Lenteng, NU Online Sumenep
Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Lenteng Timur kembali menggelar kajian bulanan Kitab Riyadhus Shalihin pada Ahad (17/5/2026) di Musalla Baytur Rahmah. Dalam kajian tersebut, jamaah diajak memperbanyak amal kebaikan seiring bertambahnya usia.
Kajian yang mengangkat tema Anjuran Memperbanyak Kebaikan di Akhir Usia itu disampaikan oleh Kiai Khairul Muttaqin selaku Katib Ranting NU setempat. Ia membuka pengajian dengan membacakan QS Fathir ayat 37 yang menggambarkan penyesalan penghuni neraka karena tidak memanfaatkan umur yang telah diberikan Allah SWT untuk beramal saleh.
Dalam penjelasannya, Kiai Khairul menerangkan bahwa para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai usia yang dimaksud dalam ayat tersebut. Ada yang menyebut usia 18 tahun, 40 tahun, hingga 60 tahun sebagai batas peringatan bagi manusia untuk lebih serius mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Seharusnya saat umur sudah 40 tahun ke atas, kita lebih memperbanyak kebaikan. Lebih-lebih yang masuk usia 60 tahun karena secara kebiasaan sudah lebih mendekati kuburan. Uban menjadi peringatan bahwa diri sudah tua dan mendekati ajal,” jelasnya.
Menurutnya, kebaikan tidak selalu identik dengan ibadah mahdhah semata. Aktivitas sehari-hari yang memberi manfaat kepada sesama juga termasuk bagian dari amal saleh.
Ia mencontohkan, bagi petani, menggarap sawah dapat menjadi ladang kebaikan. Begitu pula menjenguk tetangga sakit, melayat orang meninggal, atau menjaga tradisi sosial kemasyarakatan juga termasuk bentuk amal yang bernilai ibadah.
Pada pembahasan hadits pertama, Kiai Khairul menjelaskan bahwa Allah SWT memberi toleransi kepada manusia hingga usia 60 tahun. Setelah memasuki usia tersebut, seseorang semestinya lebih fokus mempersiapkan bekal akhirat dan tidak terlalu larut dalam hiruk-pikuk dunia. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa usia muda bukan alasan untuk menunda tobat.
“Karena ajal bukan soal umur. Kelapa itu tidak selalu menunggu tua untuk jatuh, kadang masih beluluk sudah jatuh,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa semakin bertambah usia, seseorang semestinya semakin dekat dengan masjid, musala, pengajian, dan Al-Qur’an sebagai tanda kesiapan menghadap Allah SWT.
Dalam kajian hadits berikutnya, ia mengangkat kisah Sayyidina Umar bin Khattab dan Ibnu Abbas terkait penafsiran Surah An-Nashr. Menurutnya, kualitas seseorang tidak ditentukan oleh usia, melainkan kedalaman ilmu dan pemahamannya terhadap agama.
Kiai Khairul juga menjelaskan zikir yang sering dibaca Rasulullah SAW saat rukuk dan sujud, yakni:
“Subhanaka rabbanaa wabihamdika allahumma ighfirlii.”
Menurut riwayat Sayyidah Aisyah RA, setelah turunnya Surah An-Nashr, Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan bacaan tersebut dalam salatnya, bahkan hingga menjelang wafat.
Menutup kajian, ia mengingatkan bahwa kondisi manusia saat dibangkitkan kelak sangat dipengaruhi kebiasaan hidupnya semasa di dunia. Karena itu, menurutnya, membiasakan zikir dan amal baik harus dilakukan sejak dini, bukan menunggu datangnya sakaratul maut.
“Ketika sakaratul maut bukan ujug-ujug bisa membaca kalimat tauhid seperti di film atau sinetron, tetapi harus dibiasakan sejak sekarang,” pungkasnya.

