Bluto, NU Online Sumenep
Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Sumenep, Muhammad Shaleh berharap peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 bukan sekadar seremoni tahunan berupa upacara maupun perlombaan. Lebih dari itu, Hardiknas harus menjadi momentum muhasabah bersama dalam menjawab tantangan pendidikan di tengah perkembangan zaman.
Hal tersebut disampaikan saat mengisi Workshop Mendongeng Aswaja Berbasis Digital yang digelar PAC Pergunu Bluto berkolaborasi dengan Himpaudi, K3MI dan K3SD Kecamatan Bluto. Acara ini dipusatkan di SDN Bluto 1, Sabtu (02/05/2026).
“Hardiknas bukan sekadar upacara dan lomba. Hardiknas itu muhasabah pendidikan nasional,” ujarnya.
Shaleh menjelaskan, bahwa terdapat tiga hal penting dalam memaknai Hardiknas, yakni refleksi, afirmasi, dan aksi. Ia mengungkap pentingnya refleksi sejauh mana pendidikan mampu membentuk peserta didik menjadi manusia yang utuh, bukan hanya mengejar nilai rapor semata.
“Sudah sampai mana kita mendidik anak menjadi manusia?. Pendidikan bukan sekadar mengejar angka di rapor,” katanya.
Kedua, afirmasi sebagai bentuk penghormatan kepada para guru di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari RA hingga perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.
Sedangkan, yang ketiga adalah aksi berupa komitmen baru dalam memperkuat pendidikan nasional demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Pendidikan hari ini taruhannya masa depan Indonesia Emas 2045. Kalau gurunya kuat, Indonesia juga akan kuat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tiga tantangan besar yang dihadapi dunia pendidikan ke depan, yakni digitalisasi, disrupsi, dan disorientasi nilai. Karena itu, menurutnya, guru tidak cukup hanya berperan sebagai pengajar di dalam kelas.
Ia menyebut, setidaknya ada tiga peran penting yang harus dimiliki guru saat ini.
Pertama, guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Di tengah perkembangan teknologi dan masuknya kecerdasan buatan (AI), guru dituntut terus meningkatkan kapasitas diri.
“Kurikulum terus berubah, AI masuk, murid sekarang lebih cepat mencari informasi di internet. Guru wajib terus upgrade kemampuan, mengikuti pelatihan, menguasai platform digital, hingga membuat konten edukasi,” jelasnya.
Kedua, guru harus menjadi penjaga adab di tengah derasnya arus informasi. Menurutnya, peserta didik tidak hanya membutuhkan ilmu pengetahuan, tetapi juga kompas moral dalam kehidupan. Menurutnya, guru NU harus menjadi teladan tawassuth, terbuka pada ilmu baru tetapi tetap kuat pada nilai dan akhlak.
“Mengajarkan coding penting, tapi jangan lupa mengajarkan doa masuk kelas juga penting,” ungkapnya.
Ketiga, guru perlu menjadi kolaborator dengan berbagai pihak, mulai dari wali murid, pesantren, dunia usaha, hingga sesama guru lintas sekolah. Ia menilai forum seperti K3SD, K3MI, dan Pergunu menjadi contoh baik dalam membangun kolaborasi pendidikan.
“Tantangan pendidikan hari ini sangat kompleks dan tidak bisa dijawab sendiri. Harus ada kerja sama dan gotong royong semua pihak,” pungkasnya.

