Image Slider

Filosofi Ar-Rahman dan Ar-Rahim Allah sebagai Pemilik Rahmat yang Sempurna

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Imam Ar-Razi memasukkan ayat الرحمن الرحيم pada ilmu ushul atau akidah karena baginya ilmu-ilmu manusia yang terkandung dalam Al-Qur’an itu terbagi menjadi tiga yaitu ilmu tentang Dzat (ذات), sifat (صفات), dan perbuatan (افعال) Allah, disebut ilmu ushul (akidah).

Kedua, ilmu tentang hukum-hukum Allah dan beban kewajiban-Nya, yang disebut ilmu Furu’ (fikih).

Ketiga, ilmu penyucian batin (تصفية الباطن), munculnya cahaya ruhani, dan penyingkapan rahasia ilahi (المكاشفة الإلهية) adalah disebut tasawuf/akhlak.

Maka firman-Nya, الحمد لله رب العالمين, الرحمن الرحيم، مالك يوم الدين adalah isyarat bagi ilmu ushul (akidah), karena yang menunjukkan adanya Allah adalah keberadaan makhluk-makhluk-Nya.

Maka ucapannya ‘رب العالمين’ (Tuhan semesta alam) menempati posisi isyarat bahwa tidak ada jalan untuk mengetahui adanya Allah kecuali dengan fakta bahwa Dia adalah Tuhan semesta alam.

Dan ucapannya ‘الحمد لله’ (segala puji bagi Allah) adalah isyarat bahwa Dia berhak mendapatkan pujian, dan Dia tidak berhak dipuji kecuali jika Dia mampu menciptakan segala yang mungkin terjadi dan mengetahui segala informasi ilmu.

Setelah itu, Dia menyifatinya dengan puncak kasih sayang yaitu dengan ‘الرحمن الرحيم’ (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), lalu Dia menyifatinya dengan kesempurnaan kekuasaan yaitu ucapannya ‘مالك يوم الدين’ (Pemilik hari pembalasan).

Dengan demikian, ayat tersebut menunjukkan pada perkara ilahiyyat (keesaan Allah, serta sifat-sifat-Nya). Kemudian lanjutnya bahwa ayat tersebut menandakan bahwa Dialah Tuhan yang mengendalikan segala keadaan dunia dan akhirat. (Imam Ar-Razi, at-Tafsiru al-Kabiru aw Mafaatih Al-Gaib Jilid 1, Kairo , Daar Al-Hadits, hal. 196-197).

Namun, kita tetap harus berpandangan bahwa adanya Allah menunjukkan adanya makhluk, bukan sebaliknya seperti yang disebutkan Imam Ar-Razi di atas.

Kemudian Allah tidak mempunyai kewajiban untuk menciptakan makhluk karena Allah tidak bergantung ada-Nya dengan adanya makhluk, tapi makhluk lah yang bergantung adanya dengan adanya Allah.

Sehingga Allah dipuji bukan hanya karena telah menciptakan alam semesta ini, tapi karena Dia berhak dipuji tanpa syarat apapun. Baik Dia dipuji karena telah menciptakan alam ini termasuk manusia ataupun tidak karena adanya makhluk adalah mungkin adanya dan juga mungkin tidak adanya (ممكن الوجود).

Makna الرحمن الرحيم Allah
Mengetahui makna Keduanya akan mengantarkan kita pada kesadaran akan rahmat Allah yang begitu luas di dunia dan penting sekali kita peroleh di akhirat. Dengan rahmat-Nya lah kehidupan ini menjadi indah dan dengan dengan rahmat-Nya lah kita menjadi bahagia.

Keduanya (الرحمن ‘ar-Rahman’ dan الرحيم ‘ar-Rahim) menurut Syeikh Muhammad al-Amien as-Syinqithi adalah dua sifat bagi Allah, dan termasuk dua nama dari Asmaul Husna (أسماء الحسنى) yang diambil dari kata الرحمة (kasih sayang) dengan bentuk مبالغة ‘ mubalaghah ‘ (intensitas/pernyataan yang dilebih-lebihkan/makna penguatan).

Ar-Rahman الرحمن memiliki makna intensitas yang lebih (lebih sangat) daripada الرحيم. Karena الرحمن adalah Pemilik rahmat yang mencakup seluruh makhluk di dunia, dan khusus bagi orang-orang beriman di akhirat.

