Oleh: Ahmad Hosaini *)
Kita mulai lagi dengan pendapat Ibnu ‘Ajibah bahwa puasa dapat melembutkan hati dan dengan puasa dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah (Al-Haqq). (Ibnu ‘Ajibah dalam Tafsir Al-Bahr Al-Madid. Jami’u al-Kutub Al-Islamiyah. Kitabonline.com. hal. 213).
Sedangkan Ramadhan رمضان berasal dari kata dasar “رمض” yang berarti “membakar”. Dinamakan Ramadhan adakalanya karena hati merasa gelisah pada bulan itu akibat panasnya kelaparan dan kehausan, atau karena dosa-dosa terbakar pada bulan itu. (Al-Bahr al-Madid hal. 211).
Ayat tentang kewajiban puasa sering kita dengar sebagaimana dalam firman Allah SWT:
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).
Ternyata ibadah puasa itu tidak hanya diwajibkan bagi kita umat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga telah diwajibkan pada para nabi dan umat sebelumnya karena ada suri teladan (role model) yang perlu dicontoh oleh kita dari para nabi sebelumnya seperti dalam konteks puasa ini.
Puasa bukan hanya membakar dosa, tapi juga dapat membakar hawa nafsu. Hal ini sebagaimana dalam hadits Nabi Muhammad SAW:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Artinya: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tiga Tingkatan Dalam Puasa
Ibnu ‘Ajibah menjelaskan tiga tingkatan dalam puasa:
Pertama, Puasa orang awam (صوم العوام). Puasa orang awam adalah menahan diri dari syahwat perut (tidak makan/minum) dan kemaluan (berhubungan intim) serta hal-hal yang membatalkannya dari fajar hingga Maghrib.
Disertai membiarkan anggota tubuh (mata, mulut, tangan, dan yang lainnya) melakukan dosa atau kesalahan.
Kemudian membiarkan hati dalam kelalaian (tidak berzikir kepada Allah). Orang yang berpuasa seperti ini, maka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.
Sebagaimana dalam hadits Nabi Muhammad SAW:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan keji dan berbuat keji, Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari).
Kedua, Puasa Orang Khusus (صوم الخواص). Puasa orang khusus adalah menahan seluruh anggota tubuh (pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki) dari hal-hal yang sia-sia dan tidak berguna atau tidak mencegahnya dari perbuatan dosa karena itu dapat mencegah seorang hamba dari wushul (sampai pada Allah/kesempurnaan ibadah).
Intinya adalah Menjaga anggota tubuh lahir (fisik) dan batin (hati/pikiran) dari kesibukan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat (tidak penting).
Ketiga, Puasa Khusus Khusus/Istimewa (صوم خواص الخواص). Puasa orang istimewa adalah menjaga hati dari agar tidak berpaling kepada selain Allah, dan menahan rahasia hati (batin) dari terpaku atau bersekutu pada makhluk.
Ini berarti bahwa menahan diri dari menyaksikan apa pun selain Allah, dan mewakafkan hati ke hadirat ilahi. (Ibnu ‘Ajibah dalam Tafsir Al-Bahr Al-Madid Jilid 1, hal. 213. Jami’u al-Kutub al-Islamiyah. ketabonline.com).
Dalam rangka mengikuti jejak orang-orang yang mencapai tingkatan tertinggi ini, maka kita senantiasa berpuasa dan shalat dalam arti yang hakiki. Bagaimana hati kita agar selalu terpaut pada Allah SWT.
Tiga Tingkatan Sabar
Definisi sabar secara sederhana disampaikan oleh Imam Qusyairi yang mengatakan:
الصبر حَبْسُ النفس على ما تكره
Artinya: “Sabar itu menahan nafsu terhadap apa yang tidak ia sukai.”
KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy mengomentari tentang sabar dalam ayat:
…اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: “…Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.” (QS. Az-Zumar: 10).
Bahwa ada tiga sabar yang perlu menjadi perhatian yaitu pertama, sabar karena menjalani keataatan. Kedua, sabar karena bala’ ujian. Ketiga, sabar untuk menghindari maksiat.
Ketiga bentuk sabar ini sama yaitu akan dicukupkan pahalanya tanpa hisab, neraca, dan mizan (timbangan).
Hal ini karena kebaikan pahala sabar itu tidak memuat (tumpah ruah), pahalanya melimpah dan tak dapat dihitung.
Sementara kebaikan yang lain masih ada bandrolnya dan akan melalui hisab, neraca, dan mizan nanti di akhirat. (Disampaikan dalam pengajian Tafsir Jalalain 27/02/2026).
Nah, saya memandang bahwa orang yang berpuasa terutama yang masuk pada tingkatan tertinggi, maka ia termasuk orang yang sabar.
Pertama, orang yang berpuasa adalah sabar untuk menjalani ketaatan pada Allah dalam mencapai derajat takwa. Ia bukan hanya tidak makan dan minum serta meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Akan tetapi, ia berpuasa hanya berharap keridhaan Allah semata.
Kedua, orang berpuasa juga sabar menghadapi ujian dengan menahan tidak makan dan minum serta menjaga hati dari perbuatan yang tercela yaitu perbuatan buruk yang tidak karena Allah SWT.
Ketiga, orang berpuasa juga sabar untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan maksiat yang dapat merusak hati akan kehadiran Allah SWT.
Sabar itu memang cukup berat, kecuali orang-orang tertentu atau istimewa yang dapat melaluinya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib seandainya disuruh memilih, maka beliau lebih memilih maqam syukur. Seperti dalam bahasanya:
لَأَنْ أُعْطَى فَأَشْكُر أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ أُبْتَلَى فَأَصْبِر
Artinya: “Sungguh bila aku diberi anugerah kemudian aku bersyukur lebih aku sukai daripada aku diuji kemudian aku bersabar.”
Sabar itu memang cukup berat dan para rasul semuanya sudah mendapatkan ujian lalu mereka bersabar dan langsung kembali pada Allah SWT. Dalam hadits Qudsi:
“أنا عند المنكسرة قلوبهم من أجلي”
Artinya: “Aku (Allah) berada bersama orang-orang yang patah hati/remuk hatinya karena-Ku”. (Ini catatan dalam pengajian Tafsir Jalalain bersama Kiai Azaim).
Puasa adalah madrasah kita dalam melatih diri menjadi sabar, sehingga setelah Ramadhan harus kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika kita masuk pada tingkatan sabar yang sempurna, maka perjalanan kita akan selamat di akhirat tanpa hisab. Wallahu A’lam.
*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep, santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

