Menurutnya, terdapat dua model pelaksanaan, yakni yang sederhana dan yang sempurna.
“Yang sederhana tata caranya seperti salat tarawih biasa, dua rakaat dengan dua kali berdiri, ruku’, dan sujud. Sedangkan yang sempurna, setelah i’tidal pada rakaat pertama membaca Al-Fatihah lagi, kemudian ruku’, i’tidal, lalu sujud dan seterusnya. Begitu juga pada rakaat kedua. Jadi meskipun hanya dua rakaat, bacaan Al-Fatihah, ruku’, dan i’tidal dilakukan empat kali,” paparnya.
Apabila dilaksanakan secara berjamaah, lanjutnya, bacaan Al-Fatihah dan surat sunnah dibaca dengan suara nyaring. Setelah salat, dianjurkan pula menyampaikan khutbah dua kali sebagaimana khutbah Id.
K. Moh. Fathor Rois berharap momentum gerhana bulan total ini menjadi sarana meningkatkan keimanan dan ketakwaan umat Islam.
“Jangan hanya dijadikan tontonan atau sekadar fenomena langit. Jadikan ini sebagai pengingat akan kebesaran Allah dan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya,” pungkasnya.