Sedangkan الرحيم adalah Pemilik rahmat bagi orang-orang beriman pada hari kiamat. Ini dipahami adalah sebuah kesepakatan mayoritas ulama. Dalam tafsir sebagian salaf terdapat dalil yang menunjukkan hal tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir, dan dikuatkan oleh riwayat yang bersumber dari Nabi Isa As. sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dan yang lainnya, bahwasanya ia berkata, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya dan nabi kita:

الرحمن رحمن الدنيا والأخرة والرحيم رحيم الأخرة

Artinya: “Ar-Rahman adalah Yang Maha Pengasih di dunia dan akhirat, dan Ar-Rahim adalah Yang Maha Penyayang di akhirat.” (Syeikh Muhammad al-Amien as-Syinqithi, Tafsir Adhwaau Al bayani fi Iidhahi Al-Qur’ani bi Al-Qur’ani, Hal. 47-48).

Ar-Rahman الرحمن Allah tidak pilih kasih berlaku untuk semua makhluk. Sebagaimana yang disebutkan Syeikh Abdul Qadir Jailani bahwa الرحمن adalah Yang Maha Pengasih kepada seluruh makhluk-Nya, baik orang mukmin maupun kafir, yang berbuat baik maupun yang durhaka, dengan menciptakan dan memberi rezeki kepada mereka, Allah Ta’ala berfirman:

وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗ

Artinya: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf: 156).

Dan Ar-Rahim adalah Yang Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin secara khusus, dengan hidayah dan taufik di dunia, serta dengan surga dan melihat wajah-Nya (ru’yatullah) di akhirat, Allah Ta’ala berfirman:

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا

Artinya: “Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 53).

Ar-Rahman (الرحمن) adalah lafadznya khusus, sedangkan maknanya umum. Sementara Ar-Rahim (الرحيم) adalah lafadznya umum dan maknanya khusus. Ar-Rahman itu khusus lafadznya dalam artian tidak boleh seorang pun dinamakan dengannya selain Allah, dan umum maknanya dalam artian mencakup seluruh makhluk melalui penciptaan, rezeki, manfaat, dan penolakan bahaya.

Sementara Ar-Rahim itu umum lafadznya dalam artian makhluk sama-sama bisa dinamai dengannya, namun khusus maknanya dalam artian kembali kepada kelembutan dan taufik Allah (khusus bagi orang beriman). (Al-gunyah lithalibii Thariq alhaqq ‘Azza Wa Jall Juz 1, 1997 , Beirut, Daar Al-Kutub Al-Ilmiyah, hal. 223-224).

Menarik apa disebutkan oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani yang bisa dijadikan sebagai sebuah kesimpulan untuk membedakan antara makna الرحمن dan الرحيم . Beliau menyebutkan dalam Kitab Al-Gunyah sebagai berikut:

Ar-Rahman الرحمن (Yang Maha Pengasih) merahmati jiwa-jiwa, dan Ar-Rahim الرحيم (Yang Maha Penyayang) merahmati hati. Ar-Rahman dengan menghilangkan kesusahan, dan Ar-Rahim dengan mengampuni dosa-dosa.

Ar-Rahman dengan menjelaskan jalan kebenaran, dan Ar-Rahim dengan perlindungan dan taufik. Ar-Rahman dengan mengampuni keburukan (dosa), meski besar, dan Ar-Rahim dengan menerima ketaatan, meski tidak murni. Ar-Rahman dengan kemaslahatan kehidupan dunia mereka, Ar-Rahim dengan kemaslahatan akhirat mereka.

Ar-Rahman adalah Zat yang mengasihi dan mampu menghilangkan bahaya serta menolak kejahatan, Ar-Rahim memberi rezeki dan makan makhluk dan tidak diberi makan,

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Artinya: “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58).

Ar-Rahman kepada orang yang mengingkari-Nya, Ar-Rahim kepada orang yang mengesakan-Nya.
Ar-Rahman kepada orang yang kufur kepada-Nya, dan Ar-Rahim kepada orang yang bersyukur kepada-Nya.
Ar-Rahman kepada orang yang berkata (Allah punya) tandingan, dan Ar-Rahim kepada orang yang berkata (Allah) Esa. (Al-gunyah lithalibii Thariq alhaqq ‘Azza Wa Jall Juz 1, 1997 , Beirut, Daar Al-Kutub Al-Ilmiyah, hal. 225).

