Oleh: Muhammad Hafid Sukri*)
Madura sering dikenal sebagai Pulau Garam. Namun, bagi masyarakat yang mengenalnya lebih dekat, Madura sesungguhnya adalah pulau yang dibesarkan oleh adab, ilmu, dan doa para ulama. Di setiap sudutnya berdiri masjid, langgar, dan pesantren yang selama puluhan bahkan ratusan tahun menjadi tempat lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak. Karena itu, membicarakan masa depan Madura sejatinya bukan sekadar membicarakan pembangunan jalan, pelabuhan, atau kawasan ekonomi, melainkan membicarakan manusia yang kelak akan mengisi dan merawatnya.
Hari ini, generasi muda Madura berada pada persimpangan zaman. Kemajuan teknologi membuka pintu ilmu pengetahuan tanpa batas. Dalam hitungan detik, informasi dari berbagai penjuru dunia dapat diakses melalui telepon genggam. Akan tetapi, derasnya arus informasi juga membawa tantangan besar. Tidak sedikit anak muda yang larut dalam budaya instan, kehilangan semangat membaca, bahkan perlahan menjauh dari tradisi keilmuan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Madura.
Islam telah memberikan arah yang jelas tentang pentingnya mempersiapkan generasi masa depan. Allah Swt. berfirman:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”
(QS. An-Nisā’ [4]: 9).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa kelemahan generasi bukan hanya persoalan ekonomi. Yang lebih berbahaya adalah ketika sebuah masyarakat meninggalkan generasi yang lemah iman, lemah ilmu, lemah akhlak, dan lemah kepedulian terhadap bangsanya. Karena itu, menyiapkan generasi yang kuat merupakan amanah yang harus dipikul bersama oleh keluarga, pesantren, sekolah, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat.
Allah Swt. juga berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 11).
Ayat ini menegaskan bahwa kemajuan tidak akan datang hanya dengan harapan. Perubahan harus diawali dengan kesungguhan memperbaiki kualitas manusia. Madura tidak akan menjadi daerah yang maju hanya karena memiliki sumber daya alam atau pembangunan fisik. Kemajuan itu akan lahir ketika generasi mudanya memiliki ilmu yang luas, akhlak yang kokoh, etos kerja yang tinggi, serta keberanian untuk berkarya.
Di sinilah pesantren memiliki peran yang tidak tergantikan. Pesantren bukan sekadar tempat belajar kitab kuning, melainkan ruang pembentukan karakter. Dari pesantren lahir tradisi menghormati guru, membiasakan hidup sederhana, mencintai ilmu, serta mengabdi kepada masyarakat. Nilai-nilai inilah yang perlu terus dirawat agar tidak terkikis oleh perubahan zaman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. ath-Thabrani).
Hadis ini menjadi pengingat bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan hanya pada gelar, jabatan, atau kekayaan yang dimiliki, melainkan pada manfaat yang ia berikan kepada sesama. Maka, generasi muda Madura hendaknya tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga berupaya menghadirkan manfaat melalui pendidikan, dakwah, kewirausahaan, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sebagai organisasi yang lahir dari rahim pesantren, Nahdlatul Ulama mewarisi tradisi keilmuan yang menempatkan adab sebagai fondasi dalam menuntut ilmu. Nilai inilah yang perlu terus ditanamkan kepada generasi muda. Sebab, ilmu tanpa adab mudah kehilangan arah, sementara adab yang dibimbing ilmu akan melahirkan keberkahan bagi diri sendiri dan masyarakat.
Di berbagai daerah di Madura, kita menyaksikan banyak anak muda yang berhasil menempuh pendidikan tinggi, merintis usaha, menjadi pendidik, mengembangkan usaha mikro, hingga mengharumkan nama daerah di tingkat nasional. Mereka membuktikan bahwa anak muda Madura mampu bersaing tanpa harus meninggalkan identitasnya. Namun, pada saat yang sama, masih ada tantangan yang perlu dijawab bersama, seperti rendahnya minat literasi, penyalahgunaan media sosial, terbatasnya lapangan kerja, hingga kecenderungan sebagian generasi muda untuk meninggalkan kampung halaman tanpa kembali membawa manfaat bagi daerahnya.
Karena itu, sudah saatnya seluruh elemen masyarakat bergandengan tangan. Orang tua memperkuat pendidikan akhlak di rumah, pesantren dan sekolah memperkokoh tradisi ilmu, pemerintah membuka ruang yang lebih luas bagi kreativitas dan kewirausahaan pemuda, sementara organisasi kemasyarakatan menjadi tempat tumbuhnya kepemimpinan dan pengabdian. Dengan ikhtiar bersama, generasi muda Madura tidak hanya siap menghadapi perubahan, tetapi juga mampu menjadi pelaku utama perubahan itu sendiri.
Pada akhirnya, menitipkan masa depan Madura kepada generasi muda bukan berarti menyerahkan seluruh beban kepada mereka. Justru sebaliknya, itu adalah panggilan bagi kita semua untuk menyiapkan jalan terbaik agar mereka tumbuh menjadi generasi yang beriman, berilmu, beradab, dan berdaya saing.
Madura telah melahirkan banyak ulama, cendekiawan, dan pejuang bangsa. Warisan itu jangan berhenti menjadi kebanggaan masa lalu. Warisan itu harus hidup dalam diri generasi mudanya hari ini. Sebab, masa depan Madura tidak hanya dibangun dengan batu dan semen, tetapi dengan ilmu yang diamalkan, akhlak yang dijaga, dan semangat mengabdi yang tidak pernah padam.
*) Muhammad Hafid Sukri adalah alumni Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura, Sumenep, dan pernah aktif di PK IPNU Nasy’atul Muta’allimin. Saat ini aktif menulis mengenai isu-isu keislaman, kepemudaan, dan sosial kemasyarakatan.