Interpretasi الرحمن الرحيم dalam Kehidupan Nyata
Pada ayat الحمد لله رب العالمين, Allah telah menyebutkan tentang penciptaan alam semesta dengan keteraturan yang hakiki, maka setelah itu, Allah menyebutkan bahwa Dia Maha Pengasih kepada seluruh makhluk-Nya yang ada di bumi ini baik yang beraga Islam maupun tidak. Baik yang durhaka maupun yang taat. Baik yang berkulit hitam maupun yang putih. Baik yang pendek maupun yang panjang.

Semuanya Allah kasihi tanpa pilih kasih. Mereka akan mendapatkan hasil sesuai apa yang telah mereka usahakan di dunia dan mereka akan mendapatkan pahala di akhirat sesuai terhadap amal perbuatan yang mereka lakukan di dunia. Itulah sifat الرحمن الرحمن (kasih sayang Allah) kepada manusia.

Rahmat Allah sangat luas dan semua ciptaan-Nya mendapatkannya. Maka kita tidak boleh patah hati atau mati semangat saat melihat mereka yang durhaka mendapatkan nikmat karunia-Nya di dunia.

Kita hanya perlu berusaha dan yang menentukan hasilnya ada Allah. Namun, umumnya usaha tidak pernah mengkhianati hasil atau hasil tidak pernah mengkhianati usaha.

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ

Artinya: “Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).

Secara tersirat dalam ayat ini kita bisa memahaminya bahwa kita akan mendapatkan hasil dari usaha yang kita lakukan. Kita akan mendapatkan ganjaran (pahala) sesuai dengan amal perbuatan yang kita lakukan.

Amal baik yang kita lakukan, berharap hanya mendapatkan keberkahan atau bertambahnya kebaikan (nikmat) di dunia. Berkah berupa nikmat itu bukan hanya berbentuk materi, tapi bisa berupa non materi, seperti nikmat sehat, nikmat berupa terhindar dari bahaya, tidak mendapatkan kesedihan, kesusahan dan lain-lain karena perbuatan baik yang kita lakukan akan dibalas berlipat-lipat ganda. Menolong dan meringankan beban orang lain akan kembali pada kita yang melakukannya. Ini sesuai dengan janji Allah:

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra: 7).

Jadi, dengan memahami الرحمن الرحيم Allah akan berdampak pada kelapangan hati kita dalam melihat kesuksesan yang didapat oleh mereka yang durhaka dan tidak menyembah-Nya karena itu Rahmat Allah sangat begitu luas. Semua makhluk mendapatkan-Nya tanpa terkecuali.

Ini akan berbeda dengan pemberian orang lain pada kita. Allah tidak menuntut hamba-Nya berupa ketaatan sebagai imbalan atas Rahmat yang diberikan di dunia, namun jika taat akan mendapatkan imbalannya di akhirat.

Sementara pemberian manusia dengan jabatan atau posisi apapun pasti ada yang diharapkannya baik itu tersirat maupun tersurat.

Menarik apa yang disebutkan oleh Imam Ar-Razi bahwa sesungguhnya Allah memberikan nikmat kepada manusia, Dia meminta untuk melakukan amal perbuatan yang dengannya manusia bisa mencapai kelayakan untuk mendapatkan nikmat akhirat.

Maka seolah-olah Allah memerintahkannya untuk mengusahakan kebahagiaan abadi bagi diri manusia sendiri. Sedangkan selain Allah (manusia), apabila memberikan suatu nikmat (pemberian), ia berharap manusia untuk melayaninya dan itu salah satu tujuannya.

Tidak diragukan lagi bahwa nikmat (pemberian) dari Allah adalah lebih utama. (Imam Ar-Razi, at-Tafsiru al-Kabiru aw Mafaatih Al-Gaib Jilid 1, Kairo, Daar Al-Hadits, hal. 188).

Jadi, nikmat yang diberikan Allah tidak menuntut adanya imbalan, sehingga orang yang melawan-Nya sekalipun akan mendapatkan bagiannya. Sementara yang tunduk dan patuh pada-Nya, imbalannya akan didapatkan baik di dunia berupa keberkahan hidup maupun di akhirat berupa ampunan dan surga-Nya.

Ada dua bentuk imbalan dari bantuan yang diberikan oleh manusia yaitu imbalan jasmaniah dan rohaniah . Hal ini dijelaskan dengan baik oleh Imam Ar-Razi bahwa imbalan jasmaniah seperti seseorang memberi uang dinar untuk mengambil (membeli) kain (karpas).

Kedua adalah imbalan rohaniah. Ini terbagi beberapa bagian, pertama, seseorang memberi harta untuk menuntut pelayanan (khidmat). Kedua, seseorang memberi harta untuk mengharapkan bantuan. Ketiga, memberi harta untuk mencari pujian yang indah. Keempat, memberi harta untuk mencari pahala yang besar. Kelima, memberi harta untuk menghilangkan cinta harta dari hati. Keenam, memberi harta untuk menghilangkan rasa pelit/kikir dari hatinya. Semua bagian ini adalah imbalan ruhani (spiritual).

Secara keseluruhan, setiap orang yang memberi, sesungguhnya ia memberi untuk mendapatkan sejenis kegembiraan (keuntungan) melalui pemberian tersebut. Maka itu pada hakikatnya adalah pertukaran (jual-beli), dan bukanlah kedermawanan, hibah, atau pemberian (yang tulus). Adapun Allah SWT, Dia Maha Sempurna dengan Dzat-Nya, maka mustahil Dia memberi untuk mendapatkan kesempurnaan.

Oleh karena itu, Yang Maha Dermawan Mutlak dan Yang Maha Pengasih Mutlak adalah Allah Ta’ala. (Imam Ar-Razi, at-Tafsiru al-Kabiru aw Mafaatih Al-Gaib Jilid 1, Kairo, Daar Al-Hadits, hal.187-188).

Dengan demikian, maka sulit rasanya menemukan pemberian yang benar-benar tulus (ikhlas) dalam memberi dan membantu walaupun bantuan itu berupa program yang datangnya dari penguasa atau pemimpin. Walaupun bantuan itu sangat bermanfaat bagi masyarakat apalagi yang tidak seperti program MBG misalnya yang banyak mendapatkan kritikan. Program yang diberikan oleh pemerintah minimal untuk mendapatkan pujian dan rasa kekaguman.

Dalam hal ini Imam Ar-Razi menyebutkan bahwa orang yang diberi nikmat (oleh makhluk) akan menjadi seperti budak bagi pemberi nikmat, padahal menghamba kepada Allah itu lebih utama daripada menghamba kepada selain-Nya. Kemudian penguasa atau pemimpin jika memberi nikmat, ia tidak mengetahui rincian detail keadaan kita.

Terkadang ia memberimu nikmat di saat kita tidak membutuhkannya, dan terkadang ia menghentikan nikmatnya (programnya) di saat kita sangat membutuhkannya.

Lagipula, ia tidak mampu memberi nikmat kepada kita setiap waktu dan tidak mampu memenuhi segala keinginan.

Sementara Allah, Dia Maha Mengetahui segala hal dan Maha Kuasa atas segala kemungkinan. Maka, jika kita membutuhkan sesuatu, Dia mengetahuinya, dan jika kita meminta sesuatu kepada-Nya, Dia mampu mewujudkannya, dan itulah yang terbaik. (Imam Ar-Razi, at-Tafsiru al-Kabiru aw Mafaatih Al-Gaib Jilid 1, hal.188-189).

Maka, dengan sifat الرحمن الرحيم Allah, rahmat-Nya yang paling sempurna, lebih utama dan lebih agung. Membacanya dalam surah Al-Fatihah menuntun kita mengenal rahmat Allah yang sangat luas.

Mengajarkan kita untuk selalu lapang dada dan menghindari sifat iri dengki dalam hati serta saling menghargai sesama makhluk-Nya.

Dengan الرحيم, Allah telah menanamkan benih cinta di hati hamba-Nya yang beriman sehingga ia saling mengasihi sesama mukminnya. Berpengaruh pada perilaku kita yang penuh cinta kasih pada sesama manusia dan makhluk Allah yang lain. Wallahu A’lam.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Santri Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga